Demigod

Demigod
Bab 90


__ADS_3

Di bawah pohon ceri di tengah ladang bunga di alam Nirvana, Yuzi kini duduk dengan seorang pria tampan dengan ciri khas baju bulu serigala.


Yuzi terlihat sangat akrab dengan pria itu dan kini sedang tidur di atas pangkuannya.


"Yuzi, kamu masih ingin main lagi?" ucap pria itu.


"Tidak, aku kelelahan. Aku tidak bisa berlari mengalahkan dirimu yang seperti serigala itu" ucap Yuzi.


"Baguslah kalau begitu, istirahat saja. Kamu terlalu banyak bermain hari ini"


Yuzi pun memejamkan matanya. "Artaria ..."


"Hem"


"Sudah 3000 tahun sejak Lodra pergi melakukan ujian langitnya. Sebentar lagi dia akan pulang, setelah dia pulang aku akan mengenalkannya kepadamu"


"Apa kamu sangat menunggunya?" kata Artaria sambil mengusap rambut Yuzi.


"Ya, aku sangat merindukannya. Sebelum kamu datang ke sini, aku sangat kesepian sekali sejak ditinggal pergi olehnya. Tapi aku juga sangat beruntung bisa bertemu denganmu, kamu telah menemaniku bertahun-tahun ini"


"Jika kamu mau, aku akan menemanimu sampai selama-lamanya" kata Artaria dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Yuzi pun membuka matanya dan menatap mata Artaria dalam-dalam. Seorang pria yang ia kenal 3.000 tahun yang lalu itu kini benar-benar membuatnya jatuh cinta. Wajah tampan dengan ciri khas alis tebal itu membuat Yuzi tergila-gila kepadanya. Tak hanya itu, Artaria juga sangat lembut dan sangat penyayang kepada Yuzi. Selama Dewa Lodra pergi ke gunung abadi, Artaria adalah orang yang menemani Yuzi di sana.


"Aku ingin selamanya bersamamu, bagaimana? Apakah kamu bisa mengambil hati Lodra? Jika kamu tidak bisa mengambil hati Lodra maka kedepannya kita akan kesulitan untuk bersama. Kau tahu sendiri kalau dia begitu ketat menjagaku"


"Tidak masalah, apapun yang akan terjadi aku akan melakukannya dengan baik, termasuk membuat Dewa agung merestui hubungan kita'' kata Artaria.


Yuzi pun meraih tangan Artaria yang berada di puncak kepalanya dan memeluknya.


"Aku sudah tidak sabar menunggunya pulang. Setelah itu kita bisa hidup bersama dan setiap hari bersama-sama, menyenangkan sekali"


Artaria pun terdiam sejenak, di wajahnya terlihat keraguan dan kecemasan.


"Tapi, apa kamu tahu? Jalan kita setelah Dewa agung pulang dari ujiannya maka akan semakin berat" kata Artaria lirih.


"Kenapa? Bukankah tadi kamu yakin bisa mengambil hati Lodra?"


"Ya, aku hanya ragu jika dia tidak akan menyukaiku karena klan ku"


"Aku bisa membantumu untuk menjelaskannya kepada Lodra. Jadi kamu tidak perlu khawatir" lanjut Yuzi sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Artaria pun menatap mata Yuzi dengan penuh ketulusan. "Ya, aku yakin semuanya akan baik-baik saja dan apapun akan aku lakukan demi bersama denganmu''


Sebuah hari yang indah yang mereka lalui bersama-sama beberapa ribu tahun terakhir ini membuat cinta mereka semakin kuat.


Di bawah pohon ceri itu satu kecupan yang manis kini mendarat di bibir Yuzi. Yuzi pun tersenyum simpul dengan pipinya yang mulai memerah. Artaria yang membalasnya dengan senyuman termanis yang ia miliki lalu kembali mencium bibir Yuzi. Bunga-bunga yang bergoyang terkena terpaan angin dan juga kupu-kupu yang menghiasi taman itu seolah-olah menjadi saksi betapa manisnya kedua orang itu yang kini tengah di mabuk cinta.


Beberapa hari setelahnya Dewa Lodra pun kembali ke kediamannya dari ujian langit yang baru saja ia lalui. Dewa Lodra terlihat terluka sangat parah akibat dari serangan saat ujian berlangsung.


Dengan berjalan gontai dewa Lodra masuk ke dalam kediamannya dengan menyeret sebuah pedang di tangannya.


