
"TUAN!"
Baga dan Yuto segera berlari ke arah Lio.
"Haish, aku sedikit lengah tadi" gumam Lio sambil mengibaskan bahu kirinya.
"Tuan, anda terluka"
"Cepat lindungi tuan" kata Baga sambil bersiap dengan pistolnya.
"Hey, hey, hey, tidak perlu seperti ini. Lebih baik kalian minggir saja"
"Tidak bisa tuan, makhluk itu sangat mengerikan. Kami tidak akan membiarkan tuan terluka lagi" kata Baga.
"Iya, kita harus melindungi tuan"
"Haish, awas saja kalau kalian malah menyusahkan ku" gerutu Lio.
Swwoooss
Tiba-tiba pria itu kini berdiri di depan mereka.
"Heh, kamu pikir akau akan selemah pria tua itu? Aku baru saja memakan manusia, kekuatanku jauh lebih hebat darinya"
Gluk
Yuto pun menelan salivanya. "Memakan manusia?"
Baga sudah bersiap membidik pria tersebut. "Bukankah dia pria yang mencegat kita di jalan? Jadi benar dia bukan manusia?"
"Iya, dia pria berkacamata tadi. Ish, menyeramkan. Lalu mahkluk apa dia?"
Pria itu segera melesat ke arah Lio, namun Baga dan Yuto segera menghujaninya dengan peluru.
"Hahaha, kalian pikir bisa membidik ku dengan kecepatan ku ini? Mati saja kalian"
Swwoooss
Satu hempasan tangan pria tersebut membuat Baga dan Yuto terpental nak seperti hembusan angin.
"Akkhh"
Bruakk
Mereka pun mendarat dan membentur sebuah rumah kayu yang ada di sana. Membuat rumah kayu itu ringsek sebagian.
"Uhuk, uhuk"
"Hah, bukankah sudah ku bilang, kalian lebih baik minggir saja? Tidak percaya sih, tapi baguslah. Karena kalian aku jadi tau seperti apa pergerakannya" gumam Lio. "Karena aku sudah lelah seharian ini, maka akhiri saja dengan cepat"
"Dasar manusia tidak berguna, kalian menghalangi jalanku saja" kata pria berkacamata itu.
Dengan cepat pria itu pun segera menyerang Lio kembali. Ia menyerang Lio bertepi-tepi dengan kuku-kuku tajamnya tersebut.
Lio menghindari serangan tersebut untuk mengetahui celah dan kelemahan pria itu.
Sedangkan di mata Baga dan juga Yuto. Lio kini tengah kewalahan dengan serangan pria itu.
"Tidak, tuan, uhuk. Kita harus segera menolong tuan"
Baga dan Yuto pun mengarahkan pistolnya ke arah pria itu.
"Sial, aku tidak bisa membidiknya. Dia terlalu cepat" ucap Baga. "Yuto jangan gegabah"
Dor
Satu tembakan pun dilepaskan oleh Yuto, namun tembakan itu telah meleset dan mengenai lengan kiri Lio.
"TIDAK"
"Yah, salah sasaran"
"Hahaha. Kalian pikir aku tidak tahu? Rasakan itu"
__ADS_1
"Dasar tidak berguna, apa kalian tidak lihat siapa yang kalian tembak?
"Maafkan aku tuan
Lia pun hendak mengeluarkan api naga nya namun terhambat. Ia tidak bisa mengeluarkan satu jurus pun.
Srraakk
Lio pun terpental ke belakang.
"Hah, sial. Kenapa di saat seperti ini kekuatanku tidak mau keluar" gumamnya. "Hey kalian, apa kalian mau membantuku?"
Baga dan Yuto pun segera menghampiri Lio.
"Anda tidak apa-apa tuan? kata Yuto membantu Lio berdiri.
"Dia terlalu kuat" gumam Baga.
"Jika kalian mau menolongku, maka turuti saja perintahku"
"Siap laksanakan tuan"
"Kalau begitu, menyingkirlah dari sini. Dan tutup mata kalian, jangan pernah melihatku" kata Lio begitu saja.
"Apa gunanya itu?" kata Yuto lirih.
"Bukankah sudah ku bilang, sudah jelas bukan? Apa kalian tidak mengerti bahasa ku? Cepat pergi sana"
"Tapi, bagaimana bisa-"
"Jika tuan berbicara seperti itu, maka turuti lah" kata Baga sambil menyeret Yuto untuk pergi dari sana.
"Bagus, Sekarang mari kita mulai"
"Hahaha, apanya yang akan dimulai? Kaulah yang akan berakhir" kata pria itu yang kini sudah berdiri tepat di belakang Lio.
Seperti sebelumnya, ia hendak menyerang Lio dari belakang, namun dengan cepat Lio menghantam pria tersebut dengan bola-bola api miliknya.
Pria itu terpental ke belakang menembus beberapa tembok rumah yang ada di sana.
