Demigod

Demigod
Bab 31


__ADS_3

Di sebuah cafe. Terlihat Nada dan Brian sedang duduk sambil menikmati kopinya.


"Bagaimana dengan mereka? Apa sudah ada kabar?" ucap Nada.


Brian pun menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku rasa mereka masih sibuk"


"Aku merasa tidak tenang. Melihat ketua mereka saat itu. Aku merasa dia punya kekuasaan yang menakutkan. Apa sebaiknya kita menyusul mereka?"


"Jangan gegabah. Kau tidak lihat. Jam tangan itu pasti akan memberi tahu mereka setiap pergerakan mu. Tunggu kabar saja dari mereka. Aku sudah menyuruh Kenan untuk memberikan sinyal terakhir jika mereka sedang dalam bahaya"


"Huh ... Semoga saja"


Zzzz zzzz zzzzz


Earphone mereka pun berbunyi bersamaan.


Nada dan Brian pun saling bertatapan.


"Ken? Apa terjadi sesuatu?" tanya Nada.


Tidak ada jawaban dari Kenan. Yang ada mereka hanya mendengar percakapan Kenan dengan seseorang.


"Kami adalah anggota D'hunter. Kalian tidak berhak membawa kami ke kantor polisi"


"Kami tidak peduli kau anggota D'hunter atau tidak. Tapi kalian berkomplot dengan anggota mafia yang meresahkan masyarakat. Kalian harus ikut kami ke kantor polisi"


Zzzzzzzz


"Kantor polisi? Astaga" gumam Nada.


"Kenan sengaja memberikan informasi tentang situasi dan keberadaan mereka. Aku rasa mereka mungkin melakukan kesalahan dan di bawa ke kantor polisi. Tapi ini aneh ..."


"Ya, bukankah polisi akan melepaskan kita jika mereka tahu kita adalah anggota D'hunter. Tapi kenapa mereka malah memaksa untuk membawanya?" lanjut Nada.


"Pertama. D'hunter adalah anggota rahasia. Mungkin saja mereka adalah polisi biasa yang tidak tau apa-apa. Kedua. Bisa jadi mereka bekerja sama dengan para penjahat itu"


"Jika begitu. Berarti orang yang kita tangkap ini benar-benar tidak bisa di remehkan" gumam Nada. "Lalu bagaimana kita bisa menolong mereka?"


Brian pun terdiam sejenak memikirkan sesuatu.


"Hemmm ... Aku bisa saja pergi ke kantor polisi dan membebaskan mereka dengan membawa bukti bahwa kita adalah anggota D'hunter yang di lindungi negara. Tapi ... Bagaimana dengan dirimu?"


"Aku akan ikut" ucap Nada dengan cepat.


"Tidak bisa. Jika itu memang jebakan dari ketua para penjahat. Maka mereka pasti tau kau ada hubungannya dengan penyusupan yang dilakukan Kenan dan yang lainnya. Itu akan membahayakan nyawamu. Tapi ... aku juga tidak bisa membiarkan mu tinggal sendiri. Jika sewaktu-waktu mereka datang menangkap mu. Tidak ada yang melindungi mu"


Nada pun menghela nafas panjang. "Kau tenang saja. Aku akan pergi ke rumah Lio. Aku akan meminta bantuannya. Aku yakin bisa membujuknya"


"Hemm ... Jika dia tidak mau?"


Nada kembali berfikir sejenak. "Aku yakin dia pasti penasaran dengan hawa iblis yang aku lihat di ketua penjahat itu"

__ADS_1


"Jika kau yakin, terserah saja. Aku akan mengantarmu ke sana"


Hari pun mulai terik, Nada dan Brian pun memutuskan untuk pergi ke rumah Lio. Sesampainya di depan rumah Lio, mereka di sambut beberapa penjaga.


"Kenapa sampai seketat ini? Biasanya juga langsung di perbolehkan masuk" gumam Nada.


"Perlu aku turun untuk mengurus mereka?"


"Tidak perlu. Kau pergilah menolong yang lain. Aku akan mengatasi ini"


Nada pun turun dari mobil. Berjalan menghampiri para penjaga itu yang belum pernah Nada lihat sebelumnya.


"Nona. Anda di larang masuk tanpa persetujuan tuan''


"Aku ke sini karena urusan penting. Tolong beritahu tuan kalian untuk memperbolehkan ku masuk"


"Urusan penting apa? Saya akan menyampaikannya"


"Bilang saja aku melihat sesuatu. Jadi tuan kalian harus mempersilahkan ku masuk" ucap Nada dengan serius.


