Demigod

Demigod
Bab 25


__ADS_3

Lio dan Nada kini duduk di sebuah restoran yang ada di dalam mall. Terlihat Nada sedang mengamati seseorang dengan teropong kecil di tanganannya.


"Huh, seharusnya aku tidak mendengarkan manusia ini" gerutu Lio dengan wajah terlihat malas.


"Haish, lalu kau mau kesana dan menangkap dia? Aku jamin kau pasti tidak akan berhasil. Tunggu saat dia berada di tempat sepi baru kita menangkapnya" kata Nada lalu menyeruput jus jeruk miliknya.


"Haish. Andai saja tidak ada manusia. Aku pasti dengan mudah menangkapanya denagan kekuatanku. Manusia memang menyebalkan" gerutunya.


"Oh ya?" Nada pun memajukan wajahnya dengan semangat. "Kau berbicara seoalah-olah kau benar-benar bukan manusia"


"Memang aku bukan manusia"


Nada menyipitkan matanya. "Hemmm ... Kata-katamu itu tidak bisa di percaya. Tapi, kau bisa membunuh iblis itu memang benar-benar luar biasa"


"Terserah kau kalau tidak percaya" kata Lio sambil menyilangkan kedua tangannya dan menoleh ke samping. "Lagi pula memang tidak ada manusia yang percaya" imbuhnya dengan lirih.


"Kalau begitu, apa kau punya kekuatan khusuh?" tanya Nada penasaran.


"Cih, kalau tidak percaya kenapa kau masih tanya?"


"Hey ... Kau tidak bisa menjawabnya. Berati kau bohong. Kalau bilang kau gila, itu tidak mungkin. Kau bahkan bisa mengalahkan iblis"


"Aku memang tidak gila. Cih, manusia ini" kata Lio kesal.


"Jika kau dewa pasti kau punya kekautan khusus. Apakah kekuatan khusus mu itu untuk membunuh iblis?"


"Ya, aku punya pedang yang bisa membunuh mereka. Apa kau puas?'' kata Lio setengah berteriak.


Nada memandang Lio dengan mata membulat. "Benarkah? Jadi pedang mu sehebat itu? Apa waktu itu kau menghabisi iblis laba-laba itu juga dengan pedang milikmu?"


"Tentu saja. Kau pikir dengan apa aku membelah tubuh iblis itu"


"Hebat. Tapi kenapa aku tidak melihat kau membawa pedang itu?" tanya Nada semakin penasaran.


"Tentu saja karena kau tidak bisa melihatnya. Pedang itu hanya akan keluar jika aku memanggilnya"


"Benarkah? Kalau begitu, tunjukkan kepadaku pedang itu"


Lio membuang mukanya. "Tidak bisa"


"Kenapa?" kata Nada sambil melipat kedua tagannya di atas meja.


"Karena kekuatanku tidak bisa di keluarkan saat ada manusia"


"Benarkah?'


"Hemmm ... Kekuatanku akan hilang dengan sendirinya jika berdekatan dengan manusia"


Nada pun terdiam seolah memikirkan sesuatu.


"Jadi begitu ..." ucap nada lirih.


"Apa?''


"Jadi itu sebabnya kau terjatuh di parkiran malam itu" kata Nada dengan gamblangnya.


"Apa? Jadi kau melihatnya?" kata Lio mulai penasaran.


Nada mengangguk mengiyakan. "Tidak hanya aku. Tiara dan Viro juga melihatmu saat itu. Kami melihat kau tiba-tiba terjatuh. Dan lagi, saat menyerang ular itu kau juga tiba-tiba terjatuh"


Lio terdiam sejenak.


"Apakah saat melawan ular itu kau juga menggunakan kekuatanmu itu?"

__ADS_1


"Hemm" Lio mengangguk.


"Ah jadi begitu"


"Kau percaya?" tanya lio penasaran. Karena selama ini saat dia bilang bahwa dia adalah dewa yang sedang memburu iblis. Tidak ada satu manusia pun yang percaya ataupun memiliki reaksi seperti Nada.


"Tidak" kata Nada yang membuat wajah lio berubah masam.


"Sudah kuduga"


"Aku akan percaya jika aku melihat kekuatanmu" lanjut Nada sambil kembali meminum jusnya.


"Cih. tidak akan mungkin" gumam Lio.


"Eh, cepat" Nada berdiri dari tempatnya. "Dia sudah keluar dari mall ini"


Nada segera berlari mengejar wanita itu. Begitupun dengan Lio.


Wanita itu pergi menggunakan taksi.


"Huh, taksi" teriak Nada sambil melambaikan tangannya. "Cepat masuk"


Nada masuk ke dalam mobil dan Lio masih terlihat bingung. Ia mengingat-ingat cara Nada membuka pintu taksi itu.


"Kau benar-benar tidak tau cara masuk ke dalam mobil?" tanya Nada sesaat setelah Lio masuk.


"Ini kali kedua ku menaiki benda ini"


"Ch. Mana mungkin. Aku lihat mobil di rumahmu banyak sekali" kata Nada tak percaya. "Jalan pak. Ikuti taksi yang baru saja pergi"


"Mana ku tau kalau manusia ini sangat menyukai mobil" gumam Lio.


Beberapa menit kemudian taksi yang di ikuti Lio dan Nada berhenti di sebuah rumah susun.


Mereka berdua segera turun dan mengikuti wanita itu. Dia terlihat masuk ke sebuah rumah yang ada di sana. Namun beberapa menit kemudian keluar.


