Demigod

Demigod
Bab 30


__ADS_3

Di saat yang sama. Lio kembali ke gedung tempat dia tersadar.


Terlihat gedung itu sudah kembali di buka. Begitu juga dengan rumah bordirnya.


"Tidak salah lagi. Pemilik tempat ini pasti orang yang berpengaruh. Kemarin baru saja di gerebek polisi. Sekarang sudah di buka lagi"


Lio pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam tempat tersebut. Sama seperti sebelumnya. Tempat itu begitu ramai.


"Tuan~ Apa kau butuh pelayanan?" kata seorang wanita penghibur yang datang kepada Lio.


"Menjijikkan. Menyingkirlah dariku" kata Lio dengan tatapan tajam.


Wanita tadi yang sebelumnya memegangi tangan Lio, ia pun melepaskannya.


Lio segera beranjak pergi meninggalkannya.


"Cih. Sombong sekali"


Lio menelusuri tempat itu kembali. Namun tidak ada yang mencurigakan.


Semua pegawai di sana pun juga ia amati. Namun tidak ada yang mencurigakan.


"Apa aku melewatkan sesuatu? Atau ... Iblis itu sudah menghilangkan jejaknya di sini?" gumamnya. "Huhhh ... Sepertinya aku harus membawa gadis itu jika menyelidiki mereka. Aku tidak bisa bekerja seperti ini"


Lio pun memutuskan menelusuri rumah bordil itu sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama. Dia tidak mendapatkan apapun dan tidak ada yang mencurigakan dari tempat itu.


Di tempat lain. Di markas para D'hunter. Mereka sedang mendengarkan cerita Nada.


"Jadi ... Kita harus cepat menangkap orang itu untuk bisa menyelamatkan kedua orang tuamu" kata Tiara.


"Kita harus berhati-hati. Kita baru saja sembuh" lanjut Kenan. "Viro, bagaimana dengan luka di dadamu? Apa kau masih merasa tidak nyaman?"


"Tidak. Aku sudah merasa sangat baik sekarang. Ini aneh sekali. Kaki iblis itu bisa saja menghancurkan jantungku jika berada di sini" kata Viro sambil memegang dada kirinya. "Aku melihat orang itu mencabut sendiri kaki iblis itu. Setelah itu aku sudah tidak ingat apapun. Seharusnya, dadaku mungkin saja bisa rusak parah" gumamnya kembali.


"Itu pasti karena kekuatan Lio. Dia membantu Viro sekaligus menyembuhkan lukanya" batin Nada.


"Jika semua sudah baik-baik saja. Maka kita akan pergi besok" lanjut Kenan.


"Takutnya. Mereka mengetahui pergerakan kita dan malah berbalik menyerang"


"Kita harus hati-hati. Yang kita perlukan hanyalah menangkap si pimpinan penjahat itu. Lebih baik juga kita melakukannya dengan diam-diam"


"Tapi teman-teman ... Ini ... Aku pikir ini terlalu berbahaya"


"Tenang saja. Serahkan saja kepada kami" kata Tiara sambil memegang bahu Nada.


"Besok aku akan siapkan uangnya Nad. Jika kami gagal. Kau bisa gunakan uang itu untuk menebus kedua orang tuamu" lanjut Kenan.


Nada pun tersenyum sinis. "Siapa juga yang peduli dengan mereka. Aku hanya ingin menangkap iblis saja" ucap Nada dengan raut wajah datar.


Viro, Tiara dan Kenan pun saling memandang. Tak biasanya Nada seperti itu. Apalagi tidak memperdulikan orang tuanya.


Mereka semua tau bahwa Nada dan keluarganya tidak memiliki hubungan yang baik. Namun mereka tidak menyangka akan reaksi Nada barusan.


"Lalu bagaimana dengan orang itu?'' kata Viro yang merujuk ke Lio.

__ADS_1


"Hemm ... Setelah di pikir-pikir lagi. Dia sudah tidak muncul setelah bertarung dengan iblis itu" imbuh Tiara. "Apa kita perlu bantuannya?"


"Tidak perlu. Untuk sekarang. Kita bisa mengatasinya" kata Kenan lalu berganti menatap Nada. "Untuk berjaga-jaga saja. Saat kita tidak berhasil. Pergilah meminta bantuan dia"


"Apakah itu mungkin? Kau tau, dia sangat susah di bujuk" kata Nada.


"Aku yakin. Jika kau mengatakan melihat hawa iblis. Dia pasti akan membantumu" lanjut Kenan lagi.


"Kau yakin sekali" imbuh Viro.


