Demigod

Demigod
Bab 53


__ADS_3

Lantai tempat mereka pun merosok jatuh ke bawah.


Bruuuughhh


Lantai itupun jatuh di sebuah tempat yang begitu gelap.


"Uhuk uhuk"


mereka semua pun tergeletak di kelilingi debu-debu yang sangat pekat.


"Nada, Nada" gumam Kenan sambil tertatih-tatih mencari Nada.


Terlihat Nada dan Lio pun saling berpelukan tergeletak di bawah. Saat lantai itu merosok jatuh ke bawah, Lio melindungi Nada dengan tubuhnya.


"Uhuk uhuk. Lio ... Lio kamu tidak apa-apa?" gumamnya sambil mencoba melihat ke arah Lio.


"Ugghh. Tidak apa-apa"


Mereka pun mencoba bangun. Namun para anggota D'hunter lainnya terlihat sedikit mengalami cidera.


"Nada. Kamu terluka?" ucap Kenan sambil membolak-balikkan tubuh Nada.


"Aku baik-baik saja"


Lio pun mengedarkan pandangannya melihat tempat itu. Begitu gelap, yang ada hanya cahaya dari atas mereka jatuh tadi.


"Hehe, ternyata kau bersembunyi di sini" gumam Lio lirih sambil terkekeh.


"Apa dia sudah gila?"


"Astaga, tempat apa ini?"


"Bagaimana kita akan keluar dari sini?"


"Pak tua itu sengaja membawa kita ke sini untuk di jadikan makanan kepada atasannya" ucap Lio.


"Apa? Makanan?"


"Hem, aku bisa mencium iblis itu di sekitar sini"


Nada pun menoleh ke sekeliling, namun tidak ada hawa iblis yang dapat ia lihat.


"Kenapa aku tidak melihat apapun?" gumamnya lirih.


"Tunggu apalagi. Ayo kita cari dia" kata Ardan penuh semangat.


"Kau gila? Lihatlah, tempat ini sangat gelap. Siapa tau yang kita pijak nanti bukan tanah" ucap Luna.


Viro pun menyalakan senter kecil dari sakunya.


"Sejak kapan kau punya benda itu?" kata Ardan.


"Sejak bayi" ucapnya acuh.


Viro pun mengarahkan senternya itu ke area yang terlihat gelap. Tidak ada sesuatu yang aneh, hanya tanah biasa.


"Sebenarnya tempat apa ini?" gumam Nada.


"Saat kita masuk kalian juga akan tau sendiri"


Lio pun memijakkan kakinya berada di depan mereka. Para anggota D'hunter lainnya mengikutinya.

__ADS_1


"Aku sarankan, lebih baik kalian menggunakan penutup hidung sekarang" ucap Lio yang sudah menutup hidungnya dengan kain.


Semua anggota D'hunter pun mengikuti instruksi dari Lio.


"Di sini sangat gelap, aku tidak bisa melihat apapun" kata Luna.


"Lebih baik kita bergandengan tangan saja agar tidak berpencar" tambah Viro.


"Dengan mu? Maaf aku tidak mau" balas Ardan.


"Lio, apa ku tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk menerangi jalan?" bisik Nada.


"Ada aku di depan sudah menjadi penuntun jalan untuk kalian. Lagipula, sebentar lagi kita akan sampai"


Benar saja, secercah cahaya pun terlihat di depan mereka namun masih samar.


Mereka pun bisa melihat tempat yang mereka pijaki adalah rerumputan meskipun masih samar.


"Padang rumput di bawah rumah wali kota? Dia memang benar-benar berniat sekali bersekutu dengan iblis"


"Apa kalian tidak merasa aneh?" tanya Luna.


"Apa yang aneh?"


"Lihatlah ke sekeliling"


Mereka pun mengedarkan pandangannya. Samar-samar terlihat kantung yang menggantung di sana. Setelah di amati, tempat menggantung tersebut adalah sebuah pohon.


"Jadi, rumah walikota ini berada di atas pohon? Aneh sekali" gumam Viro. "Lalu, kantung apa itu?" lanjutnya lalu mengarahkan senter ke salah satu kantung tersebut. "Aakkkhhh" teriaknya.


"Ada apa?"


"Kantung itu bergerak"


"Ini ... Bukankah ini mirip dengan kepompong?"


"Hem, mereka sedang bersiap untuk menjadi kupu-kupu" kata Lio.


"Kupu-kupu? Sebanyak ini?"


"Ya, satu kupu-kupu saja sudah menyusahkan bagaimana kalau ratusan?" decih Lio kesal.


"Bau apa ini?"


Hidung mereka pun mulai mencium sesuatu yang busuk, namun entah dari mana.


"Ugghh. Ternyata seperti ini bau mahkluk itu sebenarnya" gumam Lio.


Lio mencium aroma dari iblis itu yang begitu menyengat, namun yang lain mencium bau bangkai dari manusia yang menumpuk di hadapannya.