"Uhuk"


"Tuan dewa-"


"Dimana Yuzi?"


Ya, setelah sampai di kediamannya dewa Lodra langsung mencari Yuzi. Selama beribu-ribu tahun menjalankan ujian langit, ia begitu mengkhawatirkan Yuzi di luar sana.


"Dewi-"


Tiba-tiba tatapan dewa Lodra menjadi tajam. Ia pun mengendus aura siluman di kediamannya itu.


"Siluman busuk dari mana asalnya yang berani masuk ke dalam kediaman Dewa agung?" ucapnya geram.


Tak lama kemudian dengan kekuatan penciuman yang pekat dari dewa Lodra. Ia pun menemukan Artaria yang kini sedang berdiri di tengah taman bunga miliknya.


"Dasar serigala busuk" kata Dewa Lodra geram langsung terbang ke arah Artaria.


Dengan insting serigalanya Artaria segera menoleh ke belakang dan menghindari serangan dewa Lodra.


Klaangg


Suara dentingan dari kedua pedang mereka yang beradu.


"Siapa kau?" tanya Artaria yang masih belum tahu siapa itu Dewa Lodra.


"Siluman sepertimu apa pantas mengetahui siapa aku?" ucap Dewa Lodra lalu menyerang Artaria kembali.


Sebuah pertarungan sengit pun tak dapat terelakkan. Dewa Lodra begitu kuat namun dengan keadaannya yang terluka seperti ini dia mulai kelelahan karena menyerang Artaria. Meskipun Artaria tidak sekuat dewa Lodra namun ia berhasil menghindar dan menyerang Dewa Lodra beberapa kali.


Booomm

__ADS_1


Api naga menyerang Artaria dan membuat tempat itu berantakan karena terbakar kobaran api.


Sedangkan di tempat lain, Yuzi sedang menyeduh teh dan mendengar suara dentuman yang keras dari arah kebun bunga itu.


"Ada apa? Suara apa itu?" gumamnya.


Mengingat Artaria yang masih menunggunya di kebun bunga, Yuzi pun segera berlari ke sana karena khawatir terjadi sesuatu dengan Artaria.


Saat langkah Yuzi tinggal beberapa meter saja dari kebun bunga, ia mencium aura Lodra yang sudah lama ia rindukan itu.


"Lodra sudah pulang? Tapi ..." gumamnya. Ia merasakan aura Lodra yang kini sedang marah. "Tidak ... Artaria"


Yuzi segera berlari ke sana dan ia pun berhenti ketika melihat mereka berdua tengah terluka parah. Artaria kini terlihat dengan keadaan yang sangat buruk. Dia kini bersimpuh di hadapan Dewa Lodra dengan tubuh yang sudah terluka.


Di kejauhan Yuzi melihat dewa Lodra akan mengayunkan pedangnya ke arah Artaria.


"TIDAK" teriak Yuzi lalu terbang dengan kecepatan penuh menghampiri mereka


Zraaass


Alhasil pedang itu pun menebas Yuzi sekaligus dengan Artaria bersamaan.


"Tidak ..." Yuzi menatap Artaria yang kini tubuhnya mulai perlahan menghilang menjadi abu.


"TIDAAAKK"


Nada terperanjat dari tempat tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Iya, semua penggalan kisah antara Yuzi dan Artaria tadi hanyalah sebuah mimpi di dalam alam bawah sadar Nada.


Setelah bangun dari tidurnya, Nada merasa begitu sakit di dadanya seolah-olah tebasan dari pedang Dewa Lodra benar-benar ia rasakan.


Namun yang membuatnya pilu adalah ketika mengingat pria yang bernama Artaria tadi perlahan menghilang menjadi abu seolah-olah ia merasakan sakitnya kehilangan yang dialami oleh Yuzi.


Mendengar teriakan Nada, Kenan pun segera berlari menghampirinya.


"Nada, ada apa?"


Nada pun segera menoleh ke arah Kenan yang kini bersimpuh di bawah ranjangnya. Dengan cepat Nada meraih Kenan dan memeluknya dengan erat. Kenan terkejut namun dia tidak berniat untuk mendorong Nada dari tubuhnya.


"Hiks hiks" tangis Nada menjadi-jadi sesaat setelah melihat wajah Kenan.


"Nada ada apa denganmu?''

__ADS_1


Nada tak menjawab dan malah memeluk Kenan dengan erat, dengan tangis yang tak kunjung reda.


__ADS_2