
"AAAKKKKKKHHH. SETAAANNN"
Iblis itu tiba-tiba menampakkan wajahnya tepat di depan wajah Kevin. Dengan kesempatan itu, Lio pun menyergap iblis itu, mencekik lehernya.
"Akhh, mataku. Kenapa kamu harus melihat wajah jeleknya?" gerutu Kevin mengingat betapa buruk wajah iblis itu.
Rahang panjang dengan wajah pucat. Pupil mata yg begitu kecil, dengan senyum yang begitu lebar. Wajah itu membuatnya bergidik negeri.
"Uhuhu, aku seperti menonton film horor di bioskop"
"Heh, aku menangkap mu sekarang dasar iblis jelek" kata Lio yang kini sudah memojokkan iblis itu ke tembok.
"Hahahaha. Siapa bilang kamu bisa menangkap ku"
Swwoooss
Iblis itu tiba-tiba menghilang bagaikan asap begitu saja.
"Ah, trik kecil ini lagi. Kau pikir aku akan melepaskan mu kali ini? Aku sudah mengingat wajah jelek mu sekarang, jangan berharap bisa kabur"
Lio segera berbalik badan dan memfokuskan telinga beserta pandangannya. Karena di ruangan itu semua gelap gulita, Lio pun sedikit kualahan untuk mencarinya.
"Dia memang sengaja melawanku di tempat gelap. Dasar sialan"
Lio menggunakan kemampuan penciumannya. Benar saja, iblis itu masih berada di dalam kamar itu. Dalam ruangan gelap itu, ia mendapati sang iblis hendak memakan Kevin, ia mencekik Kevin sampai tak bisa bersuara.
"Kena kau"
Lio berlari dengan cepat ke arahnya. Memukul tangan iblis itu dengan kuat sehingga lepas dari leher Kevin.
"Uhuk uhuk"
Lio hendak mengeluarkan api naga namun tidak bisa. Ia lupa di sekitar dia masih ada seorang manusia. Kevin kini sedang terduduk memandanginya.
"Jika tidak ingin mati maka pergilah dari sini" kata Lio.
"Uhuk, baiklah"
Kevin segera lari keluar dari kamar itu.
"Hihihi, apa kau takut aku akan memakan manusia itu? Hahaha, tapi kelihatannya dia tak seenak dirimu"
"Heh, bukankah kau terlalu bangga karena telah menyergap ku di kegelapan? Sekarang aku yang akan mengurung mu"
Tiba-tiba semua jendela dan pintu di sana tertutup rapat-rapat. Api naga pun mengelilingi semua sudut ruangan itu membuat kobarannya menerangi seluruh ruangan.
__ADS_1
"Sekarang kau tidak bisa kabur lagi"
Setelah mendapatkan bantuan cahaya, kini iblis itu pun nampak jelas di hadapan Lio. Iblis kurus kering dengan pakaian lusuh itu tidak seperti perempuan mau pun laki-laki. Rambut panjang menjuntai ke lantai dengan wajah tirus.
"Hihihi, Aku suka permainan mu. Tapi jangan terlalu percaya diri. Karena pada akhirnya kamu akan menjadi santapanku. Siapa suruh kamu membunuh adikku. Maka nikmatilah menjadi santapanku"
"Adik? Apakah iblis jelek sepertimu mempunyai seorang adik? Ah, pasti dia tak kalah jeleknya denganmu. Oh, tunggu. Apa iblis di kota Regoon itu adikmu? Pantas saja, sama-sama jelek" ejek Lio.
"DIAM!" teriak iblis itu melengking berdengung di ruangan tersebut. "Aku sudah memberikan setengah dari kekuatan ku kepadanya, namun tak ku sangka manusia rendahan seperti mu berhasil mengalahkannya"
"Manusia rendahan? Kenapa aku jengkel sekali mendengar kata-kata itu?" ucap Lio sambil tertunduk. "Mari aku perlihatkan siapa sebenarnya yang mahkluk rendahan. Aku adalah dewa agung. Beraninya iblis jelek sepertimu memanggilku rendahan'' Lio pun menatap iblis itu dengan mata biru milik dewa Lodra.
"Hemmm. Mata biru? Apa manusia ini juga begitu hebat? Baru pertama kali ini aku di buat merinding dengan tatapan seseorang selain tuan besar" batin iblis itu masih tercengang.
"Jangan lengah. Aku tidak mengizinkan kamu mati dengan mudah" kata Lio yang kini sudah berada tepat di belakang iblis itu.
Blaarr
Sebuah ledakan kecil pun terjadi saat iblis itu mencoba menghindari serangan Lio.
"Hihihi. Lumayan juga. Tapi jika kau adu kecepatan, aku bukanlah tandingan mu" kata iblis itu melesat ke arah Lio.
