
"Siapa kalian?"
Semua anggota D'hunter pun langsung mengarahkan pistolnya ke arah sumber suara tersebut.
Terlihat seorang pria paruh baya dengan setelan warna hitam sedang berdiri si sana.
"Lah? Dia kan, pak wali kota" gumam Viro lirih.
"Apa?"
Mereka semua pun menurunkan pistolnya.
"Kalian sudah menyusup ke dalam rumahku, apa kalian perampok?"
"Ah, tidak pak. Kami bukan perampok. Kami hanya angg-"
"Kami hanya sedang bersembunyi" sela Lio sebelum Viro menyelesaikan kalimatnya.
"Hah?"
"Ya, kamu mendapati rumahmu sangat sepi. jadi kami berpikir akan aman jika bersembunyi di sini" lanjut Lio sambil menurunkan kain yang menutupi wajahnya.
"Ooh, jadi begitu. Ya, benar saja. Keadaan di luar sangat berbahaya, mari masuk" ucap sang pria tersebut dan membuat para anggota D'hunter terdiam. "Tidak perlu sungkan, ayo masuk. Huh ... Aku senang sekali melihat kalian. Setidaknya, aku masih bisa melihat manusia yang masih hidup. Dengan keadaan seperti ini, aku merasa hidup sendirian"
Para anggota D'hunter pun saling memandang. Mereka terkejut dengan reaksi dari wali kota ini. Yang lebih mengejutkan lagi, bukankah Lio bilang bahwa di sini adalah sarang dari mayat hidup? Bukankah di sini adalah tempat bersembunyinya Iblis kupu-kupu itu? Kenapa wali kota malah masih hidup?
"Apa kalian akan terus berdiri di situ? Cepat masuk dan tutup pintunya. Aku tidak mau mayat-mayat hidup itu masuk ke sini dan menyerang kita" lanjut pria itu.
Lio pun mengisyaratkan kepada salah satu dari mereka untuk menutup pintu.
"Oh, baiklah" Viro pun bergegas menutup pintunya.
"Ayo, kemari. Kalian pasti butuh istirahat kan?" lanjut pria itu sambil berjalan masuk ke dalam.
"Bukankah ini sangat aneh?" arti dari tatapan para anggota D'hunter.
"Ikuti saja permainannya. Jangan beritahu siapa kita sebenarnya, aku akan mendeteksi di mana iblis itu berada. Kalian, coba mengalihkan perhatiannya" bisik Lio sangat lirih.
Mereka semua pun mengangguk mengerti lalu berjalan mengikuti Lio yang berjalan masuk.
"Mari, silahkan. Aku akan menyuruh para pelayan untuk mengambil minuman" kata pria tadi sambil mengarahkan mereka untuk duduk di meja makan. "Ayo jangan sungkan, silahkan duduk" lanjutnya sambil duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
Mereka semua pun duduk di meja makan mengikuti Lio. Namun saat mendekati meja makan tersebut Ardan merasa ada sesuatu yang aneh. Ia pun melirik ke bawah meja tersebut. Ada sebuah celah di bawah meja itu yang mengelilinginya. Ia ingin memberi tahu anggota yang lain, namun takut membuat curiga pak wali kota itu.
"Maafkan kami karena masuk tanpa izin ke rumah anda pak" kata Kenan.
"Ah, tidak masalah. Dalam situasi seperti ini, aku bisa memakluminya" kata pria tersebut yang bernama Burhan.
"Tapi, kenapa anda masih berada di sini? Bukannya pergi keluar kota?" imbuh Viro.
"Pergi keluar justru berbahaya. Di luar sana banyak sekali mayat hidup"
"Ah, anda benar juga"
Sedari tadi Lio terdiam, ia memusatkan Indra penciumannya untuk mencari keberadaan iblis itu yang sedang bersembunyi.
"Hem, dimana sebenarnya kau bersembunyi? Begitu rapat sekali menyembunyikan diri, tapi kau tidak akan bisa kabur dari penciumanku"
Sedangkan Ardan kini sedang sibuk mengetuk-ngetukan kakinya di bawah meja.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pun datang sambil membawa beberapa minuman. Mereka semua pun melirik ke arah pelayanan itu, berpikir bahwa pelayan itu mungkin saja mayat hidup. Namun mereka salah, pelayan itu juga manusia biasa.