"Ya, aku tau. Kalau dia hanya bertujuan untuk memburu iblis sama seperti kita"


"Hemmm ... Aku pikir, dia juga punya kemampuan khusus. Jika tidak, mana mungkin dia bisa membawa kita dari hutan itu" imbuh Tiara.


Tanpa mereka sadari Brian sedari tadi tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Ia duduk diam di sudut ruangan itu.


"Sudah di tetapkan. Besok aku, Viro dan Tiara akan menangkap ketua mereka. Nada dan Brian- Eh. Brian?" kata Kenan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Aku di sini?" ucap Brian dingin.


"Emmm ... Tidak apa. Biar aku sendiri saja. Jika keadaan tidak memungkinkan. Aku akan membujuk Lio untuk membantu kita"


"Aku akan ikut. Kalian pergi saja. Aku dan Nada yang akan menyelesaikan sisanya" lanjut Brian.


Mereka semua pun tercengang. Untuk pertama kalinya Brian tidak menolak ataupun komplain dengan rencana mereka.


"Baiklah kalau begitu"


Kenan pun menjelaskan rencana mereka besok. Selama itu juga, Brian terlihat diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Kenan, Viro dan Tiara menyusup ke bar yang kemarin Nada datangi. Sedangkan, Brian kini tengah menjaga Nada dan menemaninya berjalan-jalan guna mengalihkan perhatian para penjahat itu.


"Viro, bagaimana keadaan di sana?" kata Kenan berbicara dengan Viro lewat earphone.


"Tidak ada yang mencurigakan. Aku tidak melihat para penjahat itu"


"Baiklah. Ayo kita masuk dan mengamati dari dekat"


Mereka bertiga pun satu persatu masuk ke bar itu tanpa membuat curiga.


Bar itu terlihat sangat sepi. Ternyata tempat itu khusus di buat untuk transaksi para mafia.


"Masih tidak ada yang aneh. Aku masih belum menemukan orang yang di maksud Nada"


"Awasi dengan baik. Mungkin saja kita melewatkan sesuatu" bisik Kenan.


Tak berapa lama. Mereka pun melihat pimpinan penjahat yang menyekap orang tua Nada masuk ke dalam sebuah ruangan VIP.


"Itu dia. Ayo kita ikuti" lanjut Kenan.


Mereka pun berjalan mengendap-endap di samping ruangan itu.


"Bagaimana kita bisa masuk?" kata Tiara.


"Viro, apa kau sudah meretas CCTV di sini?"

__ADS_1


"Ya, di samping ruangan ini ada sebuah jendela. Kita bisa masuk lewat sana"


"Bagus, cepat pergi"


Mereka pergi ke kamar di samping kamar VIP itu yang kebetulan kosong. Mereka pun segera pergi menuju ke balkon dengan cepat agar tidak di ketahui orang.


"Sebelah sini" bisik Viro sambil memandu mereka ke samping jendela.


Mereka mengendap-endap hendak menguping di samping jendela itu.


"Ada apa? Kenapa kau berhenti?" bisik Kenan.


"Sstttt"


Kenan dan Tiara pun terdiam dan mengikuti instruksi Viro.


"Ada yang aneh"


"Kenapa?"


"Di dalam seperti tidak ada orang"


"Benarkah? Ayo kita periksa" kata Tiara.


"Tunggu. Jangan-jangan mereka sudah tau pergerakan kita" ucap Kenan.


"Tidak mungkin. Aku sudah memeriksanya. Di ruang CCTV pun tidak ada yang menjaga"


"Baiklah. Kalau begitu ayo kita masuk" lanjut Kenan.


Tiara pun membuka jendela itu dengan pelan. Satu persatu langkah kaki mereka masuk ke dalam ruangan itu.


"Kenapa jendela pun tidak di kunci? Ruang VIP tidak akan semudah ini di masuki" gumam Kenan.


"Lihat" seru Viro yang kini berdiri di depan rak buku.


Kenan dan Tiara bergegas menghampirinya.


"Lihat, pasti ada ruang rahasia di tempat ini"


Kenan pun meraba sisi rak buku tersebut. Ia pun hendak mendorong pelan namun tiba-tiba pintu kamar tersebut di dobrak seseorang.


Bruaakkk


"Jangan bergerak"


Beberapa polisi bersenjata pun masuk dan mengepung mereka.


"Sial. Kita di jadikan umpan oleh para bajing*n itu" bisik Kenan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Letakkan senjata kalian dan angkat tangan" kata salah satu polisi.


"Kalian salah paham. Kami adalah anggota D'hunter. Kami sedang dalam misi sekarang" ucap Viro.

__ADS_1


"D'hunter ya. Jelaskan saja nanti di kantor polisi"


__ADS_2