
Reno kini duduk didepan pintu UGD sambil meremas tangannya, entah kenapa yang ia rasakan adalah kecemasan yang tak kunjung menghilang, hingga ketika suara pintu terbuka membuat nya dengan cepat berdiri.
" Dok gimana keadaannya, Dok baik baik aja kan, Atau ada yang fatal" tanya Reno cemas.
" Loh Reno, kamu.. Jadi itu pacar kamu"tanya dokter tersebut yang tak lain adalah kerabat Reno lebih tepatnya adalah pamannya.
" Om Yas.. ah bu,bu,bukan om itu cuman temen kok" jawab Reno salah tingkah.
" Serius cuman temen, atau.." Goda Dokter Aryas yang kerap dipanggil Yas itu.
" Apaan sih om, Gimana keadaannya sekarang" tanya Reno kesal kepada Dokter Yas.
" Hmm dari analisa tadi, tidak ada yang fatal mungkin dia hanya syok saja dengan apa yang habis dia alami" jawab Dokter Yas.
" Oh Makasih banyak kalau gitu om, saya masuk dulu" Jawab Reno cepat dan langsung meninggalkan Pamannya itu, takut jika akan digoda lagi.
" Haha Dasar anak muda, eh tapi kapan dia pulang kesini yaa" tanya Dokter Yas kepada diri sendiri, bodohnya dia kenapa tidak menanyakan kabar ponakannya itu sekaligus kabar sang kaka dan kaka iparnya yang sudah tinggal lama di Kanada.
...____ ____ ____ ____ ____...
Reno masuk dengan perlahan kedalam ruangan, terlihat jelas wajah damai Mitha yang terbaring lemah ditambah dengan mata yang sembab, akibat menangis terlalu lama.
Mulutnya seakan kelu, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, dadanya seakan sesak melihat penderitaan Mitha. Perlahan tangannya mengelus pucuk kepala Mitha dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Mitha.
" Wanita yang malang.." gumamnya.
Namun sedetik kemudian ada pergerakan dari Mitha yang membuat Reno dengan cepat menyingkirkan tangannya dari kepala Mitha.
Dengan perlahan Mitha mengerjapkan matanya, pandangan pertama yang dia lihat adalah Reno yang kini masih setia disamping nya.
" Ren,Reno.. Gua dimana ini" ucapnya pelan hendak bangun.
" Auu..." peliknya memegangi kepalanya, membuat Reno segera membantu membaringkan kembali kepalanya.
" Shutt.. gk usah bangun, kamu itu masih pusing.. memangnya kamu gk ingat kamu habis kenapa hemm" ucap Reno membuat Mitha memikirkan apa yang tadi baru saja terjadi, tiba tiba tangisnya pecah membuat Reno secara refleks memeluknya, tdk ada penolakan yang ditunjukan Mitha melainkan ia dengan tenang membalas pelukan tersebut.
Saking nyamanya berpelukan mereka tidak menyadari jika sedari tadi Aslan, Tari juga Dokter Yas sudah berada didalam ruangan tersebut.
" Ehem..." suara itu berhasil membuat Reno berbalik dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati Aslan dibelakang nya, lebih lebih lagi bersama Dokter Yas dan juga Tari yang melongo melihat mereka berdua.
" Eh Slan.. Tari.." ucapnya salah tingkah, sedangkan Mitha hanya menutupi wajahnya malu.
" Oh jadi gini, pantesan gada nongol di kantor" sindir Aslan.
" Mit.." ucap Tari lalu berjalan mendekati Mitha, sementara mitha kembali mengeluarkan air mata nya.
" Eh Mit.. Lu kenapa coba cerita sama gua" ucap Tari duduk di tepi ranjang.
" Mending kita bicara diluar yuk" ajak Reno membuat Aslan dengan cepat keluar.
" Eh Om juga ikut, om sekalian mau nanya kabar" ucap Dokter Yas dengan mengikuti langkah mereka berdua.
Kini tinggallah Tari juga Mitha yang tersisa didalam ruangan tersebut.
Namun tangis Mitha tak kunjung mereda ketika mengingat perlakuan Radit.
