Demigod

Demigod
Bab 47


__ADS_3

"Apa yang sedang mereka lakukan?" batin Nada yang kini masih tertunduk.


Semua anggota D'hunter pun masih tetap berada di tempatnya. Mereka hanya melirik Lio dan ketua Ca hanya terdiam saling pandang, namun mereka tidak tau bahwa mereka berdua sedang memasuki dimensi lain.


"Darimana kau mendapatkan pedang itu?" kata dewa Candra.


"Itu bukan urusanmu. Kenapa kau menarik ku kembali? Apa ada sesuatu yang masih ingin kau bicarakan dengan ku secara rahasia?" ucap Lio sambil menaikkan sebelah alisnya, dia tau kalau dewa Candra sedang merencanakan sesuatu.


"Tidak ada ... Hanya saja"


Swoosss


Secepat kilatan cahaya, dewa Candra sudah berada di belakang Lio. Anehnya Lio sama sekali tidak bisa bergerak, ia juga tidak bisa menolehkan kepalanya.


"Aku sangat membutuhkan pedang ini, kau seharusnya berbaik hati memberikannya kepadaku kan?" ucapnya.


Lio hanya menyeringai, saat dewa Candra hendak menyentuh pedang kematian di tangan Lio tiba-tiba kobaran api naga menyerangnya. Dewa Candra pun segera menghindar darinya.


"Huh, lumayan. Tapi kau tidak bisa terhindar dari jurus pengikat cahaya dariku" ucapnya.


"Oh? Benarkah?" kata Lio meremehkan. "Tapi kau juga tidak tau betapa kuatnya jurus api naga milikku" lanjutnya sambil tersenyum meremehkan.


Tiba-tiba saja, api biru itu berubah pekat membuat sebuah ikatan tali yang mengikat tubuhnya kini perlahan terlihat jelas. Semakin membara semakin tali itu terlihat menyala bagikan kilatan cahaya.


Pyaasss


"Huh, kau pikir hal semacam ini bisa memperdaya ku?" kata Lio meremehkan, ia pun berjalan menghampiri dewa Candra.


"Hanya jurus biasa, boleh juga. Tapi, aku hanya menginginkan pedangmu. Dengan begitu aku bisa mengekstraknya menjadi senjata para D'hunter. Setelah itu, aku bisa menciptakan pembasmi iblis yang tak terkalahkan" ucapnya.


"Oh, jadi itu yang kau inginkan?" kata Lio lalu menerbangkan beberapa bola api. "Tentu saja kau harus melewati ujian dulu untuk mendapatkannya"


Bola-bola api itu pun terbang menyerang dewa Candra. Dewa dengan kekuatan utama dari cahaya itu bergerak cepat untuk menghindari serangan tersebut. Bola-bola itu berjatuhan namun tidak sampai mengenainya.


"Ya, akan membosankan jika kau kalah begitu saja. Lagipula, kau tidak akan bisa mendapatkan pedang milikku" gumam Lio.


"Benarkah? Jangan sombong dulu, kau tidak akan bisa melukaiku. Kita lihat seberapa cepat antara kau dan aku? Jika kau kalah, kau harus menyerahkannya kepadaku" ucap dewa Candra yang kini berdiri dengan tegap sambil menaruh sebelah tangannya ke belakang.


"Ck ck ck, kecepatan memang penting. Tapi kecerdikan juga di perlukan" kata Lio lalu menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Bola api yang jatuh ke awan putih tadi perlahan muncul dan sudah tertata rapi mengelilingi dewa Candra.


"Jangan terlalu terkejut. Sebelumnya aku sudah membaca pergerakan mu" ucap Lio.


Bola-bola api itupun membesar dan menjebak dewa Candra di dalamnya.


"Cara yang cerdik. Tapi jangan berpikir aku akan kalah dengan hal ini"


Dewa Candra pun mengeluarkan segala kekuatannya melawan api itu. Bukan sembarang kobaran api, tanpa di gerakkan Lio. Api itu sudah berusaha melahap dewa Candra yang sudah ada di dalamnya.


"Bagus, kau harus berusaha keluar dari sana. Atau kalau tidak, kau akan menjadi bahan bakar api ku agar menjadi lebih besar" kata Lio yang kini hanya melihatnya sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Bermimpi saja" kata dewa Candra sedikit berteriak dan kini sibuk dengan pergerakannya.


"Ck ck ck" gumam Lio sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Sial, aku adalah tuan rumah. Bagaimana bisa malah dia yang kini terlihat sangat tenang?" gerutu dewa Candra.


Lio berjalan ke singgasana awan milik dewa Candra dan duduk di sana.


