
Mendengar kata tersebut, seketika air mata Tari berlinang, sakit rasanya saat kini ia sudah berstatus sebagai istri dari Aslan, pria yang tak pernah ada dalam hatinya.
" Sayang jangan nangis" ibu mila menghapus air mata Tari.
" Ayo keluar, udah ditungguin sama yang lain dibawah" Widya lalu menggandeng tangan Tari disebelah kiri dan juga Ibu mila disebelah kanan.
Mereka berjalan berdampingan sambil menuruni tangga, ketika itu juga semua mata tertuju pada Tari yang sangat anggun dengan kebaya berwarna putih yang melekat tepat sempurnah dibadannya.
Namun tak semata mata membuat Aslan menoleh kearah mereka, Hendra yang tepat berada disampingnya pun menyenggol lengannya.
" Tuh liat calon istri kamu.." bisik Hendra, Aslan terpaksa harus menoleh kearah Tari yang berjalan semakin mendekati mereka.
" Cantik kan.." Godda Hendra berbisik ketika melihat Aslan hanya melongo melihat Tari.
" Cih.. paling juga make up nya ditebelin.." batin Aslan hanya membalasnya dengan senyum kecut.
Tari kini berdiri tepat disamping posisi Aslan, yang terus memperhatikannya hanpa ekspresi.
" Jangan diliatin terus dong.." goda Kevin sambil menyenggol lengan Aslan.
__ADS_1
" Brisik.. lu" timpal Aslan.
Acara demi acara silih berganti, kini jam sudah menunjukan pukul Tiga sore, dan Semua tamu undangan telah pamit kekediaman mereka, Aslan dan Tari pun dipersilahkan masuk kekamar mengantin yang Tadi ditempatkan Oleh Tari.
Aslan memilih membaringkan tubuhnya dikasur, sedangakan Tari memasuki kamar mandi untuk membersihkan badannya. Saat keluar dari kamar mandi sebuah ketukan pintu terdengar dari depan, secepatnya Tari menuju pintu dan melihat siapakah yang datang.
" Non, ini makanannya.." ucap bii minah membawa dua piring makanan serta dua gelas berisi air putih, untuk Tari juga Aslan atas permintaan Widya.
" Ah iya bii.." Tari tersenyum setelah menerima nampan makanan tersebut lalu meletakannya dimeja setelah itu ia kembali menutup pintu kamar tersebut.
Tari lalu berjalan menuju kasur dimana Aslan membaringkan dirinya.
" Singkirkan tangan kotormu dari lenganku.." ucap Aslan setelah membuka matanya, mendengar penuturan Aslan seakan membuat hati Tari sesak, namun yang hanya bisa dia lakukan hanya bersabar.
Aslan kini berjalan mengambil satu piring, lalu kembali mendudukan dirinya diatas kasur.
" Siapkan air panas untukku lalu buatlah kopi" seru Aslan kemudian menyendokan nasi kedalam mulutnya tanpa mengajak Tari makan bersamanya.
Tari pun mengangguk lalu bergegas menyiapkan air dan membuat kopi untuk Aslan, meski perutnya kini sudah melilit karena sejak pagi ia belum makan sesuap nasi pun.
__ADS_1
Seusai menyiapkan air panas Tari keluar dari kamar mandi dan mendapati Aslan masih menyantap makanan tersebut, lalu ia bergegas keluar untuk membuatkan kopi untuk Aslan.
Tari berjanan menuju kamar sambil membawa nampan kopi untuk Aslan, namun saat hendak memasuki kamar ia berpapasan dengan Virli.
" Loh manten kok udah keluar sih, hmm" goda Virli.
" Iya.. habis buatin kopi buat mas Aslan, kamu dari mana" tanya Tari.
" Oh habis dari kamar mau minta Kevin beliin rujak, deluan yaa.." ucap Virli lalu melangkahkan kakinya menuju kebawa.
Tari pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar, saat memasuki kamar Tari sudah tak mendapati Aslan hanya bekas makanannya saja yang tertinggal, dia pun meletakkan gelas kopi tersebut diatas meja lalu menyambar sepiring makanan tersebut.
Dua puluh menit didalam kamar mandi Aslan keluar, dengan hanya menggunakan boxer dan juga kaos putih polos. Dia pun berjalan mengambil kopi tanpa mempedulikan Tari yang tertidur pulas disofa.
" Mas.." Tari yang tersadar, langsung duduk dengan tegak menatap Aslan yang duduk disofa single.
" Pijit.." titah Aslan sambil merentangkan kakinya kebawah, membuat Tari harus duduk dilantai memijat kakinya.
Lanjut......
__ADS_1