Demigod

Demigod
Bab 32


__ADS_3

"Ini semua tidak ada gunanya" kata seorang polisi sambil melemparkan lencana berlogo D'hunter.


Brian hanya menatap petugas tersebut dengan penuh curiga.


"Oh, jadi ... Sekarang polisi pun bergerak sendiri dan sudah tidak mentaati peraturan pemerintah?" kata Brian sambil mengambil kembali lencana nya.


"T-tentu saja kami menaati peraturan pemerintah. Tapi, mereka terbukti berkomplot dengan anggota mafia yang meresahkan warga akhir-akhir ini. Mereka harus di beri hukuman yang setimpal"


"Oh, benarkah? Lalu apa bukti yang kau dapat?" kata Brian sambil melangkahkan kakinya perlahan.


"Aku menangkap mereka di ruang transaksi. Itu bukti yang cukup jelas"


"Hemm ... Dari mana kau tau kalau tempat itu adalah tempat transaksi? Apa kau punya mata-mata? Atau ... Kau sudah tau semuanya?" tanya Brian penuh penekanan.


"Tentu saja, sebelumnya kami menyelidiki terlebih dahulu"


"Oh ... Aku kira kau ada hubungannya dengan para penjahat itu"


"Cih, kau gila? Aku adalah polisi. Mana mungkin aku berkomplot dengan para penjahat itu"


"Ya, kau sadar juga kalau kau adalah polisi. Sekarang bebaskan mereka. Mereka sedang bertugas saat kau masuk ke ruangan itu"


"Tidak bisa. Mereka akan tetap di tahan dan di beri hukuman"


"Kenapa kau bersikeras sekali menghukum mereka? D'hunter adalah anggota rahasia dan dilindungi oleh pemerintah. Seharusnya kau tau itu"


"Sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak peduli. Mereka tetap saja bersalah"


"Astaga. Kau-"


"Hentikan. Ini tidak akan berhasil" kata Lio yang baru saja datang bersama Nada.


"Kau ... Sudah ku bilang jangan datang ke sini" kata Brian kepada Nada.


"Maaf Brian"


Lio pun berjalan menghampiri polisi tersebut. Polisi itu terlihat gugup saat melihat tatapan tajam Lio.


"Sudah ku bilang. Mereka tidak akan bisa keluar dari jeruji besi sebelum mendapatkan hukuman"


"Astaga ... Dia benar-benar membuatku muak" gumam Brian.


"Benarkah?" kata Lio semakin mendekat. "Bagaimana kalau aku coba dulu?"


"Apa yang mau kau co-"


Bruaakkkkk


Polisi itu terlempar ke seberang ruangan sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"Lio ... Dia juga memiliki hawa iblis di tubuhnya" kata Nada mengingatkan.


"Hem ... Aku tau. Dari luar saja sudah tercium bau mereka" ucap Lio sambil berlalu menghampiri polisi tadi.


"Ugghhh"

__ADS_1


Polisi tersebut tergeletak tak berdaya di lantai.


"Apa perlu kau melakukan ini? Mereka adalah polisi. Kita bisa terkena masalah" lanjut Brian.


Lio pun menyeringai. "Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri" lanjutnya sambil berjalan keluar menyeret polisi tadi.


Brian hendak mengejar Lio namun di tahan oleh Nada.


"Jangan mengejarnya"


"Kenapa? Kita bisa saja dalam masalah jika menyerang polisi itu"


"Percayalah kepada Lio. Dia tidak akan melukai polisi itu"


Nada menghentikan Brian agar tidak menyusul. Supaya Lio bisa leluasa mengeluarkan kekuatannya untuk melacak keberadaan iblis.


Beberapa menit kemudian. Lio kembali dengan membawa sebuah kunci.


"Ambil ini" kata Lio sambil melemparkan kunci tersebut ke arah Brian.


Dengan sigap Brian menangkap kunci tersebut. "Dimana dia?"


"Tenang saja. Dia tidak mati" kata Lio menunjuk keluar ruangan.


Terlihat petugas polisi tadi tergeletak tak berdaya di sana.


"Apa yang kau lakukan kepadanya?"


"Hanya menginterogasinya" ucap Lio dengan santai sambil mengedikkan bahunya.


"Tentu saja. Apa kau bodoh? Tanpa alasan mengurung para anggota D'hunter. Tentu saja untuk mengulur waktu" jelas Lio.


"Mengulur waktu?"


"Apa maksudnya Lio?" ucap nada yang ikut bingung.


"Kita akan tau setelah pergi ke markas mereka"


"Bagaimana kita tau markas mereka?" lanjut Nada.


"Manusia memang benar-benar bodoh" gumam Lio kesal. "Bukankah nanti kau akan di hubungi harus pergi kemana?" lanjut Lio sambil menunjuk jam tangan Nada.


