
Aslan berjalan masuk kedalam kamar dengan perasaan kesal, entah apa yang dia kesali tapi entah kenapa jika mendengar nama lelaki lain diucapkan Tari seakan hatinya membara.
Aslan membanting tubuhnya diatas kasur sambil berperang dengan semua pikiran yang ada.
" Kenapa hatiku seakan terbakar mendengar lelaki lain" batinnya.
" Apa aku jatuh cinta.." sambungnya lagi.
" Arrrggghhh... itu tidak mungkin, tidak mungkin aku jatuh cinta pada anak dari pembunuh Sasya.."
Aslan memukul bantal guling dengan kesal, seperti nya egonya masih menyelimuti dirinya hingga ia tidak menyadari benih benih cinta itu telah muncul.
" Shittt.. mending kerja aja" kesal Aslan kembali bangun dan menuju ruang kerjanya. Sementara itu Tari bingung dengan sikap Aslan yang berubah ubah, baru saja tadi bersikap hangat malah sekarang ia kembali kepada sikap awalnya.
" Yaampun Mas Aslan kenapa lagi sih, ah bodo deh mending gua kabarin Mitha sama Aya" ucap Tari selesai membersihkan sisa makanannya dan kemudian mengabarkan sahabat sahabatnya jika dia akan menjenguk Attar.
__ADS_1
Selesai mengabari, Tari berjalan berniat menuju kamarnya namun langkahnya terhenti ketika melihat ruangan Kerja Aslan terbuka, nampak lah Aslan yang sedang berkutat didepan laptop nya dengan serius. Tari yang melihat itu segera berjalan kembali menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi.
Selesai membuat, Tari berjalan masuk memberikan kopi kepada Aslan.
" Mas kopinya... " ucap Tari menaruh kopi disamping Aslan. Membuat Aslan melirik nya sekilas lalu kembali memfokuskan diri didepan Laptopnya.
" Boleh duduk mas" tanya Tari hanya dijawab anggukan oleh Aslan. Dengan terus memperhatikan Aslan, Tari duduk dengan tenang disofa dekat mana kerja Aslan entah apa yang mendorong nya agar terus berada di dekat Aslan.
" Kalo pas serius gini ganteng juga yaa" gumam Tari pelan. Namun beberapa saat kemudian dia memukul mulutnya.
" Ngomong apa sih.." ucapnya lagi.
Tentu saja Aslan tak melihatnya, karna memang dia mengira bahwa Tari sudah keluar dari ruangannya. Hampir tiga jam Aslan berkutat didepan laptop nya, hingga dia menyudahi urusannya dan beranjak ke kamar, namun berapa terkejutnya dia ketika mendapati Tari yang tertidur lelap.
" Ngapain tidur disini sih.. ngerepotin aja" kesal Alsan berjalan kearah Tari.
__ADS_1
" Tar..
" Tari.. " juga tak ada jawapan, terpaksa Aslan harus menggendong Tari kekamar. Dengan hati hati ia menggendong Tari ala Bridal style menuju kamarnya karena posisi kamar Tari agak jauh Aslan memutuskan untuk membawa ke kamarnya.
Dengan perlahan Aslan membaringkan tubuh Tari diatas kasurnya, tanpa sengaja Aslan menatap wajah damai Tari yang sudah tertidur lelap, lalu menyibakkan rambut yang menutupi mata nya hingga kebelakang Telinga.
" Mampukah saya menghukummu, atas apa yang bukan kesalahanmu.." batin Aslan menatap sayu wajah Tari.
" Tapi hanya dengan ini saya bisa membuat Galih menderita.. maafkan saya harus melakukan ini, dan maafkan saya jika kedepannya menyakitimu" lirih Aslan tanpa sadar memegang wajah Tari dengan lembut lalu mengecup kening Tari.
" Maaf jika kedepannya menurut mu saya kejam, tapi saya melakukannya dengan sebab.. " ucap Aslan terus menatap Tari. Dia kemudian berjalan kearah kamar mandi dan membersihkan dirinya, ya memang kebiasaannya sebelum tidur harus membersihkan diri terlebih dahulu.
Oky... maaf nih berapa hari gk up, soalnya rumahku kini menjadi rumah duka dimana aku manjadi tuan rumahnya.. jadi mohon dimaklumi, mungkin sebagian orang tau dan peka lah dengan yang aku alami..
...Oky Sampai situ aja.....
__ADS_1
...Papay......
...Lanjut......