" Mit mitha tenang yaa, gua disini dengerin kok.. sekarang coba ceritain pelan pelan yaa" ucap Tari.
" Radit Tar,, Radit selingkuhin gua" ucapnya sambil memeluk sahabatnya itu.
" Ternyata selama ini dia cuman mau manfaatin gua doang, dia gk pernah sayang sama gua, gua cuman jadiin gua mainan doang, dia cuman pura pura sayang sama gua" ucap Mitha terus menangis.
" Hay udah dong gk pantas seorang Mitha nangisin cowo kayak dia, ingat masih banyak cowo di luaran sana yang pantas buat lu, udah ih gk usah nangis lagi" ucap Tari menenangkan Mitha.
__ADS_1
" Lu bener Tar.. Gua gk boleh nangis kayak gini" ucapnya berusaha tegar .
" Gitu dong, lagian gk dapat Radit masih dapat yang lain kan" Goda Tari, membuat Mitha seketika bingung.
" Maksudnya lu paan" tanya Mitha tak mengerti.
" Lagian gua liat.. lu sama Reno deket, tapi gua sih dukung dukung aja yaa, Reno kan baik" ucap Tari membuat Mitha salah tingkah.
" Dih Apaan sih lu Gaje banget deh" ucap Mitha memalingkan wajahnya menatap sembarang arah, namun entah kenapa hatinya senang dan selalu terbayang akan wajah Reno.
" Cie.. cie..." Goda Tari.
Sementara diluar.
" Gua gk mau tau sebentar lu kerja lembur titik" ucap Aslan membuat Reno tercengang.
" Tapi.." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Aslan kemudian memotong pembicaraan nya.
" Gk mau" tanya Aslan dingin membuat Reno menelan salvilanya dengan kasar.
" O,o,okey.." jawabnya mengalah.
" Reno.. " panggil Dokter Yas.
" Kenapa Om" tanya Reno.
" Yang tadi beneran pacar kamu kan" tanya Dokter Yas masih penasaran.
" Apaan sih Om.. ngaco klo ngomong" kesal Reno. Kemudian dia juga Aslan meninggalkan Dokter Yas kembali memasuki ruangan tersebut.
" Gimana udah agak enakan" tanya Reno saat baru masuk.
" Alhamdulillah Kok" jawab Mitha tersenyum canggung.
" Dokter.. " panggil Reno membuat Dokter Yas segera masuk.
" Kenapa" tanya Dokter Yas.
" Udah boleh pulang" tanya Reno.
" Yah boleh lah, Atau perlu saya rawat inap" tanya Dokter Yas.
" Tidak perlu" Ucap Reno dingin, kemudian berjalan keluar, menuju administrasi.
" Mas" panggil Tari kepada Aslan yang duduk di sofa sambil menatap hp nya.
" Hmm" jawab Aslan melihat sekilas Tari lalu kembali fokus pada Hp nya.
" Boleh bicara sebentar" ucap Tari yang kini sudah dihadapan.
" Boleh tidak aku nginep dirumah Mitha, kebetulan orang tua nya lagi diluar kota" tanya Tari pelan. Membuat Aslan menatapnya.
" Tidak bisa..." jawabnya kesal.
" Enak saja, tarus dia akan menghabiskan waktunya telfonan bersama pria itu, tidak akan aku biarkan" batin Aslan kesal.
" Tapi kan mas, kasihan Mitha" bujuk Tari kini duduk disamping Aslan, sambil memegangi kedua tangan Aslan.
" Shutt.. sekali saya bilang tidak ya tidak, biarkan dia yang menginap dirumah tapi jangan kamu yang kesana, saya tidak akan mengijinkannya" jawab Aslan membuat Tari melirik Mitha sebagai tanda persetujuan, dan akhirnya mau tidak mau Mitha mengiyakan dari pada dia harus didatangi oleh Radit.
" Makasih mas" ucap Tari spontan memeluk leher Aslan dan mencium Pipi nya. Hal itu berhasil membuat Asalan linglung tak bergerak sedikitpun.
