Demigod

Demigod
Bab 43


__ADS_3

"APA?" teriak Lio tak percaya. "Ugghh" Dia merasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Lio tenanglah. Kau baru saja siuman" ucap Nada sambil memegangi bahunya.


"Kenapa tiba-tiba aku begitu fasih dan mengerti bahasa mereka?"


"Terdapat tiga tulang rusuk mu yang patah. Lalu ada sedikit cidera di tulang belakang mu. Itu menjadikan mu koma beberapa bulan. Terlebih lagi, kau juga kehilangan banyak darah. Setelah siuman kau harus menjalankan terapi" jelas dokter tersebut yang kerap di sapa Cleo.


Dokter Cleo adalah seorang pria berusia 40 tahun. Dia merupakan paman dari Kenan.


"Sial! Kenapa bisa sampai seperti ini?" gumam Lio lirih. Ia pun mengingat-ingat kejadian terakhir kali.


Benar saja, saat dia menyelamatkan Nada dari lembah kehancuran sempat terkena akar dari lembah kehancuran yang membuatnya pingsan.


"Lio ... Kau jatuh dari ketinggian karena menyelamatkan ku" kata Nada.


Dia masih ingat betul. Saat itu, meskipun dia hampir sepenuhnya tidak sadarkan diri. Tapi dia bisa melihat Lio yang menyeruak masuk ke dalam gumpalan hitam itu untuk menolongnya.


Setelah gumpalan itu hancur oleh kekuatan Lio. Mereka jatuh bersama, Lio memeluk tubuh nada dan melindunginya sampai akhir.


Karena itulah Lio mendapatkan luka yang cukup serius. Nada merasa bersalah kepada Lio.


"Aahh, sial. Kalau seperti ini jalan kedepan akan jauh lebih susah" gumam Lio lagi.


"Tidak apa. Aku akan menemanimu sampai sembuh"


"Pergi saja sana. Aku tidak membutuhkanmu" ucap Lio ketus.


"Tapi ..."


Wajah Nada terlihat lesu mendengar ucapan Lio.


"Kesedihan? Aku bisa mencium aroma kesedihan darinya"


Lio pun menatap nada tak tega. Kenapa dia begitu sedih? Kenapa hanya karena kata-kata itu saja bisa membuat dia begitu sedih? Kenapa dia begitu putus asa? Itulah yang Lio pikirkan saat ini.


"Aku hanya butuh istirahat. Kau pergilah'' kata Lio lirih.


"Oohh. Baiklah"


Sedangkan tanpa sepengetahuan mereka, Dokter Cleo menatap Lio tak henti-hentinya. Ada pandangan penasaran sekaligus curiga yang ia torehkan ke muka Lio.


"Ayo dokter Cleo. Kita harus membiarkan dia istirahat" ucap Nada yang mengagetkan Dokter Cleo.


"Oh? Baiklah. Nanti aku akan menyuruh perawat untuk memeriksa lukanya"


Mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang inap Lio.

__ADS_1


"Enam bulan? Yang benar saja" gerutu Lio tak percaya. "Hanya patah tulang saja sampai tak sadarkan diri begitu lama. Kenapa tubuh manusia lemah sekali?" ucapnya dengan kesal.


"Dan lagi. Ada apa dengan dokter itu? Aku merasa dia menatap ku dari tadi"


Sedangkan di tempat lain. Terlihat dokter Cleo dan Kenan sedang berbicara di ruangannya.


"Bagaimana? Apa ada yang aneh?" kata Kenan.


"Entahlah. Aku masih belum meriksanya"


"Apa kau benar bisa mendeteksi dia adalah iblis atau bukan? Jika tidak bisa percuma saja aku membawanya jauh-jauh ke sini" kata Kenan sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Tentu saja aku bisa. Dan hanya aku yang bisa. Kita tidak boleh terburu-buru, jika dia benar-benar iblis ini pasti akan sangat berbahaya" ucap dokter Cleo sambil menaruh tangannya di atas meja kerjanya.


