Demigod

Demigod
Bab 64


__ADS_3

Kevin mengibas-ngibaskan telapak tangannya.


"Cih, bagaimana bisa aku terjatuh di atas kotoran ayam? Sial, menyebalkan sekali" gerutu Kevin kesal. "Ini adalah hari terburuk dalam hidupku"


Ia pun segera berdiri dari tempat itu dan mencabut belati yang menancap di lengannya.


"Hah, harusnya aku tidak menyewa vila ini tadi. Iblis setan itu sangat menyebalkan" gumamnya.


Setelah mengedarkan pandangannya, dia baru sadar jika kini dia sedang berada di samping kandang ayam.


Tak berselang lama, para anak buah Kevin yang masih di pengaruhi iblis sudah berada di hadapannya.


"Cepat pikirkan cara bagaimana membangunkan mereka Kevin. Kalau tidak kamu akan menjadi daging cincang sebelum Lio datang menolong mu" ucapnya pada diri sendiri.


Sedangkan di tempat lain, Lio sedang kesakitan di dalam kamarnya.


"Akkh, iblis sialan. Keluar kau dari tubuhku"


"Hihihi. Sayangnya aku tidak mau. Tubuhmu ini begitu kuat ya. Alam bawah sadar manusia biasa yang aku ambil alih biasanya akan kehilangan kesadaran seketika. Sedangkan kamu ... Bahkan masih bisa menjawab dan mendengarkan ku. Hebat, kamu pasti bukan manusia sembarangan. Tidak apa aku masih bisa mengendalikan seluruh tubuhmu"


Tiba-tiba tangan Lio bergerak sendiri dan menampar wajahnya.


"Hahaha. Bagiamana rasanya menampar dirimu sendiri? Apakah sakit? Kalau sakit jangan di tahan. Berteriak lah, aku akan senang mendengarnya"


"Iblis jelek. Jika aku menangkap mu maka aku akan menguliti mu" gumam Lio geram.


"Hihihi. Coba saja"


Tubuh Lio pun berjalan ke arah meja dengan sendirinya. Ia pun mengambil sebuah vas bunga di sana dan memecahkan vas itu di kepalanya sendiri.


"Whuahahaha. Lihatlah dirimu. Kau bahkan tidak bisa lepas dari kendaliku"


Wajah Lio berubah masam. Darah segar mengalir begitu saja dari kepalanya.


"Pertunjukan yang sangat menarik. Jika aku bisa menguasai seluruh kekuatanmu tadi. Aku akan menjadi iblis terkuat. Hahaha. Dan aku akan bersemayam di tubuhmu, perlahan menggerogoti mu dari dalam lalu mengambil sepenuhnya tubuh mu ini"


Iblis itupun menggerakkan tubuh Lio ke arah jendela kamar. Jendela itu sangat lebar, dan hanya terdapat kaca di sana.


Tangan Lio tiba-tiba bergerak ke arah kaca tersebut.


"Hah? Ada apa? Kenapa kekuatan manusia ini tidak bisa keluar seperti tadi?"


Lio menyeringai. "Kamu memang bisa menguasai tubuh ini karena dia adalah manusia. Tapi tentang jiwa, aku adalah dewa. Makhluk rendah sepertimu mana pantas mengendalikan ku"


Lio pun masuk ke dimensi lain ke dalam alam bawah sadarnya. Di sana ia mendapati iblis tersebut.


Iblis itu sangat terkejut ketika melihat wujud asli dewa Lodra. Wajah yang sama, namun penampilannya, rambutnya, dan yang terpenting jubah hitam dengan motif naga yang kini dikenakannya. Semua itu memancarkan aura tersendiri.


"Kau- Siapa sebenarnya dirimu?" gumam Iblis itu.


"Aku? Bukankah tadi sudah aku bilang bahwa aku adalah dewa. Karena kau sudah masuk ke dalam sini, maka matilah di sini juga"

__ADS_1


Dewa Lodra pun mengibaskan jubahnya dan bola api pun segera melesak ke arah iblis itu. Iblis itu tidak sempat mengelak hanya bisa menahannya namun api naga begitu ganas menyerangnya.


Bommm


Sebuah letupan menimbulkan asap biru kehitaman. Setelah api dan asapnya padam, iblis itu tak terlihat berada di sana.


"Kamu pikir aku akan takut meskipun kamu adalah dewa? Selagi aku menguasai alam bawah sadar mu, maka kamu tidak akan bisa membunuhku" kata iblis itu yang kini sudah berada di belakang Dewa Lodra.


"Benarkah? Mari kita lihat, sampai mana kehebatan mu itu"


Dewa Lodra pun mengeluarkan pedang kematiannya. Kilau dari mata pedang itu, entah mengapa membuat sang iblis menjadi bergidik ngeri.