"Jangan menggerutu, kalau merasa tidak mampu bicara saja aku akan melepaskan mu" kata Lio sambil melipat kakinya.


"Jangan mimpi"


"Cih, dasar sombong"


Dewa Candra terlihat kewalahan. Bagaimana tidak, api naga milik Lio semakin di lawan malah semakin ganas. Kecepatannya menghindar dari api itu memang sangat bagus, tapi dia kesusahan keluar dari sana. Ia mendongakkan kepalanya keatas namun api itu seperti mengetahui rencananya.


"Dasar, api dan pemiliknya sama-sama licik" gumamnya yang baru saja melihat api itu berkobar semakin besar menutup langit-langit yang ada di atasnya.


Bagaikan di dalam bola api, dewa Candra merasa semakin panas dan pengap di sana.


"Kau masih di sana? Cepatlah, kau tidak mau melihat anak-anak mu berlutut sepanjang hari kan?" teriak Lio.


" DIAMLAH KAU BANGS*T" teriak dewa Candra dari dalam Kungkungan api itu.


"Ohoho, kau masih bisa berteriak rupanya? Baguslah, berarti kau masih hidup. Tunggu dulu, bans*t? Ternyata kau mendalami peranmu sebagai manusia ya" kata Lio dengan santainya.


Dari luar terlihat kilatan kilatan cahaya milik dewa Candra menyambar-nyambar berusaha melawan.

__ADS_1


"Haahhh, dasar bodoh" desah Lio menghembuskan nafas panjang. "Kenapa kau sangat udik sekali? Kau tidak tau aku siapa? Bola raksasa apiku ini sama saja dengan seribu prajurit bayangan. Aku tidak yakin dewa kuno seperti mu bisa keluar dari sana, kenapa tidak menyerah saja?"


Bom bom bom


Terdengar letupan-letupan dari dalam sana.


"Heemmm ... Bagaimana dewa seperti dia bertahan di dunia fana ini? Kekuatannya saja tidak sebanding dengan prajurit utamaku. Mengandalkan kecepatan saja tidak akan cukup, kau mau terus menghindar? ... Ahhh, kau pasti bertahan hidup di dunia fana karena kau menggunakan jurus bersembunyi yang sangat hebat"


"AKU BISA MENDENGAR MU BODOH. JANGAN BANYAK BICARA!!" teriaknya entah dari mana.


Kilatan cahaya di depan Lio bagaikan sebuah pisau yang memotong udara. Begitu cepat sampai tak bisa di lihat dengan jelas.


"Aku mendapatkannya" kata dewa Candra dengan bangga yang tiba-tiba muncul di samping Lio. Ia pun mengambil pedang Lio di sana.


Lio hanya menyeringai sambil meliriknya. "Meskipun kau bisa keluar dari apiku, kau tetap tidak bisa mendapatkan apa yang kau ingin kan" Lio menjentikkan jarinya lalu api itu hilang entah kemana.


"Benarkah? Tapi aku sudah mendapatkannya" ucap dewa Candra yang sudah beralih tempat di depan Lio dengan pedang kematian yang sudah ada di tangannya.


"Untuk ukuran dewa kuno seperti mu, kau terlalu percaya diri. Sepertinya kau memang tidak tau kisah pedang ini sampai-sampai kau berusaha sangat keras untuk merebutnya" kata Lio sambil berdiri dari tempatnya.


"Aku tidak percaya ka- Ughhh" Dewa Candra merasa sakit di dadanya saat hendak mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.


"Sudah ku bilang kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau"


"Uhuk ..." Darah mengalir deras dari dalam mulutnya. "K-kau ... Uhuk"


Brughh


Dewa Candra terduduk di hadapan Lio, begitu juga dengan tubuh manusianya yang kini terlihat berlutut di hadapan anggota D'hunter.


"Ketua? Apa yang terjadi?" kata Brian yang melihat ketuanya tiba-tiba bersimpuh di lantai.


"Kau ... Kau ..." ucapnya sambil menahan rasa sakit bak jantungnya di sayat oleh sebuah pedang.


Lio berjalan menghampirinya, mengibaskan tangannya di depan wajah lalu berubah wujud menjadi dewa Lodra.


Dewa Candra mendelik tak percaya saat melihat jubah hitam itu. "Kau ..."


"Dewa kuno. Apakah kau bisa mengenali ku? Dewa agung Lodra. Dewa perang Nirvana" ucapnya yang kini berdiri gagah di hadapan dewa Candra dengan jubah kebanggaannya sebagai seorang dewa.

__ADS_1


Dewa Candra merasa semakin buruk, beberapa kali dia muntah darah.


"Masih mau mencobanya?"


__ADS_2