"Aku penasaran seperti apa sebenarnya dia sampai kau begitu mencurigainya"


"Heh, sudah aku bilang. Ada begitu banyak hal yang membuatku aneh. Dia bisa membunuh iblis begitu saja. Dia juga tau banyak tentang iblis. Kekuatannya bukanlah kekuatan manusia. Aku rasa, dia mungkin saja iblis yang memasuki tubuh manusia dan bersembunyi di sana. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa mengganggunya. Maka dari itu kau harus memastikannya. Aku dan yang lain sudah bersiap melumpuhkannya sekarang juga"


"Lalu bagaimana dengan Nada? Bukankah dia bisa melihat hawa iblis? Jika dia berada di hadapannya, tentu saja dia akan sadar kalau dia iblis"


"Jika nada tau dia adalah iblis, untuk apa aku membawanya ke sini?" kata Kenan meremehkan. "Aku rasa dia sudah mempengaruhi Nada. Dia begitu percaya dengan pria itu. Aku takut dia hanya ingin memanfaatkan nada sebagai temeng agar bisa bersembunyi dari D'hunter"


"Huh ... Baiklah. Malam ini aku akan bergerak. Dan kalian harus siap siaga. Aku tidak mau, setelah mengeceknya lalu aku mati sia-sia"


"Baiklah, saat kau masuk malam ini. Aku dan yang lain akan berada di luar untuk berjaga-jaga"


Dokter Cleo pun terdiam sejenak lalu menatap sang ponakannya itu.


Kenan menggelengkan kepalanya pelan. "Kami tidak mau memberitahu dia. Dia pasti akan menghalanginya jika tau"


"Ya, aku tau. Aku melihat sendiri betapa dia mengkhawatirkan pria itu"


"Huh ... Aku ingin segera membuat dia menjauh dari Nada. Jika dia benar-benar iblis, dia sangat berbahaya bagi Nada"


"Kau tenang saja. Aku jamin malam ini kita akan mendapatkan jawabannya"


"Tapi jika dia iblis. Kenapa tubuhnya benar-benar seperti manusia biasa? Tidak ada luka yang sembuh dengan cepat. Luka yang begitu parah, penyembuhannya pun begitu lama"


Hari menjelang malam, di ruangannya Lio nampak sedang bersandar di ranjangnya.


"Ayolah sekali lagi" ucap Nada sambil menyodorkan sesendok bubur.


"Apa kau gila? Sudah ku bilang aku tidak mau"


"Kau hanya makan satu sendok. Kau harus makan lagi agar cepat pulih" ucap Nada memaksa.


"Aku tidak mau. Itu menjijikkan sekali. Aku tidak mau makan makanan sampah itu"

__ADS_1


"Ayolah Lio ... Jangan kekanakan, kau perlu makan lalu meminum obatmu. Apa kau tidak mau sembuh? Kau masih harus mencari iblis bukan?"


Lio pun terdiam. Benar juga, tubuh ini begitu lemah berbeda dengan tubuh dewannya. Dia harus segera mencari raja iblis lalu kembali ke Nirvana.


Apa boleh buat. Dia harus menurut dengan perkataan Nada. Ia pun melirik Bubur yang membuatnya muak itu.


"Haahh, baiklah baiklah. Aku akan memakannya" ucap Lio dengan enggan.


Dia segera merebut mangkuk itu dari tangan Nada.


"Baguslah"


Setelah melahap dengan cepat bubur itu, Lio pun segera menenggak air putih dan meminum obatnya.


"Aku tidak mau makan sampah itu lagi" ucapnya dengan kesal sambil berbaring perlahan di atas kasurnya.


Nada tersenyum senang. "Baik, besok aku akan membawakan makanan yang lezat untukmu"


"Huh, awas saja kalau kau memaksa ku memakan makanan sampah lagi"


"Tidak akan" ucap Nada sambil menatap Lio gemas.


Sepersekian detik kemudian, Lio pun terlelap dalam tidurnya.


"Cepat sekali. Apa ini efek obat yang dia minum tadi? Baguslah, dia harus istirahat dengan baik"


Nada pun meninggalkan ruangan Lio. Tak berapa lama, dokter Cleo pun masuk ke dalam.


Dia mendapati Lio sudah tertidur dengan pulas.


"Baiklah. Ayo kita lakukan" ucapnya sambil mengeluarkan belati yang terbuat dari perak.


Dengan cepat ia mengarahkan belati itu ke dada kiri Lio, hendak menikamnya. Tiba-tiba saja Lio menahan tangannya.


"Apa?" gumamnya kaget.


Lio masih terpejam, namun dia terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Aakkkhh" teriak dokter Cleo tertahan saat Lio mencekik lehernya.


"Ugghhh, kuat sekali"


Dokter Cleo tak tinggal diam, dia pun sama mencekik leher Lio. Dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan balik Lio.


Dalam mata terpejam, terlihat Lio juga begitu melawan dokter Cleo. Otot-otot yang ada di wajahnya seakan mencuat dari kulitnya.


"Aakkkhhh. Aku ... Tidak ... akan ... Menyerah" ucap dokter Cleo sekuat tenaga mencekik Lio.

__ADS_1


Tak berselang lama, sebuah cahaya menyilaukan matanya. Dia tercengang, saat cahaya biru laut itu membuat matanya nanar.


"Di-dia ..."


__ADS_2