
"Kenan, pergilah ke arah sana. Kita akan menembakinya dari arah yang berlawanan" perintah Brian.
"Baik. Nada, ayo" ucap Kenan sambil berjalan mendahului.
Nada pun mengikuti Kenan untuk pergi ke sebelah kanan tempat parkiran tersebut.
"Viro, bagaimana di sana?" ucap Kenan sambil berjalan. Mereka semua saling terhubung dengan earphone kecil di telinga mereka.
"Aku sudah menguasai sebagian CCTV di sini. Tapi ...." ucapnya menggantung. Ya, Viro berada di tempat yang berbeda dari Kenan, Nada, Tiara dan Brian.
"Ada apa?"
"Dia besar sekali. Oh my God" gumamnya takjub.
"Benarkah?"
"Ya, dia sekarang sedang tidur melingkar di sisi pojok kanan tempat itu. Posisi kalian hanya berjarak kurang lebih 10 meter saja"
Nada yang ikut terhubung pun bergidik ngeri. Dia khawatir misi kali ini tidak akan sesederhana yang dia pikirkan. Biasanya, D'hunter hanya memburu para manusia yang terlihat hawa iblis bersamanya. Kali ini D'hunter baru pertama kali berhadapan dengan hewan yang memiliki hawa iblis.
"Ada apa Nad?" kata Kenan.
"Aku khawatir, ini tidak akan berjalan lancar"
"Apanya yang tidak lancar. Memburu hewan liar saja. Ini perkara mudah" kata Kenan sambil memasukkan peluru ke dalam pistolnya. "Vir, beritahu aku seperti apa dia"
"Kira-kira panjang hewan ini sekitar 8-10 meter. Diameternya kurang lebih 2 sampai 3 meteran lah" jelas Viro dari seberang earphone.
"Hanya segitu? Kecil" ucap Kenan meremehkan.
"Kecil, kecil, kepalamu. Dia bisa saja memakan 4-5 orang sekaligus. Bisa-bisanya kamu bilang dia kecil" lanjut Viro.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" kata Nada.
"Pancing dia untuk menunjukkan kepalanya. Setelah itu kita tembak matanya. Dengan begini kita bisa dengan mudah melumpuhkannya" jelas Kenan. "Kau dengar itu Viro? Cepat beritahu yang lain"
"Siap Bos"
"Kau kenapa lagi Nad?" ucap Kenan yang melihat Nada seperti sedang gelisah.
"Tidak apa-apa. Kita harus berhati-hati"
"Tenang saja, aku akan melindungimu"
Tak berselang lama, Kenan dan Nada sudah berada di depan ular tersebut. Terlihat, hewan itu sedang menikmati waktu istirahatnya. Yang membuat ngeri, di sekitarnya terlihat ceceran darah dan onggokan daging manusia yang sudah ia lahap sebelumnya.
"Dia terlihat ganas sekali" gumam Nada sambil menelan salivanya.
Dor dor dor dor
Terdengar beberapa tembakan dari arah Brian dan juga Tiara. Namun ular itu tidak bergeming, dia masih tetap melingkar menyembunyikan kepalanya.
"Kamu fokuskan ke sebelah sana"
"Hem" Nada mengangguk sambil membidikkan pistolnya ke arah perut ular tersebut. "Kenapa dia tidak merespon sama sekali?"
"Teruskan saja bidikan kalian. Aku yakin dia tidak akan bertahan lama" kata Brian dari balik earphone.
Mereka terus menembaki ular tersebut berharap dia mengeluarkan kepalanya. Tapi kulit ular tersebut terlihat sangat keras.
"Sepertinya ini bukan jalan keluarnya" kata Tiara.
"Aku tidak percaya" gumam Kenan. Beberapa kali ia menembaki ular tersebut di tempat yang sama dan tiba-tiba.
__ADS_1
Zraassshhh
Satu tembakan terakhir dari Kenan mampu melukai ular tersebut. Terlihat darah mengalir dari punggungnya.
"Grrrrraaaaaahhhhhh" Suara ular tersebut terdengar melengking menandakan kalau dia sedang marah. Ular itupun menunjukkan kepalanya, dengan mata yang terlihat tajam. Sangat mengerikan. Di kepalanya terdapat benjolan seperti berlian merah yang mengkilap.
"Grraahhhh" Ular itupun semakin marah, ia seperti sedang berteriak menunjukkan gigi-gigi tajamnya.
"Berhasil, bidik matanya"
Dor dor dor dor
"Grraahhhh" Ular itu pun mengibaskan ekornya dan membuat tiang-tiang beton di sana runtuh.
"Awas!!" teriak Kenan saat melihat serpihan beton jatuh ke arah Nada. Ia segera berlari ke arah Nada untuk melindunginya.
"Akkkhhh"
Bruakkk
Mereka berdua pun jatuh berguling di atas lantai.
"Kau tidak apa-apa?"
Nada pun mengangguk.
"Kalian tidak apa-apa?" kata Tiara sambil berlari ke arah Kenan dan Nada di ikuti Brian di belakangnya.
"Tidak apa-apa"
"Kita butuh tempat lebih tinggi untuk membidiknya" ucap Brian.
