
Beberapa menit berlalu, terlihat Tari terbangun dari tidurnya sambil melihat sekeliling hingga ia sadar telah melakukan hubungan itu kedua kalinya, Pandangannya terhenti ketika melihat tangan kekar Aslan kini tengah merengkuhnya.
Seketika ia beralih menatap Aslan yang kini sedang tidur disampingnya. Tanpa ia sadari setetes cairan bening keluar dari matanya, dengan perlahan ia turun dan berjalan kearah kamar mandi.
Di kuncinya pintu lalu tanpa sadar air matanya terus mengalir tanpa henti.
" Sehingga itukah aku, bahkan dia hanya menjadikan ku sebagai wanita pemuasnya, selemah itukah aku, bahkan ketika dia menyentuhku aku seakan tidak bisa menolaknya" ucapnya terduduk didepan sebuah kaca besar.
" Aaaah..." hanya itu yang bisa dia ucapkan lagi sambil menutupi wajahnya. Namun dengan cepat dia berdiri sambil menghapus air matanya.
" Lu gk lemah Tari, bangun jangan cengeng, sebisa mungkin lu harus buat Mas Aslan suka sama lu" kini tekadnya kuat dia ingin mempertahankan hubungannya walau sebesar apapun rintangan yang harus dia hadapi.
Dengan cepat dia membersihkan badanya, lalu keluar dan mengganti pakaian, tak lupa mengeringkan rambut terlebih dahulu sebelum akhirnya keluar untuk menyiapkan makanan.
Baru saja melangkahkan kakinya di dapur dia teringat dengan sahabatnya yang sudah sejak tadi ia tinggal, dan kini bahkan Reno pun juga tak terlihat.
Dia mencari keberadaan Mitha dan juga Reno sampai keluar, namun dia tertegun ketika melihat Mitha yang tengah menangis sambil bersandar di bahu Reno, samar samar ia mendengar pembicaraan Mitha yang sedang curhat.
Tak mau mengganggu momen itu, Tari memilih kembali kedalam Apartemen nya dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
" Gua berharap lu bisa dapat yang lebih baik, yang pasti tulus Mit" batin Tari berjalan menuju kedalam Apartemen nya.
" Dari mana" tanya Aslan yang ternyata sudah bangun sejak tadi saat Tari keluar dari kamar.
" Eh.." ucap Tari yang terjingkak kaget ketika mendapati Aslan dihadapan nya.
" Udah bangun yaa mas, udah mandi" tanya Tari yang mendapati pelototan dari Aslan.
" Kamu belum menjawab pertanyaanku" ucap galak Aslan hanya membuat Tari cengengesan.
__ADS_1
" Itu lagi nyari Mitha gk tau nya lagi sama Reno di rooftop" jawab Tari.
" Mana dia, bukannya kerja malah enak enakan disini" kesal Aslan yang hendak keluar namun dicegah Oleh Tari.
" Mas biarin aja dulu yaa, soalnya Mitha lagi curhat.. Jangan di ganggu dulu yaa" ucap Tari.
" Kau.. berani menyuruhku" ucap Aslan geram.
" Eh, eh bukan gitu mas.. Tari emang mas gk bisa gitu biarin orang lagi berdua duaan, biasanya kalau lagi diganggu sama orang ketiga bisa dibilang setan loh" ucap konyol Tari.
" Apa.. Kau ngatain saya setan" Aslan semakin geram, namun bukannya takut malah membuat Tari tertwa.
" Apaan sih mas, gk gitu tapi.." ucap Tari terhenti.
" Sudah sudah.. cepat masak saya lapar" ucap Aslan sambil menarik tangan Tari menuju dapur, lalu ia duduk dihadapan Tari.
" Oke okee.."
Melihat cara memasak Tari, Aslan seakan familiar dengan cara itu, tiba tiba ketika melihat Tari terhenti dia pun bertanya.
" Kenapa berhenti.." tanya Aslan berdiri lalu duduk diaamping Tari.
" Lupa satu bahan.. Apa yaa" ucap Tari membuat Aslan mengerutkan dahinya.
" Truss kamu dapat resep ini dari mana.. Kok bisa lupa" tanya Aslan.
" Emm gk tau sih, kayak kepikiran aja" ucap Tari membuat Aslan geleng geleng kepala.
Namun tiba tiba saja keduanya saling menatap.
__ADS_1
" Jeruk nipis" ucap keduanya saling menunjuk lalu bersorak antusias. Dengan cepat keduanya bekerja sama memasak makanan itu yang entah kenapa sama sama familiar dengan masakan itu, hingga keduanya selesai memasak dan saling pandang.
" Ternyata mas bisa masak yaa" ucap Tari kagum.
" Biarpun saya kayak gini, tapi saya juga pinter masak tau" ucap Aslan.
" Hehe.. truss ini masakan dikasih nama apa yaa bagusnya " tanya Tari memandangi masakan yang kini sudah tertata rapi diatas sebuah mangkuk.
" Gurame asam manis" ucapnya seperti berfikir dari mana kata itu muncul. Mendengar sahutan itu Tari seakan familiar berulang kali dia mencoba mengingat, mulai dari keseruan keduanya seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
Tari berusaha keras,, seakan memaksa ingatan yang terkubur rapat rapat didalam dirinya, baru saja secercah gambaran muncul tiba tiba saja redup dan seperti hantaman yang memberatkan pikirnnya. Membuatnya hilang kesadaran hingga hampir terjatuh untung saja denga cepat Aslan menahan tubuhnya.
" Tar.. Tari... Tari... kamu kenapa, Hey.. Hey..Hey.. Reno" Teriak Aslan membuat Reno juga Mitha terkejut dangan secepat kilat berlari masuk.
Betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat Aslan yang kini tengah memangku Tari dilantai.
" Loh Slan.. ini kenapa, Tari" tanya Reno cemas.
" Udah gk usah banyak tanya, siapin mobil" ucap Aslan lalu menggendong tubuh Tari Ala Bridal Style dan berlari keluar diikuti Mitha juga Reno.
" Ini kenapa bisa kayak gini" tanya Reno panik.
" Lu bisa diem gk sih, gua panik jadi tambah panik" ucap Aslan memarahi Reno membuat Mitha tersentak kaget.
" Udah Ren diem aja" ucap Mitha yang sebenarnya paham akan kekhawatiran mereka berdua.
Tring.. suara lift terbuka dengan cepat mereka keluar.
" Aslan..."
__ADS_1
Bersambung..........