
" Mas semalam kok mas gak pulang" tanya Tari meletakkan sepiring sarapan dihadapan Aslan. Mendengar pertanyaan Tari, Aslan yang tadinya ingin mengambil sarapan pun dia urungkan.
" Ngapain ngurusin gua sih, mau gua pulang kek mau enggak kek bukan urusan lu" bentak Aslan lalu pergi meninggalkan Tari dan berjalan menuju ruang ganti.
" Astaghfirullah.. kuatkan hambamu ini ya Allah" ucap Tari.
Sepuluh menit berlalu Aslan selesai dengan setelan jas yang ia pilih sendiri lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Tari.
" Mas gk makan dulu" tanya Tari.
" Makan aja sendiri, kalau perlu buang sekalian" ucap Aslan dingin, kemudian berjalan keluar. Jika biasanya Reno menjemput nya, berbeda dengan hari ini karena memang tadi dia sudah menyuruh Reno langsung menuju kekantor.
" Ya Allah apa sesakit ini.." lirih Tari merasakan tidak adanya harga diri dihadapan Aslan.
Selesai mengurusi semua urusannya, Aslan pulang sore untuk bersiap pergi menghadiri undangan Queen. Terlihat rumah sudah bersih namun tak ada terlihat keberadaan Tari.
" Dimana wanita itu.." gumam Aslan berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika sampai didepan pintu kamar Tari, tanpa pikir panjang Aslan memasuki kamar namun juga tak mendapatkan keberadaan Tari dia memilih masuk ke ruang ganti, nampak lah Tari yang sedang membelakangi pintu saat memakai bra.
" Astaghfirullah.." ucap Aslan perlahan menutup pintu tersebut dan berlari keluar.
Dua puluh tiga menit Aslan kini keluar dengan berpakaian rapi.
__ADS_1
" Mas mau kemana" tanya Tari.
" Bukan urusanmu.." ketus Aslan pergi meninggalkan Tari.
Aslan berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir rapih didepan pintu masuk. Dengan gagahnya dia masuk lalu menyapu jalanan sekitar menuju alamat yang di kirimkan Queen, dan betapah terkejutnya dia saat melihat alamat tersebut adalah sebuah bar.
" Apa apaan sih nih anak, ngapain pake aja dibar segala lagi" gerutu Aslan, meski begitu dia tetap turun memasuki bar. Tak lupa dia menitipkan kunci mobilnya kepada pelayan bar, dan berjalan mencari keberadaan Queen.
Tak berselang lama, terlihatlah Queen berjalan bersama beberapa orang wanita yang saling bergandengan dengan pasangan masing masing, sedangkan Queen merasa risih terus dibuntuti lelaki yang berstatus mantan nya tersebut
" Marchel.. stop ngebuntutin gua" pekik Queen kesal. ( yaa anggep aja make bahasa Inggris yaa)😆
Melihat itu Aslan seperti tersulut emosi, karena melihat perlakuan tak pantas kepada sang adik, mau bagaimana pun Aslan tetap menganggap Queen sebagai adiknya.
" Lepasin dia.." pekik Aslan geram berjalan kearah Queen.
" Kak Aslan tolong..." mohon Queen.
" Oh jadi ini yang lu bilang" Dia semakin menjadi jadi meraba dua gunung kembar Queen, namun saat hendak melancarkan aksinya, Aslan terlebih dahulu menendang perut Marchel hingga ia tersungkur.
" Kak.." Queen memeluk Aslan dengan erat dan menangis sejadi jadinya.
__ADS_1
" Queen duduk dulu yuk.." aja salah seorang temannya yang berpakaian sangat terbuka, membuat mata Aslan sakit.
" Kita pulang aja Queen"
" Aku gk enak lah kak sama temen temen aku, bentar lagi yaa gk lama kok lagian kalau ada kak Aslan mana berani dia datang" Queen tersenyum lalu berdiri.
" Tunggu bentar yaa kak.." Queen kemudian pergi bersama beberapa temannya.
Sementara disisi lain Reno lari tergesah gesah menuju Apartement Aslan.
" Assalamu'alaikum.. Slan, Slan.. " pekik Reno.
" Loh Ren, kenapa.." tanya Tari saat membuka pintu.
" Aslan mana Tar.." tanya Reno.
" Loh gua kira dia pergi sama lu"
" Astaga...."
Lanjut........
__ADS_1