
"Kau tidak ikut kami Lio?" ucap Kevin yang kini sedang mengenakan jasnya.
"Haish, aku malas sekali dengan urusan kalian itu" kata Lio sambil bermalas-malasan di atas sofa.
"Siapa tau saja, ketika kau ikut maka ingatanmu akan pulih kembali. Kau bisa memancing ingatanmu, dan bisa kembali bekerja lagi" imbuh Deon.
"Hah, meskipun kalian paksa, aku juga tidak akan melakukannya. Lebih baik aku mencari iblis saja" gumam Lio lirih.
"Hah, sudahlah Deon. Susah sekali membujuk orang yang amnesia. Lebih baik kita berangkat saja sendiri"
"Aku juga tidak ikut"
"Hah? Kau bilang mau ikut"
"Siapa bilang aku mau ikut, aku juga tidak tertarik dengan urusanmu" kata Deon yang kini ikut duduk di samping Lio.
"Cih, kalian berdua sama saja ternyata. Sudahlah, aku akan pergi sendiri"
Swwoooss
Tiba-tiba Lio mencium aroma iblis yang samar dari kejauhan. Ia pun terperanjat dan segera berlari ke arah jendela lebar yang ada di sana.
Deon dan Kevin sama-sama memandangi Lio penuh dengan tanda tanya.
"Ada apa Lio?" tanya Kevin.
"Ssttt" desis Lio sambil mengarahkan jari telunjuk di bibirnya.
Ia pun menyibak gorden yang ada di sana dan memfokuskan pandangan dan pendengarannya.
"Apa ada yang aneh?" bisik Deon.
Kevin hanya mengedikkan bahunya tak tau.
Lio menerawang jauh melihat keluar jendela. Ada sesuatu yang kini menyita perhatiannya.
"Apa itu?'' gumamnya.
Deon dan Kevin segera menghampiri Lio yang berdiri di sana. Mereka mengarahkan pandangannya keluar sama seperti Lio.
"Ada apa? Apa ada sesuatu?" kata Kevin ikut penasaran.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Deon tak kalah penasaran juga.
"Ah, kau lihat di sana" ucap Lio sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Mereka pun mengikuti arah tangan Lio.
"Mana?"
"Apa?"
"Itu ..."
Kevin dan Deon fokus melihat ke sana tapi tidak menemukan apapun.
"Kami tidak mengerti apa maksudmu Lio, kau sedang melihat apa?" kata Deon.
__ADS_1
"Haish, susah sekali bicara dengan manusia bodoh seperti kalian" gumam Lio.
Plak
Satu pukulan mendarat di kepala Lio bagian belakang.
"Kau yang bodoh. Malah mengatai kami manusia bodoh. Kau sendiri seperti orang gila" ucap Kevin kesal.
"Beraninya kau memukulku"
"Memangnya kenapa? Aku bahkan berani menggelitikibmu" kata Kevin sambil berkacak pinggang.
"Ck, sudahlah tidak ada gunanya berdebat denganmu" kata Lio sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela lagi. "Apa di sini ada tempat yang lebih tinggi? Seperti gedung itu" lanjutnya sambil menunjuk sebuah menara.
"Itu bukan gedung bodoh itu menara. Itu saja kau tidak tau" decih Kevin.
"Terserah. Aku hanya perlu ke tempat setinggi itu"
"Untuk apa?" kata Deon penasaran.
"Melihat sesuatu"
"Di sini tidak ada, dan menara yang kau maksud itu jaraknya lumayan jauh dari sini. Sekarang sudah malam, besok saja suruh anak buah kita untuk mengantar mu ke sana" kata Kevin sambil beranjak dari tempatnya.
"Aku butuh sekarang"
"Memangnya ada apa Lio? Kenapa harus sekarang?" kata Deon yang sedari tadi tak penasaran.
"Beberapa saat yang lalu aku mencium aura iblis yang sangat kuat. Tapi aura itu menyebar sangat luas di daerah yang lumayan jauh dari tempat ini. Aku harus bisa melihatnya, dengan begitu aku bisa melacak keberadaannya" jelas Lio.
"Cih, kau bilang mental mu sekuat baja. Ternyata kau masih takut rupanya?" ejek Deon.
"Heh, kau bisa bilang begitu karena kau tidak tau iblis itu seperti apa. Jika kau tau, aku yakin kau pasti akan kencing di celana" balas Kevin.