"Kau benar"
"Ada apa?"
"Ada sesuatu di leher ular itu" kata Nada sambil menunjuk bagian leher di bawah mulut ular tersebut. Nada seperti melihat sebuah benang yang melingkar di leher ular tersebut. Di sekeliling benang itu terdapat cahaya hitam pekat yang berkobar seperti api.
Mereka semua pun menoleh ke arah yang di tunjuk Nada.
"Tidak ada apa-apa? Kau yakin?" kata Tiara.
"Ya, seperti ada sebuah benang di lehernya"
"Jangan mengada-ada, kita tidak melihatnya. Ayo pergi" kata Brian.
Mereka pun pergi mengikuti Brian.
"Tapi ... Kenapa benang itu seperti mendominasi hawa iblis di ular itu?"
Tak lama kemudian mereka pun berada di tempat yang agak tinggi dari kepala ular tersebut. Di sisi lain, Lio yang mendengar suara jeritan ular itu dan segera pergi ke sana.
"Tuan, sepertinya dia sudah terbangun" kata Kunang yang terbang di samping Lio.
"Kenapa dia bisa bangun?" gumam Lio yang saat ini tengah terbang menuruni tangga darurat.
"Sepertinya ini ulah para D'hunter itu. Mereka yang membangunkannya"
"Ck, mereka lagi. Mereka merusak rencana ku"
Beberapa saat kemudian Lio pun sampai di sana. Semua terlihat berantakan, beberapa reruntuhan beton mendominasi di sana. Terlihat juga beberapa anggota D'hunter yang sudah terluka akibat serangan dari ular itu.
"Grrrrraaaaaahhhhhh" Ular itu pun terlihat semakin marah karena para D'hunter telah merusak tidurnya. Ia pun membabi buta menerjang kan ekornya ke segala arah.
__ADS_1
"Tuan lihat dia menjulurkan kepalanya"
"Ini saatnya" gumam Lio sambil berlari ke arah ular yang mengamuk.
Ia pun memusatkan semuanya kekuatannya untuk mengeluarkan pedang kematian. Tanpa waktu lama, pedang kematian sudah berada di tangan Lio.
"Tamatlah riwayat mu" gumamnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah kepala ular tersebut. Ya, Lio bermaksud untuk menebaskan pedangnya ke benda bulat yang ada di kepala ular itu, namun tiba-tiba ...
Dor
Satu tembakan melesat ke arah mata kiri ular tersebut.
"Grahhh" ular itu pun terlihat kesakitan dan mengayunkan kepalanya kesana-kemari yang membuat Lio kehilangan keseimbangan.
"Yeah, berhasil" kata Brian penuh semangat.
"Ugghh, sial. Sepertinya tulang rusukku ada yang patah" imbuh Kenan.
"Eh, kau lihat. Siapa dia?" kata Viro sambil menunjuk ke arah Lio yang sedang bertarung melawan ular besar tersebut.
"Bukankah itu pria asing kemarin?"
Setelah terjatuh, Lio segera bangkit dan menyerang ular tersebut.
"Sial sekali. Kenapa kekuatanku mendadak hilang mendadak ada?" ucapnya sambil terus menyerang ular tersebut dengan lincah.
"LIO ... AWAS DI BELAKANG MU" teriak Nada ketika melihat ekor ular tersebut hendak menyerang Lio.
Pyaass
Di saat yang sama ketika Nada berteriak, pedang Lio pun tiba-tiba menghilang.
Bruakkk
Lio tak dapat menghindari serangan dari ular tersebut alhasil dia pun terpental.
''Ugghhh" gumamnya yang baru saja melesak ke reruntuhan beton. "Apa yang terjadi? Kenapa menghilang lagi?"
"Lio. Kau tidak apa-apa?" kata Nada yang berlari menghampiri Lio. "Sini aku bantu" lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
Lio pun menepis tangan Nada dengan kasar. "Pergi kau" Ia berusaha bangkit. "Tubuh manusia ini terlalu lemah"
"Kau tidak apa-apa?"
"Kunang? Kenapa bisa kekuatan ku menghilang lagi?" kata Lio yang tak memperdulikan keberadaan Nada. Dia terlihat seolah-olah berbicara sendiri karena Kunang tidak bisa di lihat oleh orang lain.
"Tuan ... Aku juga tidak tau. Apa mungkin karena matahari belum tenggelam?"
"Hah ... Merepotkan" Lio pun mengedarkan pandangannya lalu ia melihat ke arah saku Nada. "Ini yang aku butuhkan" lanjutnya sambil mengambil belati milik Nada.
"Lio .. Tunggu"
"Apalagi? Jangan menggangguku"
"Sebenarnya aku mau tanya. Aku melihat ada benang di leher ular itu. Tapi teman-teman ku tidak bisa melihatnya. Aku rasa, benang itu yang mendominasi hawa iblis dari ular itu"
Lio pun terdiam sejenak.
"Kunang?"
"Dia benar. Tapi aku tidak tau benang apa itu"
"Bagus. Mari kita putuskan benang itu"
__ADS_1