
Lio dan anak buahnya kini sampai di sebuah villa tujuan mereka. Setelah turun dari mobi Lio pun mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu.
Villa itu begitu sepi, dan sepertinya sudah lama tidak di huni. Banyak dedaunan yang berserakan di mana-mana. Cat di tembok-temboknya juga sudah mulai memudar.
"Tuan, anda yakin ingin masuk sendirian?" kata Yuto.
"Huh" desah Lio panjang sambil berkacak pinggang.
Ia pun mulai memejamkan matanya mengirup semua aroma yang ada di sana, namun sepertinya dia tidak menemukan aroma iblis sedikitpun.
"Tidak ada jejak iblis? Lalu di mana jejak iblis yang tadi aku cium di jalan? Bukan di sini?"
"Tempat ini lumayan luas juga, tapi sayang. Kotor sekali'' gumam Lio.
"Sejak tuan besar meninggal, tempat ini sudah tidak di huni lagi. Apa perlu kita menelusurinya terlebih dulu? Katakan apa yang anda cari tuan, kami akan membantu anda" kata Baga.
"Apa yang aku cari? Aku mencari ingatanku. Apa kalian bisa membantuku?" ucap Lio dengan ketus.
"Em, ini ..."
"Sudahlah, aku akan masuk sendirian. Kalian di sini saja" Lio hendak pergi dari sana, namun di hentikan oleh Yuto.
"Tuan, sebaiknya anda membawa ini" kata Yuto memberikan sebuah bolpoin. "Jika anda butuh bantuan kami, hanya tinggal pencet ini saja" lanjutnya sambil menunjuk bagian atas bolpoin itu.
"Hah, baiklah. Aku akan membawanya" Lio pun menerima bolpoin itu dan segera memasukkannya ke dalam saku. "Aku akan masuk sekarang"
Lio pun pergi berjalan masuk ke dalam villa itu.
"Apa menurutmu tuan akan baik-baik saja?" kata Yuto.
"Tentu saja, dia kan orang hebat. Aku pernah melihatnya bertarung, setidaknya sekumpulan serigala bukanlah tandingannya" jawab Baga.
"Benarkah? Wah, beruntung sekali bisa melihatnya bertarung. Seumur hidupku baru kali ini aku bertemu dengannya. Eh? Apa kau dulu pernah menjadi pengawalnya langsung?"
__ADS_1
"Ya, hanya beberapa waktu yang lalu. Dia adalah orang yang berpendirian kuat, juga orang yang sangat kejam. Maka, jika dia bilang sesuatu, jangan pernah menyangkalnya ataupun bertanya lebih. Selain kita menjawab dan menuruti perintahnya, lebih dari itu akan membuat dia kesal"
"Ah, jadi tadi kau tidak banyak bicara dan membantah karena itu ya?"
"Hem, dia paling benci orang cerewet''
"Astaga. Apa dia akan memenggal ku? Aku cerewet sekali barusan" gumam Yuto.
Lio memasuki tempat itu, ia hanya berkeliling tanpa arah di sana.
"Huh, darimana aku harus memulainya?" gumam Lio sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Jika saja ada Kunang di sini, pekerjaanku akan selesai lebih awal"
Lio pun melangkahkan kakinya berjalan menaiki tangga. Setelah sampai di lantai atas, Lio mendapati aura yang tidak asing baginya. Seperti sudah lama tempat itu di tinggali seorang iblis.
"Bukankah dulu ibunya mati karena depresi? Dia gila karena ayahnya bersekutu dengan iblis. Apa karena itu dia pergi ke tempat ini?" gerutu Lio sambil mengingat-ingat ingatan yang ada di kepalanya.
Setelah beberapa saat ia berjalan menelusuri seluruh ruangan, Lio pun berhenti di sebuah kamar saat melihat guci yang ada di sana. Entah mengapa, guci itu begitu menyita perhatiannya. Lio berjalan mendekati guci dengan motif burung bangau itu. Setelah beberapa detik memandangi guci itu, tiba-tiba seluruh ingatan berputar begitu cepat di kepalnya.
"Ugh" gumam Lio memegangi kepalanya.
"Apa itu artinya, guci ini ada hubungannya dengan ingatannya?"