"Dasar penakut"
"Aku tidak takut, tapi aku takut mati. Kau ini"
"Haish, jangan ribut di depanku dasar manusia-manusia cerewet. Cepat antar aku ke gedung itu" kata Lio sambil menghentakkan lengannya.
"Sudah malam, cuaca juga tidak bagus. Besok saja, besok pagi minta Yuto mengantar mu"
"Cih, tidak mau ya sudah. Aku bisa pergi sendiri. Lebih baik juga tidak ada manusia. Aku bisa terbang sendiri ke sana" gerutu Lio sambil berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Hey, tunggu"
Kevin pun berlari menyusul Lio.
"Benarkah ada iblis? Aku malas sekali ikut mereka. Tapi aku juga penasaran"
Deon pun beranjak dari tempatnya dan mengikuti mereka pergi.
Mau tak mau karena juga penasaran, Kevin pun memutuskan untuk mengantar Lio pergi ke menara yang ia maksudkan tadi. Sebenarnya Lio menolak, karena dia bisa terbang sana. Namun ia juga merasa tubuhnya sangat lemah sekarang. Setelah kembali dari kota Sura dan ingatan Lio yang asli kembali ke tubuhnya. Lio merasa tubuhnya menjadi sedikit lemah dari biasanya. Ia pikir memang tubuh manusia selemah itu, apalagi sejak dari kota Sura Lio tidak beristirahat sama sekali.
Mereka bertiga pun menaiki mobil untuk menuju ke menara itu. Sesampainya di sana, Lio segera turun dari mobil.
"Hey, jangan bilang kau mau memanjat menara itu" kata Kevin sambil menjulurkan kepalanya dari kaca mobil.
__ADS_1
"Kalian jangan turun dari mobil, dan lagi. Jangan melihat ke arahku" kata Lio.
"Kenapa?" ucap Deon yang kini duduk di samping Kevin.
"Apa kau yakin? Kau akan pergi sendirian?" kata Kevin memastikan kembali.
"Hem, aku hanya ingin melihat saja. Setelah itu aku akan kembali" kata Lio sambil mendongakkan kepalanya melihat ke atas menara itu.
"Baiklah, kami akan menunggumu di sini" ucap Kevin.
Kevin segera menaikkan kaca mobilnya dan menghadap ke depan berpaling dari Lio.
"Ada apa?'' kata Deon penasaran hendak melihat Lio yang ada di luar.
"Singkirkan pandangan mu darinya" kata Kevin sambil mengarahkan wajah Deon melihat ke samping. "Jika Lio bilang jangan melihatnya maka jangan di lihat. Gitu saja kok repot"
"Heh, sejak kapan kau menurut kepada kakakmu itu? Dasar"
"Sejak dia lahir. Sudahlah jangan lihat dia. Kita tunggu saja sampai dia kembali ke sini"
"Memangnya kenapa kalau kita melihatnya?" kata Deon.
"Tidak tau, tapi sebaiknya kita turuti saja apa katanya"
"Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan"
Deon segera berbalik melihat ke arah tempat Lio tadi.
"Sudah ku bilang jangan lihat" kata Kevin sambil menutup mata Deon.
Deon menepis tang Kevin dari wajahnya dan melihat dengan ekspresi bingung.
"Kemana perginya dia?" gumam Deon.
"Hah?"
Kevin pun ikut berbalik ke belakang melihat Lio
"Lah? Dia sudah Pergi?"
"Kemana perginya dia? Kenapa cepat sekali?"
Deon membuka sabuk pengamannya hendak keluar dari mobil.
"Kau mau kemana?"
"Aku penasaran, aku mau melihat Lio"
"Kau ini bodoh atau tolol? Tetap di tempatmu saja. Jangan kemana-mana kalau Lio belum kembali. Mungkin saja di luar ada iblis yang mengintai kita"
"Kau percaya padanya?"
"Tentu saja"
Sedangkan kini Lio sudah berada di puncak menara itu dan mengedarkan pandangannya untuk melacak keberadaan iblis yang ia cium auranya tadi.
"Hum, aura yang sangat kuat. Sayang sekali, dia jauh dari tempat ini. Hem, apa aku harus pergi menangkap mu di sana? Sepertinya iya, kau tidak mungkin datang sendiri kepadaku"
__ADS_1