
Satu jam berlalu. Nada pun menghentikan mobilnya di sebuah bangunan terbengkalai di pinggir kota.
"Kau yakin ini tempatnya?" kata Lio.
"Ya. Mereka menyuruhku datang ke sini. Tapi ... Aku tidak merasa ada yang aneh di sini"
"Hemm ... Teruslah waspada"
Lio pun hendak turun namun di hentikan oleh Nada.
"Lebih baik kau tunggu saja di sini. Aku akan masuk sendiri. Takutnya mereka akan mempersulit kita jika kau ikut masuk"
"Baiklah. Aku akan mengamati mereka diam-diam"
Selanjutnya, Nada pun berjalan memasuki area gedung tersebut. Sekeliling gedung terbengkalai itu terlihat sangat gelap dengan rumput-rumput liar yang menjalar ke mana-mana. Nada berjalan dengan penuh was-was, takut jika sesuatu muncul dari sana atau sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.
Tepat saat Nada ingin masuk. Terlihat dua orang pria berbadan besar datang menghampirinya.
"Lewat sini" ucap salah satu dari mereka.
Tanpa banyak bicara Nada mengikuti mereka. Di dalam gedung itu nampak sangat gelap. Hanya ada beberapa lampu yang di pasang di tempat-tempat tertentu.
Samar-samar, Nada merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Ia menoleh ke belakang namun tidak ada siapa-siapa.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sebuah ruangan tanpa pintu yang ada di belakang gedung tersebut.
"Sudah datang kau rupanya" kata pria yang berdiri di depan Nada.
Dia adalah ketua yang dia temui kemarin di dalam bar.
"Aku sudah bawa uangnya. Ini" kata Nada sambil menunjukkan sebuah cek bertuliskan 30 miliar.
Salah satu dari pengawal mengambil cek tersebut dan memeriksanya.
"Apa aku sudah boleh pergi?''
"Eits. Tunggu dulu. Apa kau tidak khawatir dengan kedua orang tuamu?"
Nada pun terdiam sejenak. Meskipun kedua orang tuanya memperlakukan Nada dengan tidak baik. Tapi bagaimanapun juga mereka tetaplah orang tuanya. Ada rasa khawatir dan tidak tega saat mengingat kedua pasangan paruh baya tersebut.
Tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengikuti mereka. Nada bisa lebih leluasa melacak iblis itu jika mengikuti mereka.
"Mereka ... Dimana mereka?" kata Nada lirih.
Pria itupun tersenyum puas. "Sudah aku duga. Gadis baik seperti mu pasti tidak akan tega dengan orang tuanya"
''Jangan main-main. Aku sudah membayar semua hutangnya. Sekarang lepaskan mereka"
"Apa mereka di sandera di tempat iblis itu?"
"Baiklah, ayo ikuti aku"
Pria gemuk itupun pergi memandu Nada. Ada perasaan tidak tenang saat Nada mengikuti mereka.
Ia melihat kesekiling, namun tidak terlalu banyak pengawal seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa yang akan dia lakukan?"
"Kenapa kalian tidak membawa mereka datang kesini malah membawa ku pergi?"
"Heh, itu karena ada seseorang yang kurang kerjaan dan ingin mengikuti ku. Aku tidak mau repot-repot membawa mereka. Akan lebih baik jika kamu sendiri yang datang menjemput mereka"
"Apa yang dia maksud adalah Kenan dan lainya? Dia tau jika Kenan sedang mengikuti dia dan mencari informasi tentangnya"
Nada pun di bawa ke luar gedung tersebut. Di sana sudah ada sebuah mobil besar yang menunggu mereka.
"Tunggu. Kalian sebenarnya ingin membawaku kemana? Aku sudah membayar hutangnya jadi jangan berpikir macam-macam"
"Heh, tenang saja nona. Aku tidak akan melanggar ucapanku. Aku berkata akan membawamu kepada orang tuamu. Maka itulah yang akan aku lakukan"
Masih tidak tenang. Nada merasa ada hal aneh yang akan terjadi. Lagi-lagi Nada merasa ada seseorang yang mengikutinya, namun saat menoleh ke belakang tidak ada siapapun.
"Lio ... Apa mungkin itu kamu?"
"Masuklah"
Nada mengikuti pria itu dan masuk ke dalam mobil. Nada sangat cemas memikirkan Lio. Bagaimana dia bisa mengikutinya? Lio saja tidak tau caranya mengemudikan mobil.
