Demigod

Demigod
Bab 41


__ADS_3

"Kau yang akan habis dasar dewa busuk" geram sang iblis, ia pun mengarahkan tangannya.


Seketika gumpalan angin itu menyerbu Lio.


Blarr blarr


Gumpalan itu meletup saat Lio menjentikkan jarinya.


"Jangan sombong dulu, itu belum seberapa" gumam Sang iblis.


Beberapa gumpalan angin itu berubah menjadi gumpalan hitam yang sangat pekat.


"Lio ..." gumam Nada. Wajahnya terlihat sangat gelisah juga cemas.


"Tenang saja" kata Lio sambil mengeratkan pelukannya. "Dia bukanlah apa-apa"


Saat gumpalan hitam itu melesak ke arah mereka, beberapa belati tak tau dari mana arahnya datang dan menembus ke dalam sana.


"Hahahaha. Kamu pikir itu cukup untuk memusnahkannya"


Blub blub blub


Gumpalan itu semakin lama semakin membesar.


"Benda apa itu?" gumam Nada merasa jijik.


"Lembah kehancuran" kata Lio. "Lembah kehancuran milik dewa angin. Rupanya, iblis ini telah mengambil alih kekuatannya"


"Bukankah ini akan jauh lebih susah lagi untuk mengalahkannya? Dia punya kekuatan dewa"


Kreekk


Lio memelintir gagang pedang kematian yang baru saja dia keluarkan.


"Tidak jadi masalah. Dia telah memakan jantung dewa itu maka yang perlu kita serang adalah jantungnya. Di sanalah letak semua kekuatannya. Membunuh dia harus melewati jantungnya, jika tidak maka serangan besar apapun akan sia-sia" jelas Lio.


"Aku sedikit khawatir. Apakah bisa mengalahkannya? Lihatlah, gumpalan itu semakin mendekat"


"Hati-hati, gumpalan itu bisa membuat kita terserap kedalamnya. Jika sudah terjebak, kita tidak akan bisa keluar dengan mudah. Bahkan, tubuh manusia pun bisa tercabik-cabik sampai hancur"


"Hihihi ... Kau tau banyak rupanya. Kekuatan dewa busuk seperti kalian memang sangat hebat, namun sayang. Kalian tetap tidak bisa mengalahkan kami" kata iblis itu dengan sombongnya.


Lio menyeringai sambil mengarahkan pandangannya ke arah iblis itu.


"Tentu saja aku tau banyak, karena aku tau betul siapa pemilik kekuatan ini"


Lio mengarahkan pandangannya, dan beberapa belati pun terbang menyerbu dada kiri iblis tersebut.


Blub blub blub


Lagi-lagi, gumpalan hitam itu melindungi tubuh Sang iblis.

__ADS_1


"Hihihihihi, kau tidak akan mudah mengalahkan ku"


Beberapa waktu berlalu Lio dan iblis itu bertarung dengan kekuatan mereka. Tanpa mereka sadari, asap yang keluar dari tubuh iblis itu pun semakin menipis.


"Apa Nada akan selamat?" kata Tiara sambil menatap ke arah kepulan asap itu.


"Tentu saja. Aku yakin pria itu bisa menyelamatkannya"


"Kau masih penasaran bagaimana dia bisa melukai iblis itu. Kita saja tidak mampu melukai seinci kulitnya" gumam Viro.


"Heemm ... Apa yang dia lakukan dengan asap itu? Aku juga penasaran" imbuh Tiara.


"Tapi ... Apa yang di katakan Nada benar? Dia adalah dewa?" gumam Brian yang ikut penasaran.


"Mana ada dewa di dunia ini? Kalau pun ada tidak mungkin berwujud manusia biasa seperti itu kan?" protes Viro.


"Matamu yang mana yang melihat dia manusia biasa?" kata Brian. "Jika dia manusia biasa, dia tidak akan bisa membawa kita pulang saat berada di hutan itu. Dia bahkan bisa mengalahkan iblis laba-laba itu sendirian. Sebelumnya aku meremehkan dia, tapi di lihat-lihat lagi. Dia memang bukan orang biasa"


"Kau benar. Dia juga yang mencabut kaki iblis itu dari dadaku" gumam Viro lirih sambil mengusap dada kanannya.


"Hemm ... Aku setuju. Tapi aku masih penasaran bagaimana dia bisa mengalahkan iblis-iblis itu. Jika yang di katakan Nada benar, berarti kita memang tidak bisa melihat dia bertarung" tambah Nada.


