Demigod

Demigod
Bab 60


__ADS_3

"Lio, kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi kepadamu?" kata Kevin.


"Ugghh. Aku tidak apa-apa" gumam Lio lalu berdiri dari tempatnya.


"Benarkah? Kau tadi menjerit kesakitan, apa kau juga terjangkit virus? jangan bilang kau juga akan berubah menjadi mayat hidup?"


"Ya, dan kau lah orang pertama yang akan aku makan"


Kevin pun berdiri menjauh dari Lio.


"Kalau begitu, sebaiknya kau pergi ke dokter tadi dan memintanya untuk mengobatimu"


"Dasar penakut" gumam Lio lalu pergi berjalan meninggalkan Kevin.


"Hey, kau harus mendapatkan obat mu dulu" teriak Kevin sambil mengikuti Lio di belakangnya.


Lio pun berjalan hendak menuju ke tempat yang sudah di siapkan oleh ketua Ca untuk beristirahat. Namun di perjalan, ia kembali mencium aroma iblis seperti tadi. Namun Lio enggan meladeninya.


"Huh, hari ini aku belum beristirahat. Tunggu setelah aku segar kembali maka aku akan mencari mu" gumam Lio sambil berjalan ke dalam sebuah kamarnya. "Huh, berada di tubuh manusia sangat melelahkan. Juga lemah sekali" lanjutnya lagi sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Apa si pak tua itu miskin sekali? Berani-beraninya memberikanku kamar jelek dan sempit ini" ucapnya lagi sambil mengedarkan pandangannya.


Tak berapa lama pintu kamar Lio pun terbuka dan Kevin masuk ke dalam sana.


"Huh, tidak bisakah kau menggangguku nanti saja? Aku sangat lelah" kata Lio kesal.


"Tidak bisa, bukankah tadi kamu bilang akan memberitahuku kenapa kamu bisa berada di sini?" ucap Kevin sambil berdiri di hadapan Lio. "Lagi pula aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini"


"Aneh apa? Biasa saja" gumam Lio dengan mata terpejam.


"Aneh saja, seperti perasaan merinding. Sepertinya aku juga pernah merasakan perasaan seperti itu, tapi di mana ya?" gumam Kevin sambil mengingat-ingat sesuatu. "Ah, saat melihat batu temuan mu waktu itu. Saat aku masuk ke dalam markas, batu itu membuatku merinding saat melihatnya"


"Batu apa?" tanya Lio dengan malas dengan mata yang masih terpejam.


"Batu warna ungu tua yang kau bawa setahun yang lalu. Kau menyimpannya di ruang bawah tanah markas kita. Apa kau lupa? Ah, iya. kau kan kehilangan ingatanmu"

__ADS_1


"Batu? Ungu?"


Tiba-tiba Lio teringat sesuatu dan segera duduk sambil menatap Kevin. Ia pun merogoh sakunya dan mengambil sesuatu dari sana.


"Apa batunya seperti ini?" kata Lio sambil menunjukkan batu yang ia peroleh dari ruang bawah tanah di kediaman wali kota.


Kevin pun mendekatkan wajahnya dan mengamati benda itu.


"Hem, ini ... Memang mirip, tapi tidak seperti yang ada di markas" kata Kevin.


"Apa maksudmu?"


"Batu yang ada di markas warnanya lebih terang daripada ini" tambah Kevin.


"Benarkah? Seperti apa bentuknya?"


"Bentuknya sama, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Lalu, di balik batu itu ada tulisan. Tapi aku tidak mengerti itu tulisan apa. Yang lebih penting lagi batu itu membuatku merinding. aku tidak merasakan apapun di batu yang kau pegang ini" lanjut Kevin.


"Jika ada yang berbeda, maka salah satun dari batu ini ada yang palsu. Tapi, sebenarnya apa maksud dari batu ungu? Apa benar iblis ini bagian dari ketujuh iblis terkuat? Lalu dari mana bocah ini mendapatkan batu seperti ini?"


"Ada apa? Apa ada sesuatu? Ayolah katakan kepadaku, waktu kau membawa batu itu, kau juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Apa batu ini juga berhubungan dengan iblis?" kata Kevin bersemangat sambil duduk di sebelah Lio.


