Demigod

Demigod
Bab 66


__ADS_3

Sehari setelah perjalanan jauh, mereka pun sampai di markas Layer. Tanpa banyak basa-basi Lio segera menyuruh Kevin memperlihatkan batu yang di temukan itu.


"Apa aku tidak boleh istirahat? Biarkan aku istirahat sebentar" keluh Kevin. "Aku terluka bahkan tubuhku belum pulih''


"Kau ini manja sekali" gumam Lio sambil turun dari mobilnya.


"Hey, aku juga manusia. Aku butuh istirahat. Kau pikir aku robot"


Saat berjalan masuk, Lio di suguhkan dengan pemandangan markas yang begitu luas. Dengan para pengawal yang berjaga di setiap sudut markas.


Tak lama setelah kedatangan mereka, ada seseorang yang berjalan menghampiri mereka.


"Selamat datang tuan" ucap seseorang itu sambil memberikan hormat kepda Lio dan Kevin.


"Bagaimana keadaan markas saat kita tinggal Willy? Tidak ada masalah kan?" kata Kevin.


"Tidak tuan. Markas baik-baik saja" balas Willy.


"Bagus"


"Ayo, tunjukkan jalannya. Aku ingin segera melihat batu itu" kata Lio tidak sabar.


"Baiklah, tapi setelah aku beristirahat dan makan sebentar"


"Tidak ada istirahat. Dari kemarin kita sudah membuang-buang waktu"


"Dasar gila. Aku tidak mau tau, aku akan istirahat dulu" kata Kevin sambil pergi meninggalkan Lio. "Auuh, sepertinya lukaku terbuka lagi gara-gara kesal" gumamnya.


"Tuan, sebaiknya anda juga pergi membersihkan diri dan beristirahat" kata Willy.


"Haish, baiklah. Tunjukkan jalannya"


Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Lio pun di bawa ke dalam kamar di markas itu. Samar-samar sepertinya Lio memang tak asing dengan tempat itu. Setelah mandi dan beristirahat sebentar, Lio sudah tidak sabar mencari Kevin.


"Di mana dia?" ucapnya kepada Willy.


"Aku di sini" teriak Kevin di belakangnya. "Kau ini tidak sabaran sekali"


"Sudah dua jam apa tidak cukup? Antar aku dulu ke sana, baru nanti kau boleh pergi"

__ADS_1


"Kau kan bisa pergi sendiri ke sana. Itu kan ruang bawah tanah yang kamu buat sendiri" kata Kevin. "Ah, lupa. Kau kan sedang gila" gumamnya sambil berjalan mendahului Lio.


"Tuan ... Gila?" gumam Willy bingung.


Lio pun segera mengikuti Kevin di belakangnya. Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang di maksudkan. Di sana terdapat beberapa penjaga bertubuh tinggi dan kekar yang menjaga pintunya. Saat masuk ke ruangan pun, pintu memiliki akses yang sangat ketat perlu beberapa sandi agar bisa masuk ke sana. Keamanan yang begitu tinggi demi mencegah penyusup atau pun iblis masuk ke sana, dan tentu saja itu semua adalah ide Lio sendiri.


Saat masuk ke dalam ruangan, Lio sudah mencium bau iblis yang sangat kuat. Ruangan luas dan kedap suara itu seakan menyesakkan dadanya.


"Jangan lupa tutup pintunya lagi" kata Lio, mencegah jika memang ada iblis yang ada di sana, iblis itu tidak akan bisa kabur.


Tanpa bertanya kevin segera menutup pintunya kembali.


"Ada apa? Kenapa wajahmu berubah jadi aneh?" kata Kevin.


"Aku mencium aura iblis yang sangat kuat di sini"


"Mungkin karena batu itu"


Kevin pun berjalan ke sebuah brankas yang berada di belakang lukisan kuda yang sangat besar. Setelah memasukkan beberapa kata sandi, kevin pun mengeluarkan kotak kayu dengan ukiran naga di sana.


"Kau hafal sekali dengan semua kata sandi yang ada di sini. Apa aku dulu memberitahu mu? Apa kau mencurinya dariku?" kata Lio curiga.


"Apakah dulu aku begitu mempercayai mu?" gumamnya.


