
"Sebelah sini" kata Nada sambil menunjuk jalan kecil menuju hutan.
"Apa kau yakin? Mana ada iblis yang akan datang ke sana. Di sana tidak ada manusia sama sekali. Lagipula itu hanya hutan kecil" protes Brian.
Sedangkan Lio mengikuti Nada tanpa banyak bicara. "Cukup arahkan saja. Jangan pedulikan yang lainya"
Nada pun mengangguk lalu meneruskan perjalanannya.
"Kenapa kalian semua tak mendengarkan ku"
"Sudahlah, ikuti saja mereka. Kenapa akhir-akhir ini kau banyak bicara sekali sih" gumam Kenan.
Mereka semua pergi mengikuti Nada dan juga Lio yang sudah berjalan di depan.
"Tuan, apa kau lihat benda di depan itu? Benda itu terlihat berkilau" kata kunang sambil menunjuk jalan curam menuju ke sungai kecil.
"Entahlah, aku akan melihatnya"
"Kau berbicara dengan siapa?" ucap Nada.
"Bukan urusanmu" Lio pun segera melangkahkan kakinya mendahului Nada.
"Eh, tunggu aku"
"Apa mereka menemukan sesuatu?"
"Entahlah, aku rasa pria itu cukup mengerti tentang seluk-beluk iblis di dunia ini. Mungkin kita bisa mempercayainya" lanjut Tiara lalu bergegas mengikuti Lio dan Nada.
"Apa hebatnya dia?" gumam Brian.
Setelah berada di tepi sungai, Lio pun menghentikan langkahnya sambil mengedarkan pandangannya.
"Kau menemukan sesuatu? Aku lihat ada hawa iblis di sini" ucap Nada.
"Hemmm ... Lihatlah"
Nada pun mengarahkan senternya ke arah yang di maksud oleh Lio.
"Benda apa ini?" ucapnya sambil berjalan mendekat. Nada pun mengambil benda putih bening tersebut. "Panjang sekali, siapa yang menaruh kain di sini?"
"Kau pikir itu kain?" ucap Lio meremehkan.
"Kalau bukan kain memangnya apa? Plastik? Ya, dari tekstur kasarnya ini seperti plastik" kata nada sambil membelai benda itu.
"Kau ini, kenapa bodoh sekali" Lio pun merebut senter di tangan Nada. "Lihatlah baik-baik, benda apa ini" Lio pun mengarahkan senternya ke benda itu. Benda itu seperti memancarkan kilaunya setelah bertemu dengan cahaya dari senter.
"Apa ini?" gumam Nada saat Lio mengarahkan senter tersebut mengikuti panjang benda yang mirip dengan gulungan plastik tersebut. "Jangan-jangan ..."
"Ya, ini adalah sisik ular"
__ADS_1
"Wuaaahhh" teriak Nada sambil melemparkan benda yang ia sebut plastik tadi ke tanah. "Aakkkhhh, menjijikkan" lanjutnya sambil mengibaskan tangannya.
Lio pun mendekati sisik ular tersebut.
"Apa yang kau dapat Kunang?"
"Tuan, di lihat dari bekas yang ia tinggalkan. Paling tidak dia berada di sini tiga hari yang lalu. Sepertinya dia memanfaatkan sungai ini untuk menghilangkan jejak"
"Hemmm ... Jadi setelah memakan manusia-manusia itu dia berganti kulit di sini" Lio pun mengalihkan pandangannya ke arah sungai. "Kemana dia pergi?"
"Ada apa? Kenapa kau berbicara sendiri?" ucap Nada sambil berjalan mendekat.
"Kalian ... Apa itu?" ucap Viro yang baru saja datang.
"Astaga ... Bukankah itu seperti kulit ular? Besar sekali" gumam Kenan. "Huhh, mengerikan" lanjutnya sambil bergidik ngeri.
"Jangan-jangan ular ini yang memakan manusia tadi. Hiiii" ucap Viro.
"Huh, hanya ini yang kalian dapat. Buang-buang waktu saja" gerutu Brian.
"Setidaknya kita tau, kenapa ada bangkai manusia di dekat markas kita. Huh, kita sangat beruntung. Untung saja ular ini tidak memakan kita" lanjut Viro.
"Lio, aku sudah tidak bisa menemukan hawa iblis di sini. Perlukah kita membawa sisik ini kembali untuk di periksa?" ucap Nada.
"Membawa kulit ini kembali, itu cukup merepotkan" imbuh Tiara. "Bawa sedikit saja"
"Kenapa mereka malah tidak bertanya kepada ku? Malah meminta pendapat si pria asing itu" batin Brian.
