Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
EPS 71


__ADS_3

" Saya bilang liat saya, liat saya" bentak Aslan membuat Tari terkejut dan spontan menatap Aslan.


" Kamu liat Ini..." Ucap Aslan sambil memegang sebuah surat yang mampu membuat hati Tari sakit.


" Lu harus kuat Tari, dengan keputusan yang akan diambil mas Aslan" batin Tari menahan sakit di hatinya.


" Saya minta maaf jika perjanjian dalam surat ini sudah membuat kamu sengsara" ucap Aslan membuat mata Tari berkaca kaca.


Srekk, srekk, srekk..


Tari tak menyangka dengan apa yang ia liat barusan.. hingga ia tak menyadari kini Aslan menarik dirinya ke dalam pelukan.


" Maaf jika perlakuan saya selama ini sudah membuat kamu sengsara Tari, sekali lagi maaf maaf dan maaf, tapi entah sejak kapan saya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan, kenyamanan saat dekat sama kamu kehangatan yang mengalir saat dengan kamu, marah jika kamu memikirkan laki laki lain selain saya.. Saya mencintai kamu Tari, saya mencintai kamu" ucap Aslan tulus disertai derai air mata, Tari pun ikut menangis mendengarnya.. Hatinya Terharu mendengar penuturan Aslan tadi, tak menyangka hati yang selama ini ia inginkan telah menjadi miliknya.


Ia menyadari jika hatinya memang terukir nama Aslan entah sejak kapan itu, tapi yang jelas dia seperti mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang dari nya, ia pun juga sadar perasaannya dulu terhadap Attar hanya sebatas Kagum.


Dirasa cukup lama saling berpelukan, Aslan pun melepas pelukan tersebut lalu menatap Tari lekat lekat sambil memegangi kedua tangan Tari.


" Tari.. entah sejak kapan saya mencintai kamu yang jelas perasaan itu nyata,, Tari apa kamu mau kasih saya kesempatan kedua" tutur Aslan, membuat deraian Air mata Tari semakin deras.


" Aku mau mas.. aku mau, jauh sebelum ini aku pun sudah memantapkan hati ini hanya untuk kamu mas" ucap Tari membuat Aslan kembali memeluknya.

__ADS_1


" Sekali lagi maaf, Tari.. Maafkan saya yang sudah membuat kamu merasa tertekan" ucap Aslan seakan tak bosan mengucapkan kalimat itu.


" Mas.. udah yaa, aku sudah maafin semuanya.. trimakasih, sudah mau mencintai aku" tutur Tari melonggarkan pelukan nya lalu menatap Aslan.


" Kamu adalah wanita baik Tari, saya bersyukur bisa dapat istri kayak kamu.." ucap Aslan tersenyum sembari mendaratkan kecupan di bibir Tari dan berlanjut kepada adegan yang semestinya. Eits,, gk lupa juga dengan ruangan yang sudah dalam mode kedap suara yaa.


Dahlah Skip....


" Eh Reno.. tadi ada suara ribut, ribut itu ada apa yaa" tanya Mitha yang kini sedang duduk bersama Reno di balkon kamar yang ia tempati. sedangkan Reno yang juga di area balkon kamar yang sering ia tempati, yang mana balkon kamar keduanya menyatu.


" Emm.. anu, itu, apa... hmm anu.." jawab Reno yang seakan bingung menjelaskannya.


" Anu itu, anu itu, jawab yang jelas gk usah gagu gitu kali" kesal Mitha dengan jawaban aneh Reno.


" Musuh.. emang orang sebaik mereka punya musuh" tanya Mitha kepo.


" Musuh itu bukan kita yang buat,, tapi mereka sendiri yang gampang banget iri dengan pencapaian orang lain" jawab Reno membuat Mitha menatap nya takjub.


" Gilla nih cowo, udah ganteng, baik, Dewasa, pemikiran nya pun logis banget" batin Mitha tersenyum takjub.


" Ehem.. ehem.. segitu banget ngeliatinnya" tegur Reno membuyarkan lamunan Mitha.

__ADS_1


" Haa apa..." Tanya Mitha tersadar.


" Ah enggak, lu cantik" Balas Reno seraya tersenyum.


" Ih gaje lu.." kesal Mitha melemparkan bantal sofa kearah Reno.


" Ciee yang pipinya merah" Goda Reno lagi.


" Reno" Mitha pun beralih menggelitik pinggang Reno yang hendak berdiri.


" Au au.. sakit Mit, sakit Au au..." ringis Reno yang memang cubitan Mitha tak main main.


" Rasain lu, biar tau rasa" Mitha tanpa henti terus saja menghujam pinggang Reno dengan cubitan maut nya.


" Ehem ehem..." seorang pria berjas hitam tiba tiba muncul.


Bersambung........


##


Aduh mamaee, beta minta maaf dulu yang sebesar besarnya ee sama readers karna so tida tepati janji, yang rencananya kemarin up jadi tertunda hari ini... Haha becanda yaa

__ADS_1


Wkwkwkwkwk......


__ADS_2