"Entahlah, apa kau mempercayai ku? Aku bisa saja mengkhianati mu"


"Terserah kau saja, jika kau merugikan ku, aku bisa langsung membunuhmu" kata Lio acuh.


"Ck, aku sudah tau itu. Tenang saja, aku adalah satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianati mu di dunia ini"


"Aku tidak peduli" gerutu Lio sambil berjalan ke arah meja di sana dan menaruh kotak itu di atas meja.


Dengan tidak sabar Lio membuka kotak itu. Benar saja, aura iblis yang ia rasakan adalah dari dalam kotak itu. Saat kotak itu terbuka, terlihat batu yang mirip dengan yang ia miliki. Hanya saja warna batu itu sedikit terang.


Ia mengambil batu itu dari dalam sana dan mengamati nya. Di balik batu itu ada sebuah ukiran.


"Ini ... Bukankah ini aksara dari Nirvana?" gumam Lio lirih.


"Ada apa? Apa ada yang aneh?"

__ADS_1


"Darimana asal batu ini? Ah, maksudku. Dulu, dari mana aku mendapatkan batu ini?''


"Hem, kalau tidak salah. Waktu kita pergi ke kota Sura. Kita mau menemui ayah waktu itu. Saat di rumah ayah, entah mengapa kau menghilang seharian. Saat kau kembali, kau sudah membawa batu itu di tangan mu'' jelas Kevin.


"Kota Sura?"


"Baiklah, ayo intip ingatan anak ini" batinnya sambil memejamkan mata.


Lagi-lagi Lio tidak menemukan atau mengingat apapun.


"Kau ingat sesuatu?'' kata Kevin.


Lio hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Hem, setelah kematian ibu. Ayah meninggalkan kita sendirian di sini. Memang banyak harta yang di tinggalkan untuk kita, namun kita di telantarkan begitu saja olehnya. Aku masih sangat kecil jadi aku tidak mengerti situasi saat itu. Dulu kau juga sangat dingin jadi aku merasa tidak tau apa-apa. Setelah kita tau kabar ayah, kita pergi menemuinya. Namun setelah kita sampai di sana dia sudah sekarat. Sehari setelah kita sampai di sana, kau pun menghilang. Saat kau menghilang itulah ayah tiba-tiba meninggal" jelas Kevin panjang lebar.


"Apa aku yang membunuhnya?" kata Lio curiga.


"Kenapa kau berbicara seperti itu seolah-olah mencurigai dirimu sendiri? Tidak, dia meninggal dengan sendirinya. Aku yang menungguinya di sama saat itu. Tidak ada yang masuk ke kamarnya selain aku"


"Berarti, apa kau pembunuhnya?"


"Jangan mengada-ada Lio. Cepat katakan apa yang kau rasakan dari batu itu? Merinding bukan?"


"Tidak, tapi aura iblis di dalam sini sangat kuat. Aku merasakan seolah-olah iblis ini belum mati sepenuhnya. Atau, iblis ini masih bisa bangkit kembali?" gumamnya.


"Apa? Ini milik iblis ya?"


"Yang lebih penting lagi. Kenapa aku menyimpannya di dalam kotak kayu mahoni yang di ukir dengan gambar naga? Apa ada maksud tertentu?" gumam Lio lirih.


"Aku tidak tau, kau tidak memberitahu ku tentang kotak ini. Apa kotak ini lebih aneh daripada batunya?"


"Hem, tapi untuk lebih jelasnya aku ingin pergi ke kota Sura. Aku ingin menyelidiki dari mana asalnya batu ini"


"Daripada repot-repot, sebaiknya kau pulihkan saja otakmu dan ingat semuanya. Kota sura jaraknya jauh dari sini. Repot sekali jika kita pergi ke sana"


"Kalau aku bisa pasti akan aku ingat tentang kejadian itu. Mau bagaimana lagi, otak dari tubuh ini sepertinya sudah rusak"


"Huh, apa kau yakin mau ke kota Sura? Aku tidak yakin kau akan mendapatkan informasi tentang batu ini. Karena waktu itu, kau pergi kemana dan dapat batu ini dari mana yang tau hanyalah dirimu sendiri" jelas Kevin.

__ADS_1


"Iya juga, tapi ini lebih baik daripada mencari ingatan yang sudah menghilang. Siapa tau saat di sana aku bisa mengingat sesuatu"


__ADS_2