"Baiklah. Tunggu di sini"


Pengawal itu pun masuk ke dalam rumah Lio. Nada menunggu dengan cemas.


"Kenapa dia memberi penjagaan ketat di rumahnya? Apa terjadi sesuatu kemarin? ... Aku harus bisa membujuknya untuk membantu. Keselamatan para anggota D'hunter sedang di pertaruhkan sekarang. Jika polisi itu benar-benar bekerja sama dengan mereka. Kenan dan yang lain pasti jadi sasaran mereka selanjutnya"


Beberapa menit kemudian, penjaga itupun kembali.


"Baiklah. Tidak apa-apa" Nada pun di persilahkan masuk ke dalam rumah.


"Menjalani pengobatan? Apa dia sedang sakit? Atau jangan-jangan kemarin dia di serang iblis"


Dengan cemas, Nada berjalan ke arah kamar Lio. Saat dia hendak membuka pintu, tiba-tiba keluarlah seorang pria tinggi tegap dengan kemeja warna biru muda.


"Oh? Kau pasti tamu yang di maksud tadi. Silahkan. Lio ada di dalam" ucap Deon dengan senyum ramahnya.


"Emmm ... Anda ..."


"Jangan takut. Aku adalah dokter pribadi Lio sekaligus temannya"


"Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia menjalani pengobatan?" kata Nada lirih.


Deon pun memajukan wajahnya dan berbisik di telinga Nada.


"Dia sedikit punya masalah dengan otaknya. Jadi aku hanya memberikan dia sedikit obat" lanjut Deon lalu pergi meninggalkan Nada.


"Masalah pada otak?" gumam Nada bingung. "Apa yang dia maksud, Lio sedang amnesia?"


Nada pun segera bergegas masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Lio ... Apa kamu-" Nada pun terhenti ketika melihat Lio tengah telanjang dada hendak berganti pakaian. "Maafkan aku" ucap Nada sambil berbalik cepat.

__ADS_1


"Ck, dasar" gumam Lio sambil memakai kemeja putihnya. "Ada apa kau kemari? Kau bilang melihat sesuatu"


"Ah ah. Itu ... Saat aku meninggalkan mu kemarin. Aku datang ke sebuah bar dan melihat seseorang dengan hawa iblis yang sangat pekat. Aku kemari untuk meminta tolong kepadamu" ucap Nada sambil terus menatap pintu kamar memunggungi Lio.


"Benarkah?" kata Lio yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Nada.


"Ya"


"Berbalik lah"


Dengan pelan dan canggung nada pun membalikkan badannya.


"Katakan apa yang kau lihat"


Nada pun menceritakan semua kejadian kemarin dan hari ini yang ia lalui.


"Heh ... Jadi kau meminta ku untuk membantu para anggota mu yang bodoh itu?" gumam Lio terdengar meremehkan. "Aku tidak mau" Lio pun pergi duduk di sofa.


"Tapi Lio ..."


"Pertama. Aku hanya berurusan dengan hal yang menyangkut iblis. Kedua. Temanmu yang sombong itu sudah mengatakan akan membebaskan mereka. Jadi apa yang perlu kau khawatir kan?"


Nada pun terdiam menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu. Tolong bantu aku untuk menyelamatkan kedua orang tuaku" kata Nada lirih.


"Bukankah kau bilang tidak ingin menyelamatkan mereka?"


"Ya. Tapi mereka tetap saja adalah orang tuaku. Dan lagi ... Ini" ucap nada sambil menunjuk jam tangan yang ada di tangannya. "Jika sampai nanti malam aku tidak datang dengan uang itu. Maka mereka akan mencariku dan membunuhku"


"Jadi kau butuh uang?"


"Tidak ... Aku hanya membutuhkan mu untuk mencari iblis itu"


Lio pun menegakkan badannya. "Baiklah. Tapi dengan satu syarat"


"Apa?"


"Hanya kau dan aku yang pergi melacak iblis itu"


"Tidak masalah. Aku bisa melakukan itu"


"Dan lagi ... Jangan menyusahkan ku" kata Lio mencibir.


"Iya iya, aku tau itu. Jadi ... Malam ini kau akan pergi bersama ku?"


"Hemmm ... Tapi sebelumnya. Apa kau sudah datang ke kantor polisi?" kata Lio.


Nada menggelengkan kepalanya. "Belum. Brian melarang ku datang kesana"


"Kalau begitu. Ayo kita mulai dari kantor polisi itu"

__ADS_1


__ADS_2