
Kini tinggallah Aslan yang sedari tadi menunggu Tari siuman, entah kenapa Aslan selalu setia menunggunya siuman.
Hampir 2 jam Aslan menunggu, hingga akhirnya kantuk mulai menyerang nya.. hanya dengan hitungan detik Aslan sudah tertidur lelap dengan menggenggam tangan kanan Tari.
Jam 12 siang Tari terbangun, karena merasakan perutnya sudah melilit. Saat hendak menggoyangkan tangannya ia seperti merasakan genggaman yang sangat hangat menurut nya.
Dengan perlahan Tari membuka matanya, betapa terkejutnya dirinya ketika melihat Tangan yang menggenggam jari jarinya adalah milik sang suami. Terlihat Aslan menyenderkan kepalanya didinding, sambil menatap Wajah sang suami entah apa yang ia rasakan, sebuah desiran hangat mengalir dalam dirinya, ada kenyamanan dalam hatinya ketika mendapat genggaman hangat dari Aslan.
" Mas.." ucap Tari menggoyang kan lengan Aslan.
" A-ah.. iya" ucap Aslan reflek membuka matanya.
" Tari kamu sudah sadar" tanyanya diangguki Tari.
" Dokter.. Dokter.. " panggil Aslan keluar dari ruangan kemudian kembali membawa dokter wanita.
" Tolong periksa dia Dok.." ucap Aslan.
" Ah baik.. saya akan memeriksanya" ucap dokter itu tersenyum.
" Bagaimana bu.. apa yang Anda rasakan"
" Ah kepalaku sedikit sakit dok, entah kenapa setiap aku berusaha mengingat apa yang terjadi.. dia selalu menolak" ucap Tari.
__ADS_1
" Pelan pelan yaa bu.. hanya kuasa tuhanlah yang membuat ibu dapat mengingatnya, saya sarankan jangan terlalu melaksanakan nya.. baiklah saya akan menulis resep obatnya, dan silahkan ditebus yaa, saya permisi" ucap dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Aslan dan juga Tari yang kini kembali dengan suasana canggung.
" Maafkan aku jika semalam menyentuhmu" ucap Aslan membuka suara.
" Em-"
" Jika kau marah, kau boleh memukulku sepuasmu" ucap Aslan memalingkan wajahnya.
" Ma~mas.. apa aku boleh memeluk mu" ucap Tari membuat Aslan menatapnya.
" Maaf mas aku lancang" Tari kemudian menunduk, namun sejurus kemudian Aslan memeluknya.
" Sudahlah diam dan tenang" ucap Aslan memeluknya dan dibalas pula oleh Tari..
" Kenapa aku menyukai pelukan ini, seperti pelukan yang lama hilang" batin Aslan.
" Ka-kau kenapa " tanya Aslan.
" Apakah kau akan tetap menceraikan aku mas" tanya Tari membuat Aslan tertegun.
" Ak-ak-aku.. hah Tidak akan, maaf jika pernah meragukan kesucianmu" ucap Aslan.
" Tolong jelaskan dendam apa yang terjadi denganmu dan juga Ayah mas, aku ingin sekali mengetahuinya agar aku bisa menebus semua kesalahannya" tanya Tari membuat Aslan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Kau tidak perlu untuk mengetahuinya, akupun akan memaafkanmu tapi tidak dengan Ayahmu" ucap Aslan sedikit menjauh.
" Tapi apa alasannya mas, aku berhak tau agar aku tau aku harus dipihak mana" ucap Tari.
" Sudah kukatakan dan jangan membantah, aku sudah cukup baik padamu, setelah dari sini kita akan bersiap-siap besok kita pulang" ucap Aslan berjalan keluar meninggalkan Tari.
Beberapa menit kemudian, Aslan kembali masuk dengan membawa dua bungkus makanan.
" Makanlah.." ucapnya datar.
" Mas" tanya Tari.
" Ya makan memangnya untuk kamu semua" ucap Aslan mengambil satu bungkus makanan. Mereka makan dalam diam tanpa suara, terhanyut dalam pikiran masing masing.
" Mas.." panggil Tari ketika sehabis makan.
" Hmm" hanya duheman yang keluar.
" Maaf atas kelancangan aku tadi" ucap Tari.
" Tak perlu dibahas, sore ini kita pulang ke apartemen siapkan samua karna kita berangkat besok subuh" ucap Aslan membersihkan sisa makanan ya juga makan Tari.
" Mas gk usah biar aku aja" ucap Tari.
__ADS_1
" Istilah lah, biar aku saja" ucapnya.
Lanjut........