"Silahkan di minum sembari menunggu makanan siap di hidangkan"
Ardan mulai melirik salah satu temannya untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu di bawah meja itu. Ia melirik ke arah Luna, tapi Luna tidak tahu apa yang di maksud Ardan. Ia pun berbalik melirik Kenan.
"Apa maksudmu?" arti dari tatapan mata Kenan.
"Ada sesuatu di bawah sini, kita harus berhati-hati" balas Ardan sambil menunjuk-nunjuk ke bawah.
Kenan pun melirik ke bawah kakinya. Ia tidak menemukan sesuatu yang aneh di sana. Di bawah meja makan itu hanya terdapat karpet warna merah tua yang terlihat sangat mahal. Namun ia tak menemukan hal yang janggal.
"Hem, sebenarnya. Kalian ini dari mana? Aku yakin kalian bukan warga kota Regoon kan?" lanjut pak Burhan.
"Iya, kami dari luar kota. Sebenarnya sedang dalam perjalanan. Namun tidak menyangka akan ada musibah di kota ini" kata Kenan.
"Huh, ini semua karena anak bandel itu" ucapnya sambil menundukkan kepalanya. "Aku tidak tau kenapa dia bisa terjangkit penyakit mematikan seperti itu sehingga membuat seluruh warga ku menjadi seperti ini" imbuhnya terlihat meratapi nasibnya.
"Tapi ... Bukankah ini aneh? Bagaimana dia bisa sakit?" tambah Viro.
"Aku juga tidak tau kenapa. Mungkin dia di jebak oleh salah satu orang yang memusuhi ku"
Lio yang dari tadi diam membisu kini menaruh kedua tangannya di atas meja.
__ADS_1
"Benarkah? Lalu siapa orang yang berani menjebak mu sampai seperti ini?" kata Lio.
"Entahlah aku juga tidak tahu"
"Lalu kenapa kau malah bersembunyi daripada mencari cara agar rakyatmu tidak terkena virus itu?"
"Itu karena di luar sana mereka sudah bukan lagi manusia. Lalu di mana aku harus mencari cara jika aku saja tidak bisa keluar dari sini?"
"Oh, benarkah? Bukan tidak bisa, tapi kau memang tidak mau" kata Lio penuh arti.
Wali kota itu pun terdiam beberapa saat.
"Apa maksudmu? Aku sudah berusaha keluar dari tempat ini. Tapi mereka begitu banyak, bagaimana bisa aku pergi?"
"Benar saja, kau tidak boleh pergi dari sini begitu saja. Karena keserakahan mu. Kau membuat mereka menjadi seperti ini'"
"Aku tidak mengerti apa maksud mu" kata wali kota itu yang kini tatapan matanya berubah tajam.
"Masih tidak mengerti maksudku? Kau membuat anakmu sendiri berubah menjadi monster. Dan kau menyebarkan virus virus itu agar bisa menguasai dunia ini. Kau juga mengendalikan para mayat hidup itu, sebentar lagi mereka akan menyebar keluar dari kota Regoon dan kau bisa mengendalikan dunia di tanganmu. Sungguh ambisi yang luar biasa bagi seorang wali kota kecil seperti mu" ucap Lio.
"Heh, hahahaha" kelakar pria paruh baya itu. "Hahaha, wahai anak muda. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tau banyak tentang siasat ku ini?"
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah, katakan di mana dia"
"Dia?"
Dengan cepat Lio pun berdiri dan mengarahkan belatinya ke leher wali kota itu.
"Jangan berpura-pura lagi. Aku tau, kau pasti menyembunyikannya dengan sangat aman. Sungguh hebat, penciumanku saja tidak bisa melacaknya"
"Kau ... Siapa kau sebenarnya?"
"Sudah aku bilang itu tidak penting. Cepat katakan di mana dia"
Para anggota D'hunter pun berdiri dan menodongkan pistolnya ke arah pria itu.
"Hah, baiklah baiklah" gumamnya sambil berdiri dan mengangkat tangannya. Ia pun berjalan mundur lalu menyeringai. "Hihihi, kalian akan tau dimana dia, tapi kalian juga tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah mengetahui keberadaannya, kalian akan menjadi mangsanya" tawa orang itu sambil memencet sebuah remot yang ada di tangannya.
Terasa ada sebuah getaran di bawah kaki mereka, lalu lantai di meja makan itu pun anjlok ke bawah membawa para anggota D'hunter dan Lio masuk ke dalam lubang itu.
"Hihi, selamat tinggal"
__ADS_1