Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
EPS 100(THE END)


__ADS_3

" Tari......"teriak mereka semua secara bersamaan.


Mereka bergegas lari menuju kerumunan, Aslan langsung murka ketika melihat wajah memar Tari. Bahkan tuan Gunawan tidak bisa menahan amarahnya dan langsung berteriak.


" Apa yang kalian lakukan" teriak Gunawan tak terima bahkan wajahnya terlihat memerah menahan amarahnya, kalau saja bukan dikerumunan sudah dia gampar wajah Maria.


" Sayang ada yang luka" tanya Aslan berjongkok dihadapan Tari sambil memegangi tangan juga beberapa anggota tubuh Tari lainnya. Membuat semua yang ada disana terkejut, bukan tanpa alasan melainkan karena melihat empat orang pria tampan yang dua diantaranya adalah konglomerat.


" Beraninya kalian menyentuh istriku" teriak Aslan murka menatap mereka yang terkejut ditambah Aslan yang menyebut Tari Istrinya.


" Apa yang kalian lakukan sekarang aku tidak akan mengampuninya HAH..." Hendra menatap mereka satu persatu, dia masih hafal siapa saja yang berusaha menyakiti dan mempermalukan Tari tadi, karna dia mendapati rekaman dari beberapa orang suruhannya.


" Apa kalian pikir menantuku orang seperti itu, bahkan kalian lebih hina dari menantuku" Hendra memberi isyarat kepada orang suruhannya keluar, sontak semakin membuat mereka panik.


" Ayya.. Nitip Tari yaa" Aslan berjalan sambil memapah Tari yang pusing menuju ke arah Virli, Kevin dan Ayya duduk. Lalu dia kemudian kembali ketengah lapangan.


" Apa kalian pikir Tari wanita murahan Hah... apa salahnya jika sepasang suami istri berdua" Aslan bahkan terlihat lebih menyeramkan dibanding kedua orang tua tadi.


" Kalian akan mendapatkan balasan dari ini semua" Aslan berjalan kearah Attar yang terlihat sangat terkejut.


" Lo.. gk pantes ngehina istri gua" teriak Aslan memukul perut Attar bertubi-tubi. " Lo gk pantes ngehina nyokap sama adik gua" Aslan mukul Attar tanpa ampun hingga ia memilih mudur ketika melihat Kevin berjalan mendekat.


BUG...


BUG...


" Lo bahkan gk berhak ngehina Istri gua" Kevin memukul Wajah Attar hingga ia Limpung. Aslan membiarkan adik iparnya itu memukul Attar hingga Attar hampir pingsan.


" Biarkan dia dibawah ke kantor polisi, Indra" Hendra berucap lalu meneriaki salah satu bawahnya yang kini sudah menangkap dua orang yang berulah yaitu Maria dan Clarissa.


" Cih apa kalian pikir kalian bisa kabur, dengar baik baik yang kalian sebut wanita jal*ng itu adalah Nyonya Aslan Faturans Mahendra" Aslan menatap horor keduanya, sontak membuat keduanya membeku.


" Seret mereka semua yang telah menghina Istriku" titah Aslan membuat mereka berdua semakin takut.


" Tuan muda.. tolong maafkan kami tuan muda, Tuan" teriak mereka berdua ditemani teriak beberapa siswi yang juga dibawa pergi.


" Kalian dengar baik baik, Tari adalah istriku.. jadi jika ada yang macam macam saya pastikan tidak akan hidup, pergi dari sini dan jangan Berani macam macam" ucap Aslan membuat yang lain mengangguk dan bergegas pergi.


Selesai dengan urusan Tadi, mereka bergegas pulang menuju kediaman Gunawan diikuti mobil Gali yang membawa Bunda Ariana. Awalnya Tari tidak ingin ikut namun mendengar apa yang akan mereka lakukan akhirnya Tari pun menurut, dengan catatan tidak ingin berdekatan pada Tuan Gunawan.


Mereka sampai dikediaman Gunawan yang mengingatkan Bunda Ariana kepada kenangan masa lalunya, hingga saat berpapasan dengan tuan Gunawan rasanya ingin sekali menampar muka mantan suaminya itu.


" Ariana.." suara Gunawan bergetar hendak mendekat, namun suara Indri membuatnya geram.