Dengan cepat Lio menghampiri wanita itu. Saat wanita itu menutup pintu, ia menoleh ke arah Lio yang berjalan menghampirinya.


Namun beberapa saat kemudian saat meihat ke arah Nada, matanya membulat dan ketakutan.


Lio berhenti tepat di hadapannya. Namun wanita itu terus memandangi Nada dengan ketakutan.


"Apa dia takut padanya?" batin Lio sambil melirik Nada yang kini berjalan di belakangnya.


Semakin Nada mendekat, dia semakin ketakutan. Wanita itupun segera berlari dari sana. Lio hendak menangkapnya namun tidak sempat.


"Lio. Hawa di tubuhnya terlihat lebih pekat" teriak Nada lalu mengejar wanita tersebut yang berlari menaiki tangga menuju ke atap.


"Sial" gumam Lio lalu menjentikkan jarinya memunculkan kunang. Ia berlari mengejar wanita itu.


"Ada apa tuan?"


"Lihat wanita itu. Apa yang sedang dia pikirkan?"


"Maksudmu yang mana? Gadis itu atau wanita iblis itu?"


"Tentu saja wanita itu bodoh" kata Lio kesal sambil berlari menaiki tangga.


"Aku tidak sempat melihat, namun aku bisa merasakan hawa iblis yang sangat kuat" jelas Kunang. "Tunggu! Dia berencana membawa Nada keatap dan membunuhnya"


"Heh. Itu sebabnya kenapa dia berlari ke atas bukannya ke bawah. Aku tidak akan kehilangan jejak lagi. Aku harus melacak iblis apa yang sedang bersamanya"


Di atap gedung itu, Nada terlihat mendekati wanita itu yang kini sedang ketakuatan.

__ADS_1


"Pergi kau. Jangan mendekat" kata wanita itu berjalan mundur.


"Tenanglah nyonya. Aku hanya ingin berbicara dengan mu"


"Berbicara apa? Aku tidak percaya dengan para anggota D'hunter. Kalian hanya ingin membunuh ku" Wanita itupun sudah berada di ujung.


"Tidak. Aku tidak ingin membunuh mu. Aku hanya ingin bertanya sesuatu" kata Nada menenangkan. "Apa sebegitu takutnya dia dengan anggota D'hunter. Benar saja, selama ini kami memang sudah banyak membunuh manusia"


Perlahan Nada melangkahkan kakinya. Wanita itu pun tersenyum penuh kemenangnan.


"Sebelum kau membunuhku. Aku lah yang akan membunuhmu'' ucapnya sambi tersenyum mengerikan.


"Apa maksudnya?"


Wanita itupun mengarahkan cincin di jarinya. Keluarlah sebuah cahaya hitam dari cincin itu.


Cahaya itu melesat menghampiri Nada dan mengikat tubuhnya.


"Uggghhhh"


Nada merasa kesakitan dan sesak karenanya. Cahaya hitam itu seperti ingin meremas tubuhnya menjadi abu.


"Le ... pas ... kan ... aku"


"Hahahaha. Tidak akan. Dengan kekuatan dari tuanku, aku pasti bisa membunuh para anggota D'hunter. Heh, tidak sia-sia aku mengorbankan jiwa anak ku untuk kekuatan ini"


"Apa yang kau lakukan?" kata Lio yang kini sedang bediri di belakang Nada dengan tenang.


Wanita itu segera mengarahkan tangannya ke samping. seperti menyeret Nada. Tubuh Nada kini melayang di udara di samping gedung itu.


Di bawah kaki Nada sudah tidak ada pijakkan lagi. Yang ada hanya pemandangan lantai pertama yang ia datangi tadi.


"Jangan medekat, atau aku akan melepaskan gadis ini. Dan dia akan jatuh ke bawah"


Lio hanya memandang wanita itu malas. Tidak ada yang perlu dia takutkan dari wanita itu, pikirnya.


"Terserah saja" kata Lio dengan santainya.


Wanita itu tercengang tak percaya. Dia berpikir bisa mengancam Lio dengan menyandera Nada, namun tak berhasil.


"Lio ... To ... Long ... Aku ..." gumam Nada yang merasa sesak karena bayangan hitam tadi seperti melilit lehernya.


Lio hanya memandang Nada sekilas. Namun, tiba-tiba ia terbelalak kaget. Melihat mata Nada yang penuh dengan rasa putus asa telah mengingatkannya dengan suatu hal.


Lio kembali memandang ke arah Nada.


"Lio ..."


"Lodra ..."


Wajah Lio yang tadinya tenang, kini berubah sedih dan cemas. Dia teringat sesuatu saat memandang wajah Nada.


"Baiklah, kalau kau tidak peduli. Membunuh satu anggota D'hunter juga tidak ada ruginya"


Wanita itupun melepaskan Nada. Tubuh Nada terjun bebas dari sana.


Tanpa pikir panjang, dengan cepat lio berlari dan melompat dari gedung itu.


Ia segera menangkap tubuh Nada yang terjun bebas di udara.


"Lio ..." gumam Nada setengah sadar. Samar terlihat, mata Lio berubah menjadi biru dengan kilatan cahaya di sudutnya. "Kau ... " Nada hendak menyentuh pipi Lio, namun dia kehilangan kesadarannya.


Lio memeluk tubuh Nada erat-erat. Tanpa lio sadari saat itu dia bisa menggunakan kekuatannya. Dia pun mendaratkan Nada dengan pelan menggunakan kekuatan spiritulnya.

__ADS_1


__ADS_2