
Aslan terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara telfon hp Aslan berbunyi, tertera nama Ayahnya dengan perlahan Aslan mengangkat telfonnya.
" Ya Hallo Assalamualaikum Paa.." ucap Aslan sambil mengelus-elus rambut Tari yang kini tidur disampingnya.
" Wa'alaikumsalam Slan, kamu lagi dimana? tadi papa ke apartemen kamu gada, dikantor juga gada"
" Oh Itu paa, aku lagi dipanti Bunda Tika sama Tari juga" jawab Aslan.
" Yaudah nanti pas kamu pulang aja, papa mau bicara" ucap Hendra menghela nafas dalam.
" Memangnya kenapa paa, ada masalah" tanya Aslan cemas takut yang sudah ia perbuat ketahuan.
" Ya begitulah, tapi besok aja kita bicarakan" jawab Hendra.
" Iya paa, Assalamualaikum" ucap Aslan lalu mengakhiri panggilan nya.
" Gak mungkin papa gak tau apa yang udah gua lakuinkan ke mereka" gumamnya lalu beralih menatap Tari yang ternyata sudah terbangun.
" Loh udah bangun sayang" tanya Aslan sambil mencium keningnya.
" Dari tadi pas mas nelfon" jawab Tari mempererat pelukannya.
" Bangun yuk sholat Maghrib" ajak Aslan yang kini berusaha untuk duduk meski badannya masih sedikit terasa sakit.
" Gak dulu deh mas aku kayaknya lagi gak enak badan nih" ucap Tari mengambil posisi ternyaman untuknya.
" Loh sakit sayang" Aslan yang khawatir menaruh telapak tangannya di kening Tari.
" Gak panas kok, apanya yang sakit sayang " tanya Aslan bersandar sambil memeluk kepala Tari.
" Cuman gk enak badan aja kok, udah sana sholat ntar waktu sholat nya udah mau abis, maaf aku gk bisa nemenin" Aslan terpaksa bangkit lalu mencium kening Tari kemudian masuk kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Aslan keluar kamar ketika mendengar suara anak mengumandangkan adzan magrib di musholah Panti yang jaraknya tdk terlalu jauh dari rumah Bunda Tika.
" Loh Slan, udah mendingan" tanya Reno yang lengkap dengan pakaian sholat nya.
__ADS_1
" Iya nih, Joni mana" tanya Aslan.
" Udah deluan tadi, soalnya ada yang nyuruh" jawab Reno sambil tersenyum kembali mengingat seorang wanita yang tadi berpapasan dengannya dan Joni yang hendak memasuki dapur bersama Bunda Ariana.
" Loh kalian berdua kok masih disini" tanya Gali yang baru lewat dari kamar yang ia tempati.
" Eh Pak Gali juga baru mau kesana" tanya Reno membuka suara sedangkan Aslan tersenyum canggung.
" Iya,, yaudah kita bareng aja" ajak Gali menatap Aslan sedangkan Aslan yang ditatap hanya melirik kearah lain.
" Iya pak ayo.." Reno yang mengerti berjalan terlebih dahulu. Diikuti Pak Gali dan Aslan yang berjalan beriringan.
" Saya Harap yang sudah berlalu biarlah berlalu, jangan terlalu dipikirkan karna kita adalah keluarga" ucap Gali membuka suara, membuat Aslan merasa malu.
" Bahkah anda semudah itu memaafkan saya pak" ucap Aslan tertunduk malu.
" Siapa bilang saya sudah memaafkan mu" jawab Gali ketua membuat Aslan terkejut dan spontan mendongakkan wajahnya menatap Gali yang menatapnya Tajam.
" Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahanku Pak" tanya Aslan memohon.
" Maafkan kesalahanku selama ini Ayah" ucapnya sambil memeluk Gali.
" Berjanjilah untuk mencintai sepenuh hati putriku" Balas Gali membuat Aslan mengangguk.
Hingga Tanpa sadar mereka kini telah sampai didepan musholah. Mereka bergegas Wudhu terlebih dahulu lalu akhirnya menunaikan kewajiban sholat mereka, yang ternyata di pimpin oleh Joni.
...____ ____ ____ ____...
Sebuah ponsel yang terletak diatas meja berbunyi membuat langkah seorang wanita terhenti.
" Loh ponsel siapa yah" gumamnya sendiri sambil melihat kesana kemari, hingga matanya tertuju pada salah satu hp yang tertinggal diatas meja diruang tengah itu.
Dia pun membiarkannya hingga sudah ponselnya berbunyi kembali dan akhirnya ia pun mendekat lalu melihat siapa yang menelfon.
" Mitha.. siapa nih" gumamnya kembali mengabaikan namun nomor tersebut kembali menelfon.
__ADS_1
" Heran ini kan jam orang sholat kok nelfon sih" gumamnya lalu meletakkan susu yang ia buat.
" Hallo Assalamualaikum, Reno lu dimana tolongin gua, dia datang lagi" suara Mitha sedikit ketakutan ketika melihat Radit yang kini berdiri didepan pintu rumahnya.
" Wa'alaikumsalam mbak, maaf orangnya masih Sholat mbak" jawab wanita tadi.
" DEG.." jantung Mitha seperti terpompa dengan cepat.
" Si si siapa" tanya Mitha bergetar.
" Astaga.. kayaknya ini pacarnya deh" batin wanita itu merutuki diri sendiri.
" Maaf mbak saya Nadia.. cuman mau nganter susu buat Mbak Tari" jawab Wanita itu yang ternyata bernama Nadia.
" Mitha buka pintunya aku tau kamu didalam kan" teriak seseorang yang membuat Mitha ketakutan terlebih ketika melihat bayangan Radit dari pintu balkon.
Hp nya terlepas, bahkan dia hanya mendengar ketika wanita itu menyebutkan namanya. Sedangkan Nadia terkejut ketika mendengar teriakan dari seberang telfon.
" Mbak.. Astaghfirullah, mbak ada apa mbak mbak" teriak Nadia.
" Siapa" tanya Tari yang terbangun yang kini sudah ada dibelakang Nadia.
" Mbak" Nadia terkejut dan spontan membalikan badannya.
" Loh hp Reno kenapa ada di kamu" tanya Tari.
" Anu itu mbak" Nadia merasa bersalah ketika Tari bertanya seperti itu.
" Ada apa ini"
Bersambung.........
##
Hedueh adanya konflik ini mah.
__ADS_1