"Astaga" gumam mereka saat melihat setumpuk manusia di bawah kaki pohon yang sangat besar.


"Mereka para warga Regoon"


"Juga pelayan rumah ini" imbuh Viro.


Namun dari setumpuk mayat itu, ada beberapa mayat hidup yang sedang memakan para bangkai itu. Saat mereka tepat berada di sana. Para mayat hidup itu berdiri dan menoleh ke arah mereka.


"Uggh, menjijikkan"


"Hem, jadi dia membuat para mayat hidup ini untuk mengisi perutnya? Lalu setelah itu dia bisa membangkitkan para kepompong itu?" kata Kenan.

__ADS_1


"Benar sekali. Dengan begitu, dia bisa menguasai dunia bersama manusia bodoh yang di sebut wali kota itu" ucap Lio.


"Mengerikan. Mereka adalah keluarga dari wali kota sendiri. Dia, adalah anak wali kota yang pertama kali menyebarkan virus di rumah makan. Sedangkan dia adalah istrinya" kata Viro menunjuk para mayat hidup yang berjalan ke arah mereka.


"Kejam sekali, jadi dia menggunakan keluarganya demi kepentingan dia sendiri. Orang jahat"


"Yang lebih penting lagi, sebaiknya kalian berhati-hati" kata Lio mengingatkan.


Semua anggota D'hunter pun terdiam. Lalu, terdengar suara gemersak dari samping mereka. Saat menoleh, puluhan ulat sedang mengepung mereka.


"Aakkkhhh. Aku jijik dengan ulat" teriak Luna tanpa sadar menembakan pistolnya karena ketakutan.


Dor dor dor


Para mayat hidup itupun berlari ke arah mereka.


"Ihh, menjijikkan. Mulutmu masih bau bangkai" kata Viro sambil menembaki para mayat hidup itu.


Namun anehnya, saat terkena tembakan mayat-mayat itu tidak bisa tumbang seperti biasanya. Bahkan peluru mereka terasa seperti batu kerikil yang menimpuk mereka.


"Astaga, tidak mati? Lalu bagaimana ini?"


"Kalau begitu ... Patahkan lehernya" kata Lio singkat.


"Apa? Jadi kita harus menyerang dengan jarak dekat?" kata Viro merasa enggan.


Lio pun berlari ke arah mayat-mayat hidup itu.


"Karena mereka bukan hanya mayat hidup biasa. Mereka masih bisa menjadi manusia" ucap Lio lalu melompat naik ke atas salah satu mayat hidup itu.


Nampak mayat hidup itu meraung dan meronta hendak menurunkan Lio dari tubuhnya.


"Jika kita patahkan lehernya" kata Lio sambil memegangi dagu mayat hidup itu. "Maka dia akan mati"


Kraakkk


Satu kepala pun lepas dari tubuhnya. Lio pun melompat ke tanah dan melemparkan kepala mayat hidup itu ke arah para anggota D'hunter.


"Lihat. Dia tidak akan memburu mu lagi" ucap Lio dengan santainya.


"Cih, kalau begitu lakukan saja. Aku juga tidak mau menjadi santapan mereka" kata Viro lalu berlari menyerang pari mayat itu.


Terlihat Viro dan Kenan mengeluarkan belati di sakunya untuk memudahkan mereka menyerang para mayat itu.


Viro pun meniru adegan saat Lio menaiki mayat tadi.


"Uhu, ternyata tidak mudah berada di atas sini. Tenagamu cukup kuat juga bos. Tapi setidaknya aku tidak akan melihat wajah jelek mu dari atas sini" kata Viro lalu menancapkan belati di leher mayat hidup itu.


Krakk


Satu kepala pun berhasil lepas.


"Yuuhuu, aku juga bisa- eh?" gumamnya saat ikut terjatuh bersama mayat hidup itu.


"Lio ... Jika mereka bisa hidup kembali seperti manusia. Bukankah sama saja kita membunuh manusia? Akan lebih baik jika kita melumpuhkan mereka dan mencari penawarnya" kata Nada.


"Kau naif sekali" gumam Lio sambil tersenyum meremehkan ke arah Nada. "Lihat kesekiling mu. Medan perang yang sangat sengit. Kau mau melindungi mereka? Mau melumpuhkan mereka tanpa membunuh? Sebesar apa kekuatanmu?"


Swwoooss


Lio pun membakar sebuah ulat yang berada di belakang Nada. Nada begitu terkejut pasalnya dia tidak tau ada ulat di belakangnya.

__ADS_1


"Saat berperang, membunuh untuk melindungi diri sendiri adalah hal yang harus dilakukan. Sedangkan melumpuhkan musuh, kau harus memiliki kekuatan lebih. Karena hal itu sulit untuk di lakukan" kata Lio mencoba membantu yang lain untuk membakar ulat-ulat besar itu.


"Daripada memikirkan mayat hidup itu, lebih baik pikirkan saja hidupmu sendiri. Dan juga teman-teman mu"


__ADS_2