Tanpa berpikir panjang, Lio segera keluar dari ruangan itu dan mengikuti langkah Lio asli yang ada di ingatannya. Lio berjalan cepat tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya di balik sudut ruangan.
Langkahnya begitu cepat berjalan ke samping Villa itu, lebih tepatnya ia berjalan ke belakang villa itu. Setelah sampai di sana, Lio di hadapkan oleh sebuah hutan bambu. Suasana di sana begitu mencekam, hutan bambu itu begitu menakutkan. Namun sayangnya, ingatan Lio hanya sampai di situ. Hanya bisa mengantarkannya sampai di hutan bambu tersebut.
"Tidak masalah, aku akan mencarinya sendiri'' gumam Lio tanpa ragu melangkahkan kakinya ke dalam hutan bambu itu.
"Aura ini sangat tidak asing, ini seperti aura iblis dari batu itu. Jadi iblis itu bersembunyi di sini sebelumnya? Lalu darimana Lio tau kalau di sini tempat persembunyian iblis? Astaga, hidup anak ini begitu banyak teka-teki" gumam Lio.
Saat sedang fokus melihat tempat itu, tiba-tiba ada sebuah benda tajam yang menancap di punggung belakangnya.
"Ugh"
__ADS_1
Lio pun muntah darah karena hal itu, ia segera membalikkan badannya dan mendapati seorang pria sedang menusuknya dengan sebuah pisau.
"Siapa kau?" kata Lio.
"Hahaha, akhirnya aku membunuhmu juga. Cepat katakan di mana tuanku?" kata pria paruh baya itu.
Dia nampak pucat, dan tatapan matanya bukan seperti manusia biasa.
Pria itu menarik pisaunya dari punggung Lio membuat darah mengucur deras dari sana. Sebelum pria itu berhasil menghunuskan pisaunya lagi, dengan cepat Lio menangkap tangannya.
"Huh, ternyata kau bukan manusia ya?" kata Lio saat tau ada yang aneh dengan orang tersebut. "Pantas saja aku tidak menyadari kedatangan mu, aku juga tidak mendengar detak jantung dan nafas mu, ternyata kau mahkluk yang tidak punya jantung? Tuan? Siapa tuan mu?"
"Jangan banyak bicara, cepat katakan di mana tuanku? Aku harus mengantarnya ke tuan besar agar dia bisa hidup kembali"
"Oh, astaga. Apa maksudmu iblis pemilik batu yang di temukan Lio? Jadi dia adalah tuan mu? Apa dia yang mengubah mu menjadi mahluk abadi seperti ini? Hebat sekali dia"
"Jika kau tidak memberitahuku, kau akan ku habisi. Sudah setahun lamanya aku menunggumu, akhirnya kamu datang juga ke sini. Ingat Lio, aku bukanlah tandingan mu'' kata pria itu mengancam.
"Kau tau namaku? Apa kita saling kenal?"
"Dasar anak durhaka, akan ku bunuh kau" kata pria itu terlihat marah, ia pun kembali menyerang Lio.
Dengan cepat Lio menghindarinya.
"Kau dan dewa itu sama-sama menyebalkan. Kalian berdua telah membunuh tuanku. Kembalikan tuanku kepadaku, aku akan membangkitkan nya lagi" ucapnya tanpa berhenti menyerang Lio.
"Sebenarnya siapa orang ini? Kenapa dia kenal dengan Lio dan mau membunuhnya?"
"Oh pak tua, aku tidak mengerti ucapan mu" kata Lio.
"Kau tidak mengerti ucapan ku?" pria itu berhenti sejenak. "Gara-gara kau dan dewa itu, aku jadi terjebak di tempat ini. Waktu itu, tuan sedang memproses ku agar menjadi mahkluk abadi. Namun kalian datang dan membunuhnya, sehingga proses itu pun gagal dan membuatku terkurung di tempat ini. Kalian berdua adalah bencana di dalam hidupku. Kau tau, aku sangat frustasi karena tidak bisa mengejar kalian di luar sana. Aku sangat kesal karena kalian masih bisa hidup dengan tenang di sana. Namun aku tidak menyangka, setahun kemudian kau sendiri yang mengantar nyawamu ke sini" kata pria itu.
Beberapa saat Lio pun terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Ayah?"