Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
EPS 81,82(BOM PART)


__ADS_3

**


"Gua bakal milikin tuh cowo, gua yakin pesona Mitha masih kalah dari gua" gumam seseorang yang sedang duduk di salah satu meja sambil memandangi Reno takjub.


" Haha,, gua bakal buat lu malu besok dan kita bakal liat trending topik kampus ini, dan sedikit lagi rencana gua bakal sempurna" gumam seseorang dari balik pohon setelah berhasil memvideokan aktifitas mereka tadi." Kejadian tadi semakin mempermudah rencana gua" sambungnya tersenyum puas lalu kembali memakai kacamata hitamnya.


**


Aslan mempercepat langkahnya menuju parkiran, sedangkan Tari hanya mengikut saja.


" Mas emang di kantor gada kerjaan" tanya Tari pelan sambil memegang tangan Aslan yang ada di pinggangnya.


" Lagi kosong" jawab Aslan dingin, membuat Tari menggelengkan kepalanya.


" Mas..." panggil Tari yang hanya di jawab duheman Aslan.


" Masuk" titah Aslan membukakan pintu mobil untuk Tari. Setelahnya dia berjalan ke pintu kemudi.


Hening.. itulah keadaan saat ini, Aslan memilih diam dengan perasaan tak menentu sedangkan Tari juga tak berbicara.


" Ko belum jalan mas" tanya Tari namun tidak ada respon sama sekali. Membuat Tari menghela nafas panjang, dia tau Aslan sedang marah saat ini.


Aslan keluar dari dalam mobil ketika melihat Reno yang berjalan beriringan bersama Mitha.


Bug..


Aslan langsung saja menghadiahi Bogeman tepat di perut Reno membuat pria itu meringis kesakitan.


" Lu apa apaan sih Slan" tanya Reno memegangi perutnya.


" Lu lama banget sih, untung ada gua kalo gak Tari udah dia bawa sekarang, ngapain aja sih tadi" kesal Aslan membuat Reno bingung harus menjawab apa.


" Anu, itu tadi jalanan macet Slan" jawaban Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Alesan aja lu, pokoknya gua gak mau tau entar malam lu lembur" ucap Aslan dingin lalu meninggalkan keduanya, sedangkan Mitha membantu Reno yang memegang perutnya.


Dalam Mobil....


" Mas, kamu kenapa mukulin Reno" tanya Tari baru melihat keluar dan ternyata Aslan habis memukuli Reno.


" Kenapa gak suka, marah, atau.." ucap Aslan terhenti ketika jari telunjuk Tari menempel di bibirnya.

__ADS_1


" Mas,, oke aku tau kamu marah.. aku masih Deket Deket sama Attar, tapi jangan kayak gitu juga dong aku udah berusaha buat jauhin dia tapi mau gimana lagi toh kita kan satu kampus" ucap Tari mengelus lembut pipi Aslan.


" Yaudah pindah ke kampus Virli aja, nanti kan disana banyak tuh yang jagain kamu" usul Aslan yang akhirnya luluh dengan kelembutan Tari.


" Mas, disini kan juga ada Mitha sama Ayya yang tau aku udah nikah, pasti mereka bakal berusaha jauhin aku dari Attar lagian disini ada pak Zaky yang juga tau kalau aku punya kamu, yaa" Tari berusaha selembut mungkin meredakan emosi suaminya itu. Sedangkan Aslan kembali berfikir, dia akan meminta bantuan Zaky untuk memata-matai Tari saat dikampus.


" Hmm, baiklah tapi mungkin aku bakal taruh beberapa orang mata mata minimal 10 atau 20 orang disini" ucap Aslan mendapat cubitan dilengan nya dari Tari.


" Ih mas, kamu kira aku ini anak TK apa" kesal Tari membuat Aslan terkekeh, entah sejak kapan dia bisa berekspresi seperti itu yang jelas saat bersama Tari semua beban pikirannya hilang.


" Gak lah, kalau masih TK mana mungkin bisa kuliah" ucap Aslan tertawa membuat Tari memandangi nya lekat lekat, karena ini pertama kalinya dia melihat wajah ceria sang suami.


" Puas liatinnya hmm" tegur Aslan tepat di depan wajah Tari membuat Tari terpaku, lama Tari terdiam hingga ia tersadar ketika bibir Aslan juga bibirnya bersentuhan hingga perlahan Aslan ******* nya. Lama melakukan nya hingga Aslan menyudahi nya ketika tangan Tari menepuk pelan dada Aslan. Aslan menatap Tari sambil tersenyum lalu mengeringkan bibir Tari yang basah akibat ulahnya, kemudian mengecup kening Tari dengan sayang. Keduanya sama sama menikmati, seakan tidak ingin berpisah (LAGI) keduanya merasakan seperti ada ikatan batin.


" Ikut aku yaa, aku lupa kalau hari ini aku ada janji untuk ketemu sama mereka, lagian udah lama juga gak kesana" ucap Aslan masih dalam posisi tepat dihadapan Tari.


" Kemana emangnya mas, kalau urusan penting banget aku gak mau ganggu" jawab Tari.


" Gak ganggu kok, ini bukan masalah kerjaan yaa. Pokoknya ikut aja" Aslan pun menjalankan mobilnya meninggalkan kampus, sedangkan dari belakang berlihat pula sebuah mobil mengikuti mereka namun sama sekali tidak menaruh rasa curiga.


