
Sontak keduanya salah tingkah, Apa lagi diucapkan secara terang terangan.
" Apaan sih Tante, kita berdua gada hubungan apa apa kok" ucap Reno salah tingkah.
" Yakin.. hmm" goda Widya sekali lagi.
" Bener kok Tan.." sambung Mitha tersenyum canggung.
" Yah sayang banget deh, padahal kalian berdua cocok tau" ucap Widya sekali lagi membuat Reno dan Mitha bertambah salah tingkah.
" A,ahaha.. Tante bisa aja bercanda nya, kita nginep kok tan, iya kan mit" ucap Reno dengan cepat membuat keputusan dengan tawa paksaan.
Sedangkan Mitha hanya mengangguk ngangguk mengikuti apa yang diucapkan Reno sambil menundukkan kepala.
" Haduh.. Tengsin kan gua jadinya" batin Mitha menundukkan kepalanya.
" Sabar Reno.. sabar, untung orang tua" batin Reno tersenyum paksaan.
" Yasudah kalau gitu kita pulang sekarang" ucap Widya dengan cepat Aslan menggendong tubuh Tari Ala bridal style.
" Mas, aku bisa jalan kok" ucap Tari tak nyaman.
" Diam.. saya gk terima bantahan" ucap Aslan tegas.
" Tapi mas.."
" Tari.. sekarang diam okey" ucap Aslan lembut lalu mengeratkan gendongan nya sembari menyembunyikan wajah Tari di dadanya.
" Ya Allah.. hamba mohon dari saat ini, jangan pernah ubah suami hamba ya Allah" batin Tari.
" Perasaan apa ini" batin Aslan yang merasakan kehangatan ketika memeluk Tari.
Kini mereka sampai didepan rumah sakit, terlihat jelas sudah ada mobil juga sopir pribadi nyonya Widya yang menunggu disana dengan pintu yang sudah dibuka.
" Maa.." Aslan hendak bertanya.
" Udah kamu ikut di mobil mama, biar Reno yang bawa mobil kamu" ucap Widya, Aslan pun segera masuk kedalam dan mendudukan Tari disamping nya sedangkan Widya didepan.
" Kita duluan yaa Reno.. Mitha.." ucap Widya.
__ADS_1
" Iya Tante.." ucap keduanya bersamaan.
" Gua duluan yaa.." ucap Aslan diangguki Reno.
Didalam Mobil Widya
" Kepala kamu masih sakit" tanya Aslan lembut.
" Emm.. udah mendingan kok" ucap Tari tersenyum.
" Maa.. bisa singgah di resto Ben Tar gak" tanya Aslan pada Widya.
" Ngapain Mas" tanya Tari.
" Ia Slan.. ngapain" sambung Widya.
" Beliin makanan dulu, soalnya Tari belum makan dari siang tadi" ucap Aslan membuat Tari menatapnya lekat lekat.
" Emm.. gk usah mas, aku masih-"
" Gada kamu harus makan, bisa kan maa" tanya Aslan lagi.
" Iya maa" sahut Aslan, supir pun menepikan mobil didepan resto.
" Tunggu sebentar yaa, aku beli dulu" ucap Aslan hendak turun namun dicegah Widya.
" Kalian tunggu disini aja, biar mama yang beliin" ucap Widya diangguki Aslan.
" Iya maa, yang kayak biasa aja maa" ucap Aslan lagi.
" Iya iya.." jawab Widya dari luar lalu melangkah memasuki resto.
" Mang.. kok saya baru liat yaa" tanya Aslan ketika memperhatikan postur tubuh supir tersebut terlihat lebih tinggi.
" Iya den, saya baru masuk dua hari lalu.. gantiin supir lama yang katanya berhenti, lantaran istri nya lahiran" ucap supir tersebut.
" Namanya siapa mang" tanya Aslan.
" Panggil aja mang sura aden, kalau nama panjang saya susah aden" ucap mang sura.
__ADS_1
" Gitu yaa mang, emang nama panjang mang sura itu siapa" tanya Aslan lagi, biasa lah jika sudah penasaran akan seperti ini.
" Surawirana siduarso adan" ucapnya membuat Aslan bingung.
" Beneran itu mang" tanya Aslan tak percaya membuat Tari tawa kecil.
" Ngapain kamu ketawa" tanya Aslan.
" Lagian mas ih, udah dia bilang namanya susah pake ditanya lagi, bingung sendiri kan" ucap Tari.
" Oh kamu ledekin saya hmm" ucap Aslan sambil menatap tajam kearah Tari.
" Em, enggak gitu mas" ucap Tari gugup ketika melihat tatapan tak bersahabat Aslan.
Aslan terus mendekatkan tubuhnya sambil menatap tajam Tari, namun sejurus kemudian dia menggelitik Tari.
" Eh mas.. mas.. udah dong geli geli,"ucap Tari memohon sambil tertawa.
" Ini tuh akibatnya kamu ledekin saya, nih rasain kamu" ucap Alsan tersenyum senang sambil menggelitik pinggang Tari.
" Aww..." tiba tiba saja kepala Tari kembali pusing.
" Kamu kenapa Tari.." tanya Aslan panik sambil memegang kepala Tari.
" E,enggak papa kok mas, cuman sakit dikit doang" ucap Tari tersenyum sembari menatap wajah Aslan yang kini hanya berjarak beberapa centi. Seakan terhipnotis Aslan lalu memajukan wajahnya hingga bibir keduanya bersentuhan, dengan perlahan Aslan mel*mat bibir mungil Tari hingga Tari pun ikut membalasnya.
" Astagfirullah.. jiwa duda saya meronta ronta den" batin mang sura, lalu mengaktifkan dinding pemisah antara kursi kemudi dan kursi belakang, hingga ia tak lagi menyaksikan keduanya yang sedang melakukan itu.
Lama keduanya melakukan, hingga pada akhirnya Tari mendorong pelan dada Aslan, dengan pelan dia memundurkan wajah sambil menatap Tari.
" Entah kenapa ini sudah menjadi canduku" batin Aslan terus menatap Tari
Kini keduanya pun sama sama terdiam, Canggung itulah kata yang tepat setelah aktivitas tadi.
Bersambung......
##
Tenang, gk lama lagi.. mereka bakal sama sama nyadar sama perasaan masing masing.
__ADS_1