" Mulai berani kamu yaa" ucap Aslan menatap Tari, membuat Tari sadar dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
" Ma,ma,maaf Mas-" ucapnya terhenti ketika bibir Aslan kini telah mengunci mulutnya, Perlahan tapi pasti mereka berdua terhanyut dalam itu semua hingga tak menghiraukan Mitha yang masih ada disana.
Mitha yang seakan sedang menonton live streaming pun, tidak bisa berkedip menatap kedua sejoli itu.
" Gilla.. Gini yaa rasanya nonton live streaming" gumamnya terus menatap ke arah didepan nya.
Sementara itu Aslan yang sudah diselimuti gairah, hendak menindih tubuh Tari namun aksinya terhenti ketika suara kecil Tari terdengar.
" Mas.." ucapnya pelan takut Aslan marah, hingga ketika Aslan memicingkan matanya meminta penjelasan, Tari pun dengan cepat melirik Mitha yang ada dibelakang mereka. Spontan saja Aslan bangkit diikuti Tari yang sama sama Salah tingkah.
" Saya tunggu diluar" ucap Aslan merapikan Jas nya lalu keluar dari ruangan tersebut. Sementara Tari berjalan kearah Mitha.
" Gilla kali lu yaa, liar banget" ucap Mitha memukul Tari menggunakan bantal.
" Huss.. udah ah malu tau" ucap Tari.
" Tapi gimana enak gk" tanya Mitha membuat Tari mencubit pipinya.
" Ih dasar yaa otak lu" kesal Tari.
" Sekali kali gapapa lah yaa" ucap Mitha terkekeh, kemudian mereka berdua pun keluar betapa terkejutnya mereka ketika mendapati Reno.juga Aslan berdiri tepat dihadapan nya.
" Ayo..." ajak Reno membuat Mitha tercengang.
" Gk usah mikir yang aneh.." ucap Reno berjalan sambil menarik tangan Mitha menuju mobil nya, begitupun dengan Aslan.
" Mas.. Mitha" tanya Tari.
" Dia sama Reno" jawab Aslan kemudian melajukan mobil nya menuju Apartemen nya.
Pov Mitha dan Reno.
" Eh,eh gua mau lu bawa kemana" tanya Mitha saat melihat Tari dan dirinya naik mobil yang berbeda.
" Udah deh, diem aja lagian saya gk bakal mungkin nyulik kamu" ucap Reno sambil memakaikan Seatbelt untuk Mitha.
" Diem gk usah banyak tanya Okey" ucap Reno membuat Mitha terdiam, Reno pun masuk kedalam mobil nya dan menancapkan gas dengan kecepatan normal.
Sementara Mitha masih dibuat terpaku oleh perlakuan Reno, membuat nya terus saja menatap Reno tanpa berkedip.
" Mau samai kapan kamu mau natap saya seperti itu hmm" ucap Reno membuat Mitha salah tingkah.
" Ih apaan sih, jadi orang jangan kepedean" jawab Mitha memalingkan wajahnya menatap jendela.
" Oh yaa" Reno pun tiba tiba saja menghentikan mobil nya dan menatap Mitha.
" Eh, ma,mau apa" tanya Mitha ketika Reno sudah mendekat kearah duduknya.
" Saya pastikan kamu sekarang sedang berbohong" ucap Reno tepat diwajah Mitha. Seketika jantung keduanya berdetak sangat kencang. Apalagi Mitha seakan terhipnotis oleh Reno ditambah dengan bau maskulin Reno menambah kencang cetakan jantung nya.
" Sudahlah..." ucap Reno kemudian menjalankan mobil nya, sedangkan Mitha yang tak karuan hanya bisa mengalihkan pandangan nya keluar.
" Gilla.. Kok gua deg degan sih, ah singkirin pikiran itu" batin Mitha.
" Sialan.. awalnya hanya ingin menggoda nya, kenapa gk karuan gini sih" batin Reno.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan, kini mereka sampai di kawasan Apartemen yang mana satu lantai sebelum Apartemen Aslan adalah milih Reno.
Mereka kemudian turun sambil disambut beberapa pengawal yang bekerja disana.Mereka terus berjalan menuju Lift hingga sampailah pada lantai Atas yang mana telah terdapat bodyguard yang berjaga disana.
Eits sabar yaa..
Bersambung.......
__ADS_1