Dijalan tadi Aslan menjelaskan semua yang terjadi, dari situlah dia sadar bahwa Indri dari dulu hanya memanfaatkannya, bahkan karna kecerobohannya itu dia sampai kehilangan anak kandungnya juga istri tercintanya itu.


" Ariana..." teriak Indri berlari kearah mereka dengan air mata dramanya.


" Ternyata Mbak masih hidup, kemana aja selama ini mbak" sungguh akting yang luar biasa, batin mereka semua melihatnya.

__ADS_1


" Bunda masih hidup, tapi maaf bunda kak Sasya sudah meninggal lima tahun lalu" Queen yang nyatanya belum menyadari bahwa Tari adalah Sasya melanjutkan aktingnya pula.


" Ini adalah pacar kak Sasya, tapi wanita ini..." Queen menunjuk Tari dengan tatapan benci. " Dia telah merebut kak Aslan dari kak Sasya, dan..." Queen terkejut ketika mendapati Gali dibelakang Bunda Ariana.


" Pembunuh... Bunda, dialah pembunuh kak Sasya dia adalah pem-" Indri dan Queen memukul mukul Gali.


" CUKUP...." Gunawan muak dengan semua, menatap Indri dengan lekat lalu menatap Queen tajam. Putri yang selama ini dia sayangi bahkan sampai mengabaikan putri kandungnya sendiri itu telah menusuknya.


" CUKUP, dengan semua sandiwara ini kalian bahkan sudah membuat aku dibenci oleh putri dan istriku sendiri. Aku menyesal telah menyayangi kalian, kenapa kalian lakukan ini padaku" suara Gunawan bergetar membuat Indri gugup.


" Apa yang kamu katakan mas, sandiwara ap-"


" Mau mengelak apa lagi hah, bahkan selama bertahun-tahun kalian masih bisa mengelak" Gunawan memperlihatkan semua foto, beserta bukti lainnya.


" Mas aku bisa jelasin, itu pasti editan mereka gk suka kita bahagia mas mereka mau kita pisah" Indri berusaha berucap namun tidak diindahkan oleh Gunawan.


" Aku tidak butuh penjelasan mu, mulai sekarang kamu aku talak.. kita tidak lagi berhubungan" teriak Gunawan menghempaskan tangan Indri dilengannya. Disusul beberapa orang petugas kepolisian yang memborgol tangan Indri.


" Pa.. Kak lepaskan mama, aku mohon" Queen membujuk mereka namun nihil tidak ada satu pun yang Sudi.


" Aaarrrggg... ini semua pasti karenamu perempuan jal*ng" Queen menampar pipi Tari membuat Aslan terkejut.


" Sayang.." Aslan memegang pipi Tari.


HAP... Aslan melepas tangannya lalu menahan pisau yang Queen pegang entah dari mana asalnya.


" TIDAK AKAN KU BIARKAN KAU MENYAKITI SASYA KEDUA KALINYA" Aslan menekan setiap kalimat membuat Queen terbelalak.


...____ ____ ____ ____...


" Maafkan aku Riana, aku telah melakukan kesalahan sebesar ini, aku mohon maafkan aku kembalilah bersamaku seperti dulu, aku menyesal jika bukan karena aku waktu itu kamu tidak akan keluar rumah" Gunawan bersimpuh dihadapan Bunda Ariana sambil menggenggam satu tangan Ariana.


" Maafkan Ayah sayang, ayah sudah dibutakan oleh semuanya.. bahkan ayah sempat mengabaikanmu, ayah mohon" Gunawan seakan kehabisan kata kata saat tidak mendapat respon apapun dari dua wanita dihadapannya.


" Ariana mas mohon" Gunawan menatap Ariana yang tak bergeming.


" Sasy-"


" Aku bukan Sasya tapi aku adalah Tari... jangan pernah lagi memanggilku dengan nama itu" Tari menekan setiap kata itu semakin membuat hati Gunawan seakan teriris.


" Bunda sebaiknya kita pergi dari sini" Tari berdiri hendak menarik tangan Bunda Ariana hamun hal mengejutkan terjadi.


" Ayah mohon.. Maafkan Ayah Tari, ayah salah ayah minta maaf" Gunawan bersimpuh dihadapan keduanya membuat Tari menitihkan air mata begitupun Bunda Ariana.