Begitu cepat, sehingga hanya bayangan hitam yang terlihat. Lio mendapat serangan yang bertubi-tubi dan brutal dari iblis itu. Dia juga menggunakan jari-jari runcingnya sebagai senjata untuk melawan Lio.
"Sial. Dia cukup cepat"
Tubuh Lio mulai terluka. Jas warna abu-abu tuanya itu tercabik-cabik. Dan ada beberapa darah yang keluar dari kulitnya karena serangan dari iblis itu.
Serangan iblis itu begitu cepat, tak sampai satu detik ia bisa melukai Lio beberapa kali dari segala arah.
Lio terlihat menegakkan bahunya dan memejamkan matanya. Tak berapa lama Lio pun mengangkat tangannya ke atas, dan iblis itu pun terpental ke atas karena terkena pukulan Lio.
Sebelum iblis itu mencapai langit-langit kamar, Lio dengan cepat menyusulnya dan menghantamkan tubuh iblis itu ke lantai.
Bugh
"Uhuk"
Iblis itu pun mengeluarkan darah hitam dari mulutnya. Luka dalam yang ia dapatkan bukan dari benturan tubuhnya ke lantai, melainkan Lio menyerangnya dengan tenaga dalam.
"Uhuk"
"Manusia ini, begitu banyak taktik. Jika serangannya tadi melesat bukankah dia bisa merobohkan tempat ini? Sial, dia malah memfokuskan kekuatannya ke organ dalam tubuhku"
"Ada apa? Apa kau sudah tidak bisa tertawa lagi kali ini? Aku sudah berjanji untuk merobek mulutmu, maka nanti kamu bisa tersenyum sepuasnya"
__ADS_1
"Heh, hihihi. Hahahha. Kamu pikir aku akan kalah begitu saja? Tidak semudah itu" Iblis itu pun mulai tersenyum mengerikan dan menatap penuh arti ke arah Lio.
Ngiiinggg
Tiba-tiba telinga Lio pun berdengung kembali dan membuatnya sakit kepala kembali.
"Akkkhhh" teriak Lio sambil memegangi kepalanya.
Saat Lio melihat ke arah iblis itu, dia sudah tidak berada di tempatnya.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu masih bisa menangkap ku?" kata iblis itu yang tak tau sekarang berada di mana.
Suara itu berdengung begitu saja di kepalanya.
Sedangkan di tempat lain, Kevin berlari ke anak buahnya guna mendapatkan bantuan. Namun yang ia lihat kini semua anak buahnya tengah tertidur lelap.
"Hey, bangun kalian. Kita di serang iblis dan kalian malah asik tidur? Cepat bangun" kata Kevin mencoba membangunkan anak buahnya.
Semua anak buah Kevin pun terbangun, namun anehnya tak ada satupun dari mereka yang membuka matanya. Mereka berjalan dengan mata tertutup menghampiri Kevin.
"Hah? Apa mereka sedang mengigau?" gumam Kevin bingung.
Saat ia melihat ke arah mereka, tiba-tiba mereka menarik belati lalu menyerang Kevin secara brutal.
"Hey, hey. Apa kalian ingin mati? Apa yang kalian lakukan?" teriak Kevin sambil melawan balik para anak buahnya yang tak sadarkan diri itu.
"Hihihi. Bunuh dia, maka setelah itu kalian akan menjadi santapanku semua" kata seseorang yang tak tau suara itu bersumber dari mana.
"Cih, iblis setan itu masih menargetkan ku ternyata. Akhh" teriak Kevin saat salah satu belati menancap di lengannya. "Sial, akan aku buat kalian sadar lebih cepat"
Kevin melihat air di sebuah gelas dan menyiramkan ke wajah mereka namun tak juga sadar. Mereka tetap berjalan dengan mata tertutup ke arah Kevin.
"Tidak mempan ya? Baiklah, apa yang membuat orang bangun lebih cepat? Ah, pukul saja kepalnya"
Kevin menyerang mereka dan mencoba memukul mereka, namun tidak semudah yang ia bayangkan.
"Sial, jika tau akan terjadi hal seperti ini, maka aku tidak akan membawa prajurit elit. Mereka tidak mudah di taklukan, lalu apa aku harus membunuh kalian? Hilang dong uangku"
Kevin mencoba menyerang kembali, namun mereka malah melempar Kevin ke arah kaca. Kaca itupun pecah membuat Kevin terpental ke halaman belakang.
"Akh, kalian memang benar-benar berencana membunuh ku? Ouw, punggungku" gumamnya.
Namun beberapa saat kemudian ia merasa di telapak tangannya ada sesuatu yang lembek dan lengket yang menempel di sana.
"Eh, apa ini?"
__ADS_1
Karena malam itu begitu gelap, Kevin juga tidak bisa melihat jelas apa itu. Ia pun mengarahkan telapak tangannya ke hidung untuk mencium benda apa itu. Siapa tau itu darah.
"Akhh. Puihh. TAI AYAM!''