"Ah iya. Kau benar"


"Oh ya, cepat bebaskan teman-teman mu itu. Setelah itu, tugas kalian adalah membebaskan para polisi yang sebenarnya di jeruji nomor 207"


"Polisi yang sebenarnya?" gumam Brian. "Oh astaga ... Ternyata dia polisi gadungan. Aku pikir dia memang benar-benar polisi yang bekerja untuk penjahat"


"Pria itu tidak berbahaya meskipun ada hawa iblis di tubuhnya. Selanjutnya, kalian pikir sendiri saja apa yang harus di lakukan. Ayo kita pergi"


Lio pun pergi dan di ikuti nada di belakangnya.


"Sebenarnya siapa dia? Bukan hanya pintar bela diri, dia juga mampu membunuh iblis yang sama sekali tidak bisa kami sentuh. Bahkan sekarang dia bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Apa ... Dia juga anggota D'hunter yang tersembunyi?" gumam Brian sambil menatap kepergian Lio dan Nada.


Hari mulai malam. Jam tangan Nada menunjukkan pukul sebelas malam.

__ADS_1


"Kenapa mereka belum menghubungiku?" gumamnya.


"Tunggu saja sebentar lagi" kata Lio dengan santainya.


Mereka kini sedang menunggu di dalam mobil milik Lio. Ya, Lio memperbolehkan Nada membawa salah satu mobilnya agar lebih cepat ke tempat tujuan.


"Lio, apa kau sudah tau iblis apa yang akan kita hadapi nanti?" kata Nada penasaran.


"Hem. Tentu saja belum. Aku hanya mencium bau lengus dari hawa iblisnya"


"Huh, kau hebat. Kau tidak bisa melihatnya tapi bisa mencium baunya. Apa kau bisa tau dari baunya saja?"


"Tentu saja tidak. Pengetahuanku tentang mereka hanya sekedar sesuatu yang aku pelajari sebelumnya. Aku tidak pernah bertemu dan berhadapan dengan mereka secara langsung"


"Tapi ... Kita berdua ... Apakah bisa mengalahkan satu iblis ini? Iblis sebelumnya yang kau bilang sangat mudah di hadapi pun kami tidak mampu melukainya. Bagaimana kalau yang satu ini lebih ganas?" kata nada khawatir.


"Aku tidak butuh orang untuk membantu ku. Selagi aku bisa mengeluarkan pedang kematian. Maka mereka akan tamat" kata Lio. "Jadi tugasmu ... Adalah membersihkan area bertarung ku dari para manusia"


"Tapi ... Lio ... Jika kekuatan mu tidak bisa di gunakan di dekat manusia. Bagaimana dengan aku? Aku juga manusia. Tapi waktu itu kau menyelamatkan ku dengan kekuatan mu"


"Hemm ... Iya, ini masih aku selidiki juga. Tapi ... Untuk saat ini. Usahakan saja, tidak ada manusia yang akan mengganggu pertarungan ku"


"Baiklah. Akan aku lakukan sesuai perintah mu" kata Nada. "Oh ya Lio, setelah ini kau harus mengajariku tentang para iblis itu"


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk memudahkan pekerjaan kita. Sebagai partner, kita harus punya pemahaman yang sama. Bukankah begitu? Lagipula kau juga masih berhutang sesuatu. Kau lupa mau mengajariku ilmu beladiri?"


"Ya, ya. Terserah kau saja" ucap Lio dengan malas.


"Oh ya Lio. Tadi malam aku sempat memimpikan dirimu"


Lio tak mengindahkan, dia malah memejamkan matanya sambil bersandar.


"Ini aneh. Aku melihat mu dengan rambut panjang dan jubah perang seperti orang kuno. Di tanganmu juga terlihat sebuah pedang"


"Itu adalah wujud asli dewa ku. Kau sangat beruntung karena bisa melihatnya" kata Lio yang masih memejamkan matanya.


"Astaga. Benarkah? Jadi seperti itu wujud aslimu. Apa karena aku percaya kalau kau dewa mangkanya aku bisa memimpikan hal itu?"


"Entahlah"


"Aku juga melihat mu sedang memeluk seekor kelinci putih" lanjut Nada. "Aku melihat mu sangat sedih memandangi kelinci itu"


Tiba-tiba Lio pun terbelalak mendengar ucapan Nada.


"Rasanya, kelinci itu begitu familiar bagi ku" gumam Nada.


Lio membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Namun, tiba-tiba ponsel Nada berbunyi.


"Huh ... Ayo berangkat" kata Nada sambil memasang sabuk pengamannya.


"Kau sudah tau tempatnya?"


"Ya, mereka baru saja mengubungi ku"

__ADS_1


Nada pun melajukan mobilnya menuju ke tempat yang sudah di tentukan.


__ADS_2