Bruuaakk
"Astaga. Apa yang terjadi" gumam Yuto.
Mereka berdua kini hanya berdiri di depan sebuah rumah makan dengan menghadap ke sudut tembok.
"Diamlah jika tuan memerintahkan kita untuk diam dan tidak melihatnya, maka itu yang harus kita lakukan"
"Apakah ini tidak aneh? Kenapa dia menyuruh kita tidak boleh melihatnya?''
"Kau terlalu cerewet, tentu saja dia punya alasan lain kenapa kita tidak boleh melihatnya. Kita tunggu saja di sini"
"Tapi, jika tuan kenapa kenapa bagaimana?"
"Entahlah"
"Haiah, bikin khawatir saja"
"Uhuk uhuk"
Pria itu berusaha merangkak dari reruntuhan.
"Astaga, kekuatan apa itu tadi?" gumamnya.
"Tentu saja kekuatan asliku" kata Lio yang kini tiba-tiba sudah terbang di atas kepala pria tersebut.
Lio pun berjongkok lalu menarik rambut pria itu, membantingnya dengan keras ke samping dan menghantam tembok beton yang ada di sana.
"Hanya seekor nyamuk sepertimu tidak pantas menyombongkan diri di hadapanku" kata Lio sambil menghampiri pria tersebut.
Sebelum Lio sampai di tempat reruntuhan, pria itu sudah berlari kencang ke arahnya.
"Hanya kekuatan seperti itu. Kamu kira bisa membunuhku? Mati saja kau" kata pria itu sambil mengarahkan tinjunya kepada Lio.
__ADS_1
Swwoooss
Beberapa belati pun terbang di samping Lio. Dengan mata belati itu yang mengarah ke pria berkacamata tersebut.
Dengan satu gerakan dari Lio, semua belati itu pun terbang ke arahnya. Seperti sebuah kecepatan kilat, belati itu menyambar leher pria berkacamata begitu saja.
Sekali menancap semua berarti itu pun mampu memutuskan kepala pria tersebut.
"Akkh-"
Teriak pria itu tertahan, lalu kepalanya pun putus dan terjatuh ke tanah.
"K-kau"
Lio jalan menghampirinya dengan perlahan.
"Bukankah sudah kubilang, menghabisimu adalah pekerjaan yang mudah. Ini adalah bayaran untukmu karena telah mengganggu makan malam ku.
"Hihihi, kau pikir dengan memutuskan kepalaku maka aku akan mati? Tidak semudah itu-"
Lio pun membakar tubuh pria itu dengan api naga miliknya.
"Tidak"
"Kau pikir aku tidak punya cara lain? Aku masih punya seribu cara untuk menghancurkan mu hingga berkeping-keping" ucap Lio dengan kejam.
"Jangan"
"Kau telah salah mencari musuh, kau pikir aku tidak tahu, makhluk tidak punya jantung sepertimu tidak bisa mati hanya karena memutuskan kepalanya. Maka kalau begitu, bakar saja seluruh tubuhmu"
Tak berapa lama pun api naga juga merembet ke kepala pria tersebut.
"AAKKKHHH. KAU KEJAM"
Pria itu pun menjerit-jerit di sana dan Lio berjalan pergi meninggalkannya.
"Heh, aku kejam? Tentu saja aku harus bisa lebih kejam daripada makhluk hina seperti kalian. Dewa perang sepertiku, mana punya hati untuk mengasihani makhluk-makhluk fana seperti kalian" gumamnya.
"AAKKKHHH"
Tak berselang lama, kepala pria tersebut pun hangus menjadi debu.
Lio pun keluar dari gedung tersebut lalu pergi menghampiri kedua anak buahnya yang masih berdiri di depan sebuah rumah makan yang sudah tutup.
''Apa kalian masih ingin berdiri di situ?"
Baga dan Yuto pun segera berbalik badan.
"Tuan"
Yuto pun segera berlari ke arah Lio dan memeluknya.
"Huhuhu. Tuan. Aku pikir akan terjadi sesuatu yang buruk kepadamu. Syukurlah kau tidak apa-apa. Bagaimana dengan lukamu? Kita harus segera mengurus lukamu, jika tidak akan semakin bertambah parah. Huhuhu, maafkan aku karena sudah salah menembak"
"Menjijikan sekali, lepaskan aku"
"Tidak mau, anda sedang sakit sekarang. Aku akan membawa anda ke dalam mobil sekarang"
Yuto merangkul kan lengannya di pinggang Lio untuk memapahnya ke mobil.
"APA KAU GILA? Aku tidak kenapa-napa, kakiku masih bisa berjalan sendiri. LEPASKAN AKU!" kata LIo dengan kesal.
"Tidak akan"
"Kau membantah atasanmu?"
"Aku membantah untuk kebaikan tuan"
"MENJIJIKAN SEKALI. LEPASKAN TANGANMU"
"Tidak mau"
Baga hanya mendesah pelan melihat mereka dan mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1