Dengan cepat Dewa Lodra berlari ke arah iblis itu. Pertarungan sengit pun di mulai. Seperti sebuah kilatan cahaya mereka bertarung tanpa henti. Sama-sama cepat namun iblis itu bukan tandingan dewa Lodra.


Boom


Iblis itu terpental dan terlihat beberapa goresan di tubuhnya.


"Uhuk, kenapa ... Kenapa luka ku tak kunjung menutup juga?" gumam iblis itu sambil terduduk.


"Kamu tau kenapa?" kata Dewa Lodra yang kini sudah melayang di hadapannya. "Itu karena pedang kematian ku. Bekas luka yang di timbulkan akan memperlambat penyembuhan kalian. Dan sekali tebas, jangan harap bisa hidup kembali"


"Tidak bisa seperti ini. Aku tidak mau kalah secepat ini"


Iblis itu hendak berlari, namun Dewa Lodra berhasil menghentikannya.


Blaarr


"Mau kabur? Jangan harap"


Saat Dewa Lodra hendak menyerang kembali terdengar dentuman yang begitu keras di sana. Ya, iblis itu merusak perlindungan alam bawah sadar Lio dan segera kabur dari tubuhnya.


"Uhuk" Lio pun terduduk dan memuntahkan darah.


Ia kembali ke dunia nyata, mengedarkan pandangannya mencari iblis itu. Iblis itu juga terlihat tergeletak di samping meja. Dia juga terluka parah.


"Huh, kamu pikir meskipun keluar dari alam bawah sadar ku, maka kau bisa lari? Mimpi saja, karena api naga ku akan mengubah mu menjadi abu"


Benar saja, ruangan itu masih di kelilingi api naga milik Lio, namun terlihat tidak terlalu membara seperti sebelumnya.


"Huh, kita lihat saja"


Tak berselang lama, pintu kamar yang di kunci Lio dengan kekuatannya terbuka. Terlihat seorang anak buah Kevin tengah membuka pintu itu atas kendali sang iblis.


"Hihihihi. Aku sudah menduganya. Meskipun aku akan terluka jika menembusnya. setidaknya aku tidak kan mati di sini"


Swoooosss


Iblis itu menerobos api begitu saja dan keluar dari tempat itu.


"Ah, sial. Dia kabur begitu saja" gumam Lio.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Kevin tengah terduduk di samping pagar villa.


"Huh, lelah sekali' gumamnya menghela nafas panjang. "Ahh sial, luka ku cukup dalam juga" imbuhnya melihat ke arah lengan dan juga perut sebelah kirinya yang tertusuk belati akibat berkelahi dengan anak buahnya.


Sedangkan semua anak buah Kevin kini sedang duduk mengelilingi pohon dan terikat di sana.


"Tidak mudah juga menaklukan kalian. Bagus, sepertinya aku melatih kalian dengan baik" gumam Kevin.


"Hooam''


Para anak buah Kevin pun terbangun dari tidur nya dan kebingungan saat mendapati mereka terikat satu sama lain di bawah pohon besar itu.


"Hah? Kenapa ini? Kenapa kita berada di sini?"


''Apa ada musuh yang datang tiba-tiba?"


"Aku terlalu mengantuk sehingga tidak sadar jika terikat"


"Jangan banyak bicara, cepat lepaskan talinya"


Dasarnya memang pasukan elit, membuka tali adalah hal yang mudah bagi mereka. Tak butuh waktu lama mereka sudah melepaskan diri dari tali itu.


"Kita harus mencari pimpinan dan wakil pimpinan, mereka mungkin dalam bahaya"


"Eh? Bau apa ini?"


"Ih, Kenapa aku baru sadar? Bau nya busuk sekali, apa kau tidak mandi?"


"Kepalamu. Tentu saja aku sudah mandi"


"Apa itu yang ada di wajahmu?"


"Hey, di wajahmu juga"


Mereka pun meraba wajah masing-masing terdapat beberapa kotoran di sana.


"CIH! TAI AYAM" teriak mereka serempak.


"Ueekk. Berani-beraninya menaruh kotoran ayam di wajahku"


"Iihh, ini menjijikkan sekali"


"Hey? Kalian sudah sadar?" gumam Kevin lemah di samping pagar dan di terangi cahaya bulan. "Jika sudah sadar jangan berisik"


"Wakil pimpinan!"


Mereka bergegas menghampiri Kevin yang sudah lemas akibat kehilangan banyak darah.


"Tuan, apa yang terjadi kepadamu?"


"Hahaha. Lihat wajah kalian. Sepertinya jurus tai ayam ku mempan untuk membangunkan kalian" gumam Kevin lalu pingsan.

__ADS_1


__ADS_2