"Kau ini, selalu saja. Apa-apa tidak memberitahuku" gumam Kevin kesal.


"Pergi dari sini. Lebih baik kau bersiap, besok pagi kita akan pergi ke markas"


"Benarkah? Oh baguslah. Baik, aku akan pergi lalu bersiap untuk perjalan besok"


Kevin pun segera beranjak pergi dari sana.


"Aku harus melihat batu itu terlebih dahulu, mungkin saja bisa memberiku sebuah petunjuk"


Malam itu, entah mengapa Lio merasakan kantuk yang amat sangat. Matanya terasa berat, ia pikir mungkin karena tubuh manusia terlalu lemah sehingga sangat mudah kelelahan.


"Tidak biasanya aku seperti ini" gumamnya lalu beberapa saat kemudian tertidur lelap.

__ADS_1


Tak berapa lama setelah itu, munculah sesosok bayangan dari balik jendela kaca kamar Lio. Bayangan itupun masuk ke dalam kamar Lio tanpa membuka jendelanya.


"Mari kita lihat, seberapa hebatnya manusia yang telah membunuh adikku'' ucapnya sambil berjalan mendekati Lio. "Huh, biasa-biasa saja. Tapi ... Hahahaha, aku merasa ada sesuatu yang spesial dari dalam tubuhnya. Oh manusia jadilah makananku, aku rasa kamu sangat lezat" ucapnya sambil mengusap pipi Lio dengan jari-jari runcingnya.


Saat itu juga, Lio langsung menangkap tangannya. "Berani-beraninya kau menyentuh wajahku dengan tangan kotor mu itu" kata Lio.


"Apa? Bagaimana bisa? Aku sudah membuatnya tertidur, kenapa dia masih terjaga?''


Lio pun bangun dari tempat tidurnya sambil menatap mahkluk yang ada di hadapannya itu. Matanya kabur, ia tidak bisa melihat jelas mahkluk seperti apa yang ada di hadapannya itu karena minim cahaya.


"Kamu pikir dengan jurus bodoh ini bisa mengelabui ku? Pantas saja aku merasa sangat mengantuk. Ternyata iblis bodoh sedang mengantarkan nyawanya sendiri kepadaku" kata Lio sambil mencengkeram tangan itu.


"Pffftt, hihihi, hahahaha" kelakarnya tertawa terbahak-bahak. "Kau ini lucu sekali"


Swooosshh


Tangan itupun tiba-tiba terlepas dari cengkeraman Lio seperti sebuah angin yang begitu cepat.


"Apa kau pikir bisa menangkap ku?" bisik nya di telinga Lio.


Lio pun segera memutar tubuhnya kebelakang hendak menyerang. Namun dia sudah menghilang seperti kabut.


"Kau tidak akan bisa menangkap ku. Hihihihi" ucapnya yang kini sudah berada di balik tubuh Lio.


"Heh, dasar iblis sialan" gumam Lio lalu mengeluarkan pedang kematian dan kini tubuhnya membara seperti kobaran api. "Mari, akan aku hanguskan tubuh mu menjadi abu"


Dengan adanya kobaran api naga, Lio bisa melihat benda di sekitarnya. Namun saat Lio hendak berbalik, iblis itu sudah menghilang.


"Hihihi, aku akan menemui mu kembali nanti, sekarang aku akan pergi dulu. Sungguh pertemuan yang menyenangkan" kata iblis itu yang hanya terdengar suaranya saja.


"Baguslah, kabur saja sana. Kalau tidak, aku akan menghajar mu sekarang juga" decih Lio.


Lio pun memadamkan apinya dan pedang kematian juga menghilang dari tangannya.


"Dasar pengecut, wajah pun tidak berani menunjukkannya. Cih, awas saja, jika bertemu kembali aku akan merobek mulutmu" gumam Lio.

__ADS_1


Ia pun duduk kembali di pinggir ranjang.


"Tunggu sebentar, bukankah suaranya tidak asing?" ucapnya sambil mengingat-ingat sesuatu. "Bukankah suara itu yang tadi berbicara di telingaku saat di rumah sakit? Dasar iblis jelek, aku akan membuat perhitungan denganmu karena telah membuatku sakit kepala gara-gara suara jelek mu itu"


__ADS_2