" Bangunlah mas..." suara bunda Ariana bergetar namun tidak urung membuat Tuan Gunawan berdiri.


" Aku tidak akan berdiri sebelum kalian memaafkan ku" Gunawan menatap wajah Bunda Ariana. Lama terdiam hingga suara Tari memecah keheningan.


" Bangunlah tuan Gunawan, hanya akan sia sia melakukan hal seperti ini" Tuan Gunawan menyerah dengan keteguhan anaknya persis sepertinya dulu yang sangat keras kepala.

__ADS_1


" Aku memang tidak pantas mendapat maaf dari kalian, mungkin kesalahanku terlalu fatal" Tuan Gunawan berdiri lalu berjalan menjauh meninggalkan mereka menuju tangga.


Beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa tas besar dengan sebuah map ditangannya.


" Ini adalah dokumen berkas dan warisan ayah, tolong terimalah hanya ini yang ayah bisa lakukan" Setelah menyerahkan dokumen itu lalu berjalan keluar.


" Kejarlah, ingat meski begitu ayahmu selalu menyayangimu" Bisik Gali membuat Tari menoleh menatap mereka semua yang memberi senyuman tanda mereka mendukung itu. Tari bergegas berlari diikuti yang lain mengejar tuan Gunawan yang kini sudah dihalaman.


" Ayah..." Teriak Tari membuat langkah Gunawan terhenti yang spontan berbalik yang langsung disambut pelukan Tari.


" Maafkan aku..." ucapan itu sungguh membuat hati Gunawan tersentuh, diikuti Ariana yang juga memeluknya.


...____ ____ ____ ____...


Satu bulan kemudian, Tampak keluarga Aslan sangat bahagia terlebih ketika mendapat kabar Tari hamil yang sudah jalan Tiga Minggu, membuat semua orang bahagia bahkan kabar itu membuat gempar kalangan para sahabat mereka.


" Ciee yang udah mau jadi Mommy... nanti deh pokoknya Aunty beliin banyak mainan yaa kalau udah gede" gurau Mitha yang duduk disamping Reno dan berhadapan dengan Tari dan Aslan.


" Amin, ditunggu adik buat nemenin dia juga yaa" jawab Tari membuat Mitha tersipu.


" Amin deh, doain yaa bulan depan nyusul langsung udah ada" cetus Reno membuat Mitha langsung mencubit pinggang Reno.


" Ngaco mana bisa gitu" kesal Mitha.


" Yaudah kita bikin aja ntar malam" goda Reno membuat wajah Mitha memerah menahan malu.


" Masih sebulan lagi, sabar kali Ren" ucap Aslan membuat Reno tertawa.


" Eh udah dulu yaa, kita ada acara" Aslan berdiri disusul Tari juga Mitha dan Reno.


" Yaudah tiati yaa" jawab keduanya.


Aslan menggandeng tangan Tari menuju mobil, rencananya mereka menuju suatu tempat yang sudah dipersiapkan oleh Aslan. Hingga dipertengahan jalan Aslan meminta Tari menutup mata menggunakan kain.


" Udah bisa belom bukanya" tanya Tari ketika sampai ditujuan.


" Belum bentar lagi yaa" Aslan memimpin jalan hingga sampai disuatu tempat.


" Satu.. dua.. ti,ga.." Aslan membuka mata Tari dan menyuguhi pemandangan danau yang ditemani lampu disempanjanh jalan menuju pertengahan danau yang jernih.


" Aku emang gk seromantis dulu, aku juga gk pandai rangkai kata kata.. tapi yang terpenting adalah rasa cinta dan sayang aku yang tidak bisa aku gambarkan sebesar apa, aku mencintai kamu kini dan selamanya hiduplah denganku sampai memutih rambutku sampai maut memisahkan pun kita selalu bersama, I LOVE YOU MY WIFE" ucap Aslan tulus diselangi tangis bahagia Tari.


" LOVE YOU TOO MY HUSBAND" balas Tari memeluk erat tubuh Aslan.


.......


.........TAMAT..........


Jangan lupa mampir ke novel aku yang berjudul Garis TAKDIR.....

__ADS_1



See you, byee👋👋


__ADS_2