Setengah jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di sebuah bukit yang tak jauh dari tempat tadi.
Mereka berjalan ke arah belakang bukit tersebut. Terlihat di sana kedua orang tua Nada sedang bersimpuh di atas tanah.
"Ayah, ibu ..."
"Lepaskan mereka"
"Dasar bocah sialan. Aku pikir dia akan membiarkanku mati di sini. Tidak taunya dia malah datang" gumam ayah Nada lirih.
Nada pun beralih menatap pria gemuk tadi.
"Kau mengajakku ke sini bukan hanya ingin aku melihat mereka kan?" kata Nada penuh curiga.
Pria itupun menyeringai. "Gadis pintar. Memang benar, aku mengajakmu kesini karena ada urusan lain"
Beberapa orang pun muncul dari tempat persembunyiannya dan mengepung Nada.
"Sial. Mereka menjebakku"
"Aku tau, mungkin kau bertanya-tanya. Kenapa aku tidak melepaskan mu. Itu karena kau berbahaya bagi kami"
"Apa maksudmu?" ucap nada tak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tau gadis cantik. Tadi pagi, beberapa anggota D'hunter mencoba menerobos dan mengikutiku. Aku yakin ... Kau pasti tau itu" ucapnya sambil menatap tajam ke arah Nada.
" Dia tau ... "
"Aku tidak tau apa yang kau bicarakan" ucap Nada pura-pura bingung.
"Hehe. Jangan pura-pura lagi. Aku tau kau adalah anggota D'hunter. Dan bagi tuan kami, kau akan sangat merepotkan"
"Tuan? Apa yang dia maksud iblis yang sekarang menguasai tubuhnya?"
__ADS_1
Bagi nada, hawa iblis itu terlihat di daerah kepala pria itu. Memancar seperti kobaran api, namun berwarna merah kehitaman. Hawa yang bisa di lihat oleh orang-orang tertentu. Yang artinya, sebagian kesadarannya telah di ambil alih oleh iblis.
Nada terdiam sejenak. Ia berpikir cara selanjutnya untuk keluar dari sana.
"Bagus, tangkap saja dia" gumam ayah Nada.
"Kau akan pergi dari sini?"
"Tentu saja"
"Apa kau tidak peduli dengan anakmu?" kata sang pria tadi.
"Tentu saja tidak. Lagipula dia bukan anakku" kata ayah Nada acuh tak acuh.
Satu kalimat dari ayahnya menyakiti hati Nada.
"Apa? Bukan anak? Teganya ayah bicara seperti itu. Aku sudah berusaha membantu dia. Aku sudah berusaha selam ini. Dan pada akhirnya dia bilang aku bukan anaknya?" batin Nada geram sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Oh, jadi begitu. Baik, pergi saja dari sini"
"Ayo kita pergi" kata sang ayah membawa istrinya pergi dari sana meninggalkan Nada.
"Huh, sayang sekali gadis cantik. Orang yang kau selamatkan malah tidak memperdulikan mu"
Nada hanya terdiam kesal sambil menatap kedua punggung orang tuanya yang pergi menjauh benar-benar meninggalkan dia di sana.
"Segera lakukan perintah tuan. Hanya satu anggota D'hunter, tidak akan menyusahkan kalian" lanjut sang pria itu.
Beberapa dari mereka pun pergi menghampiri Nada. Dengan cepat nada merogoh sakunya dan mengeluarkan pistol dari sana.
"Lepaskan dia!!"
Semua orang di sana pun menoleh ke sumber suara tersebut tak terkecuali Nada.
"Lio?"
"Oh astaga. Lihatlah siapa yang datang" kata pria tadi dengan ekspresi begitu senang.
"Dia adalah orang ku. Lepaskan dia" lanjut Lio sambil berjalan menghampiri.
"Tapi dia ..."
"Aku ada urusan dengan ketua. Apa kau bersedia membawaku menemuinya?" lanjut Lio yang kini sudah berdiri di depan pria gemuk itu.
"Tentu saja tuan Lio. Aku akan membawamu menghadap tuan" ucap pria itu dengan ramah. "Seret wanita itu"
"Apa kau tidak dengar? Dia adalah orang ku. Apa kau mau menyeretnya?" kata Lio penuh penekanan.
"Te-tentu saja tidak"
"Bagus. Biarkan dia ikut denganku"
Nada masih terdiam. Dia bingung dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Kenapa orang itu begitu menurut kepada Lio? Apa Lio orang yang begitu berpengaruh?"
__ADS_1