Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
EPS 64


__ADS_3

Aslan dan Widya bergegas berdiri ketika melihat Dokter keluar dari ruang UGD.


" Bagaimana kondisinya Dok" tanya Aslan mendahului Widya.


" Emm bisa bicara diruangan saya" ucap dokter itu terlihat serius.


" Bisa dok.. maa mama disini aja yaa aku yang kesana" ucap Aslan diangguki Widya, Aslan pun mengikuti langkah sang dokter menuju ruangannya sedangkan Widya memasuki UGD.


Ruang Dokter..


" Silahkan duduk tuan" ucap Dokter Lukman.


" Sebenarnya apa yang terjadi dok" tanya Aslan terlihat khawatir bercampur penasaran.


" Begini tuan, dari pengecekan tadi saya sarankan untuk tidak terlalu memaksakan nona Tari untuk mengingat, perlu diketahui hal itu hanya akan membuat kondisinya melemah, bisa saja kejadian itu dapat memicu timbulnya efek berkesampingan yang mampu membuat nona Tari kembali drop atau bahkan koma dan-" ucap dokter lukman.


" Tunggu dok. Sebelumnya bisa jelaskan penyakit yang diderita istri saya, jujur saya tidak tau apa yang dideritanya saat ini" ucap Aslan memotong pembicaraan dokter lukman.


" Begini tuan, Nona Tari pernah memvonis Amnesia yang dapat dikatakan sebagai Amnesia permanen, namun bisa disimpulkan ingatan nya dapat kembali hanya 5 sampai 10 persen saja, meski begitu itu hanya akan menyiksa pasien karna didunia kesehatan minim bagi pasien yang menderitanya dapat sembuh dan mengingat masa lalu tersebut, bahkan hanya ada 2 persen saja yang berhasil memulihkan ingatan mereka, saya sarankan anda jangan terlalu memaksakan nona Tari untuk mengingatnya" ucap dokter lukman.


" Ternyata memang benar" batin Aslan kembali mengingat kejadian waktu dia dan Tari di kanada.


" Baiklah dok, kalau begitu terima kasih dan permisi" ucap Aslan lalu keluar dan kembali menuju ruang UGD.


Baru saja melangkah keluar, Aslan bertepatan dengan Reno dan juga Mitha yang membuatnya merasa aneh adalah ketika Reno terus saja tersenyum sembari memperhatikan Mitha, bahkan keberadaan Aslan pun tidak ia sadari.


" Emm lu gk mau pulang aja" tanya Reno kepada Mitha.


" Gk deh, gua pasti bakal ketemu sama dia lagi" ucap Mitha membuat Reno terkekeh.


" Ih ngesalin ya" kesal Mitha membuat Reno tersenyum lalu mengacak acak rambut Mitha.


" Kalau mau move on, lawan bukan malah ngehindar.." ucap Reno.


" Ih Renoo.. gua gk suka rambut gua acak acakan" kesal Mitha sembari memperbaiki rambut nya.


" Ehem.."


Mendengar suara tersebut, spontan saja keduanya menatap ke arah suara tersebut.

__ADS_1


Terkejut tentu saja.


" Slan.. udah lama" tanya Reno.


" Dari tadi" ucap Aslan.


" Oh.. Gimana Tari" tanya Reno.


" Gua belum liat, tapi ada yang bakal gua bicarain" ucap Aslan terlihat serius.


" Emm.. Gua pergi luan yaa Ren, em.. tuan Aslan" ucap Mitha membuat keduanya mengangguk.


" Hati hati yaa Mit.." ucap Reno menatap Mitha sembari tersenyum dibalas senyuman pula oleh Mitha, entah kenapa senyuman Mitha seakan menghangatkan hati Reno, begitupun sebaliknya yang Mitha rasakan entah kenapa dia merasakan kenyamanan ketika melihat senyuman Reno.


" Yaampun kok gua adem yaa" Batin Reno menatap kepergian Mitha.


Sedangkan Mitha entah kenapa selalu saja tersenyum memikirkan Hangatnya sikap Reno padanya.


" Haiss kenapa jantung gua kek gini coba" batin Mitha sembari berjalan kearah pintu.


Mitha pun sampai didepan pintu UGD.


" Assalamualaikum.."ucapnya sembari mengecilkan suara ketika melihat ada banyak orang didalam ruangan.


" Eh tunggu.." ucap Widya, mengingat Mitha tadi pergi bersama membawa Tari kerumah sakit, sudah pasti ini teman Tari.. begitu pikir Widya.


" I,iyaa Tante" ucap Mitha.


" Yasudah tunggu disini saja, ini kenalin Anak tante.. Adik ipar Tari namanya Virli dan ini suaminya Kevin" ucap Widya memperkenalkan.


" Mitha.." ucap Mitha sopan.


" Virli.." Virli pun membalasnya dengan Ramah.


" Kevin.." sambung Kevin dengan wajah datarnya.


" Aa, asshh.." Suara Tari membuat mereka langsung berbalik menatap Tari yang kini hendak bangun.


" Tari.. udah sayang gk usah bangun.." ucap Widya memegang tangan Tari.

__ADS_1


" Kak.. kak Tari gk papa kan" tanya Virli tak kalah khawatir.


" Tari.." ucap Mitha juga.


" Ma, Virli.. Mitha.." ucap Tari menatap kearah tiga wanita dihadapannya sedangkan Kevin sibuk kembali dengan ponselnya.


" Apanya yang sakit sayang.." tanya Widya pelan.


" Gk papa kok maa, hanya pusing aja.. kita dimana yaa, truss mas Aslan dimana" tanya Tari.


" Kita dirumah sakit sayang.." ucap Widya.


" Iya Tar, suami lu sama Reno kayaknya lagi bicara serius deh" ucap Mitha melanjutkan.


" Haa.. tuh anak, biar mama panggilin yaa sayang tunggu bentar" ucap Widya hendak pergi namun dicegah Tari.


" Udah gk usah maa, mungkin penting" ucap Tari.


" Biar gua yang panggilin" ucap Kevin yang sebenarnya bosan didalam ruangan itu karena hanya dialah yang pria sedangkan yang lain wanita.


" Ya Udah sayang.. panggilin yaa" ucap Virli.


" Kamu duduk aja.. ntar kecapean.." ucap Kevin sembari mengambilkan kursi yang ada lalu mencium kening Virli sebelum akhirnya keluar.


" Huh.. semua hubungan yang gua liat bahagia" batin Mitha menatap Virli lalu menatap kearah pintu yang baru saja dilewati Kevin, tiba tiba saja pikiran nya teralihkan kepada penghianatan Radit tadi sehingga membuat dia meneteskan airmata.


" Huh.. lu bisa Mitha.. lu bisa" sambungnya lagi sembari menghapus sisa air matanya agar tak terlihat.


Diluar


" Gua mau lu secepatnya selidiki mereka" ucap Aslan tegas setelah mendengar cerita Reno.


" Tapi Slan.. gua pikir lagi apa mungkin dia-"


" Slan.. Reno.."


Bersambung.....


##

__ADS_1


Sekali kali yekan buat, kalian penasaran....


Wkwkwkwk...


__ADS_2