"Mungkin saja. Karena dewa punya kekuatan mereka masing-masing" gumam Kenan yang sedari tadi diam saja.


Beberapa waktu berlalu, namun Lio masih tidak bisa menembus dada iblis itu yang di lindungi dengan sangat hati-hati.


Mata Lio tertuju ke arah samping. Terdapat celah dari asap itu.


"Kau lihat itu?"


"Aku akan menurunkan mu di sana. Setelah itu bawa semua temanmu pergi dari sini. Agar aku bisa bertarung lebih leluasa. Lagi pula, ledakan benda hitam ini akan melukai mereka" jelas Lio.


Nada hanya mengangguk setuju.


Lio pun melesat ke arah tempat yang ia maksud, saat dia melepaskan nada agar bisa keluar dari asap itu. Iblis itu sudah terlebih dulu menangkap nada dengan gumpalan hitam yang ia punya.


"Lio ..." teriak Nada yang perlahan masuk di telan gumpalan itu.


Blub blub blub blub


"Hahahaha. Selanjutnya aku akan memakan mu gadis manis"


Lio hanya menatap datar iblis itu. "Kau ini ... Sungguh merepotkan!!" Lio melesat ke arah dada kiri iblis itu.


Meskipun di sana terus di lindungi gumpalan hitam, Lio terus membabi buta titik lemahnya itu.


Blammm


Sebuah gumpalan meletup dan membuat sedikit celah. Lio tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat dia menusukkan pedangnya di dada kiri sang iblis.


"AARRGGGHHH"

__ADS_1


"Kena kau sekarang" gumam Lio lirih lalu memelintir pedangnya.


"AARRGGGHHH. TIDAK!! JANGAN!!"


Iblis itu meronta-ronta hendak melepaskan diri nun tidak ada kesempatan.


Srraahhh


Darah mengucur deras saat Lio mencabut pedangnya.


"Satu serangan lagi. Kau akan menghilang dari dunia ini" lanjutnya sambil menaruh mata pedangnya di hadapan wajahnya.


Terlihat kilatan mata biru khas dewa Lodra telah memancar dari mata Lio.


"Ka-kau ..." gumam iblis itu yang sudah lemas. "Bagaimana pun juga, kau akan hancur bersamaku"


Sring sring sring


Dengan hitungan detik, iblis itu sudah berubah menjadi cincangan daging di hadapan Lio.


Meskipun iblis itu sudah mati, namun gumpalan hitam itu masih ada.


Lio menutup matanya dan memusatkan seluruh kekuatannya. Dengan cepat dia menusuk-nusuk gumpalan itu dan semuanya pun pecah membuat gelegar yang sangat dahsyat.


Tinggal satu gumpalan yang tengah membelenggu Nada. Lio hendak meletupkannya juga namun ia tahan.


Ia pun pergi masuk ke dalam gumpalan itu. Sesak, sangat gelap. Di sana nada sudah tak sadarkan diri seperti tenggelam di air hitam yang sangat kotor.


Lio berusaha menarik nada namun ada sesuatu yang sedang menariknya. Wajah nada terlihat pucat pasi. Ya, di dalam lembah itu manusia biasa akan mati dengan cepat. Lalu mereka perlahan akan di gerogoti oleh akar-akar dari lembah itu sendiri.


"Bangunlah manusia bodoh" ucap Lio dalam hati.


Iapun memutuskan akar yang ada di kaki Nada. Dengan cepat dia menarik nada ke dalam pelukannya. Lagi-lagi, saat Lio melihat wajah tak berdaya Nada. Dia kembali teringat akan seseorang.


"Kenapa? kenapa dia mirip sekali dengannya?"


Alam bawah sadar Lio terus menyadarkan dia kalau keadaan semakin berbahaya.


Ia pun mengeluarkan pedang kematiannya. Dia peluk erat-erat tubuh nada agar tidak terpisah saat jatuh bersamanya nanti.


Benar saja, saat Lio menghancurkan gumpalan itu. Lio baru sadar bahwa mereka berada di ketinggian yang sudah tak dapat ia jangkau lagi.


Ia ingin menggunakan kekuatannya, nun tidak bisa.


Booommmm


"Apa itu?'' gumam Tiara sambil melihat ke arah nada dan Lio yang terjun bebas di ketinggian. "NADA!!"


"Apa? mereka jatuh, cepat tangkap mereka"


Para anggota D'hunter berlari ke arah nada dan Lio hendak menolong mereka.

__ADS_1


Boom


Mereka terlambat, nada dan Lio sudah mendarat tepat di tanah dan tak sadarkan diri.


__ADS_2