"Ular sebesar ini, pasti masih berada di sekitar sini. Dia tidak akan bisa kabur jauh dari sini. Kita bisa melacaknya menggunakan kemampuan Nada" lanjut Tiara.
"Aku sudah tidak bisa melihat hawa iblis di sekitar sini"
"Dia sudah pergi. Jauh sebelum kita datang kemari" lanjut Lio sambil mengarahkan pandangannya ke sungai.
"Tidak mungkin ... Maksudmu dia sudah masuk ke dalam sungai?"
"Pantas saja aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa"
Lio dan para D'hunter pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing malam itu. Saat meninggalkan tempat, Nada masih berkecimpung dengan pikirannya sendiri. Jika ular sebesar itu menyerang manusia pasti sangat mengerikan, pikirannya.
Satu hari pun berlalu, terlihat Lio sedang bersantai di kolam renang besar di rumahnya. Sambil berendam, ia menikmati segelas cocktail yang sudah di siapkan pelayanannya.
"Huh, kenapa pria ini begitu memiliki kehidupan yang baik? Apa yang ia kerjakan sebelumnya?" gumamnya sambil memutar-mutar gelas yang ada di tangannya. "Hemmm ... Ini tidak buruk juga"
"Tuan" kata Kunang sambil mengepakkan sayapnya terbang ke arah Lio.
"Ada apa Kunang?"
"Sebaiknya Tuan segera bergegas. Ada ular besar yang mengamuk di pusat perbelanjaan. Banyak sekali manusia yang sudah dia makan. Aku rasa, itu adalah ular yang kemarin sisiknya kita temukan"
__ADS_1
"Benarkah" Lio pun segera beranjak dari dalam kolam renang.
"Aku melihat hawa iblis dari ular itu, tapi aku rasa dia bukan iblis Pharoh" lanjut kunang sambil mengikuti Lio masuk ke dalam kamar.
"Tentu saja bukan" kata Lio sambil mengambil baju di dalam lemari. "Bentuk iblis Pharoh bukanlah ular"
"Benarkah? Lalu apa bentuknya?"
Dalam hitungan menit, Lio sudah berganti pakaian. Dia terlihat sangat tampan menggunakan setelan warna hitamnya.
"Cepat tunjukkan aku di mana tempatnya"
"Kau harus cepat tuan, aku sarankan kau memakai benda itu" kata Kunang sambil menunjuk koleksi mobil milik Lio.
"Kekuatan terbang ku jauh lebih cepat daripada benda itu"
"Bilang saja kau tidak bisa menggunakan benda itu"
"Diamlah, atau akan ku rebus kau nanti"
"Huh ... Tapi ini belum malam, aku tidak yakin kau bisa terbang" kata kunang khawatir.
"Sudah jangan banyak bicara. Cepat tunjukkan lokasinya" kata Lio sambil berjalan ke arah halaman.
"Baiklah, ayo" kata Kunang yang sudah terbang mendahului.
Lio pun memusatkan semua kekuatannya. Dan benar saja, dia bisa terbang seperti sebelumnya.
"Aku rasa, bukan karena siang hari kekuatan ku tidak bisa di gunakan. Lalu, apa sebabnya?" gumam Lio. "Apa mungkin memang benar karena tempatnya? Waktu itu di gedung yang sama kekuatan ku juga menghilang"
"Cepatlah tuan. Aku khawatir ular itu akan semakin ganas membunuh para manusia-manusia itu" ucap kunang yang terbang tepat di depan Lio.
Seperti kilatan cahaya, Lio terbang di udara mengikuti Kunang.
"Eh, apa yang aku lihat tadi? Apa tadi burung terbang? Aneh sekali"
Beberapa menit kemudian.
"Di sini Tuan" kata kunang sambil menunjuk sebuah gedung.
Lio pun mendaratkan tubuhnya di atap gedung tersebut.
"Sepertinya, para manusia itu sudah mengamankan tempat ini"
"Cari tau dimana dia berada. Ular sebesar itu tidak mungkin tidak bisa menghancurkan gedung ini" ucap Lio.
"Heemmm ... Dia sepertinya kekenyangan. Dia sedang tidur di sudut gedung ini. Lebih tepatnya parkiran. Ya, manusia menyebut tempat itu parkiran"
"Baiklah, ayo kita segera pergi. Jika kita bisa menangkapnya. Kita akan tau di mana iblis Pharoh berada" lanjut Lio sambil melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Ya, aku sudah tidak sabar ingin melihat wujud iblis Pharoh"