Hampir setengah jam lebih menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah pinggiran kota yang memiliki halaman yang cukup luas dan rumah yang cukup besar. Disamping rumah itu pun terdapat beberapa rumah yang berjejer rapi kebelakang, sedangkan kawasan padat penduduk sedikit berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah tersebut.


" Ini rumah panti yang sudah hampir tujuh tahun aku dirikan, dulu penghuninya masih Joni sama ibunya semakin lama penghuninya semakin banyak, entah dari mana yang jelas mereka ditelantarkan oleh keluarganya atau bahkan Yatim-piatu" jalas Aslan berdiri menatap pekarangan rumah itu sambil memeluk pinggang ramping Tari.


Tari menatap Aslan penuh kagum, ternyata dibalik sifat dingin, dan cueknya terdapat hati yang lembut penuh kasih sayang.


" Pasti banyak yaa mas kenangan disini" ucap Tari sambil menyenderkan kepalanya didada bidang Aslan lalu menaruh tangannya diatas tangan Aslan yang ada di pinggangnya.


" Yuk masuk, ntar masuk angin soalnya disini banyak angin" bisik Aslan tepat ditelinga Tari membuat sekujur tubuh Tari meremang.


" Jangan mulai mas" keluh Tari namun bukannya mendengar Aslan malah membalikan tubuh Tari lalu ******* bibir Tari.


" Ih mas..." kesal Tari mendorong dada Aslan karena kehabisan nafas.


" Gak kenal tempat banget, untung gak ada Orang" Kesalnya mencubit perut Aslan membuat pria itu tertawa lepas.


" Udah sekarang kita masuk, Bunda Tika pasti udah masak yang banyak sama ibu ibu lainnya" ucap Aslan menggandeng tangan Tari masuk kedalam kebetulan Aslan yang mempunyai kunci rumah tidak mau repot untuk lewat gerbang sebelah, hingga ia memilih masuk lewat pintu rumah itu toh ibu ibu memasak di dapur rumah itu.


" Assalamualaikum..." ucap Tari dan Aslan bersamaan memasuki rumah lalu berjalan menuju dapur yang terdengar lumayan bising.


" Assalamualaikum Bunda" ucap Aslan membuat penghuni dapur terkejut.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam,, Masya Allah Nak kapan nyampenya" tanya seorang wanita paruh baya yang Tak lain adalah ibu yang disebutkan Aslan tadi.


" Barusan kok Bunda, dan ini--" ucap Aslan terhenti.


" Nak Sasya, ini kamu sayang ini beneran kamu kan.. Masya Allah dugaan bunda benar kan kamu masih hidup" ucap Bunda Tika langsung memeluk Tari menumpahkan air matanya serta meluapkan kerinduan yang sudah sejak lama ia pendam. Aslan terpaku ketika Bunda Tika menyebut Nama Sasya ketika memanggil Tari, pikirannya langsung teralihkan kepada kematian Sasya lima tahun lalu.


Sedangkan Tari terkejut ketika mendengar Bunda Tika memanggil nya dengan nama Sasya, nama yang pernah dia dengar ketika Aslan sedang tertidur diliriknya Aslan yang terpaku tanpa suara dengan ekspresi yang tiba tiba berubah dingin.


" Bu-bu.. maaf saya bukan Sasya saya Tari" ucap Tari melepas pelukannya perlahan, baru saja berucap Aslan keluar meninggalkan mereka. Tari hendak mengejar tapi tidak bisa ketika melihat Bunda Tika masih sesegukan.


" Apa kamu tidak mau lagi bersama bunda nak, sehingga kamu berpura-pura" tanya nya menunduk.


" Tidak.. tidak buu, bukan begitu saya memang bukan Sasya, saya Tari istri mas Aslan" ucap Tari menghapus air mata Bunda Tika.


" Buu, saya Tari.. bukan Sasya yang ibu maksud, saya pun tidak kenal dengan pemilik nama itu" jelas Tari lembut membuat Bunda Tika menatap Tari lekat lekat.


Mukanya memang agak berbeda tapi jika dilihat jelas muka keduanya mirip.


" Boleh Bunda liat sesuatu" tanya Bunda Tika membuat Tari bingung namun dia tetap menurutnya.


" Terserah Bunda jika itu membuat Bunda yakin" jawab Tari tersenyum membuat Bunda Tika semakin penasaran, bahkan senyum tulus keduanya sangat mirip. Tak ingin penasaran terlalu lama Bunda Tika langsung memegang bagian telinga kanan Tari sedikit memiringkan nya membuat Bunda terkejut, namun tak menampakkan nya.


" Maafkan bunda karena tadi sudah lancang" ucapnya tersenyum dibalas senyuman pula oleh Tari.


" Tidak masalah bunda"


" Kalau boleh tau kamu siapanya Aslan" tanya Bunda Tika.


" Emm, aku istrinya bunda kami menikah belum genap satu bulan" jawabannya membuat Bunda tersenyum.


" Wah kamu sangat cantik, pantas sekali Aslan menyayangi mu" ucap Bunda.


" Kamu bisa nyantai disini boleh juga keliling, bunda mau keatas dulu yaa" pamit Bunda menyusul Aslan, dia tau sekali mood Aslan saat ini.


" Iya bunda" Bunda Tika pun pergi meninggalkan Tari yang tengah menikmati suasana, entah apa yang sedang bunda Pikiran dia hanya akan memastikannya lebih dulu


Bersambung..........


##


Udahan dulu yaa BOM PART nya, selebihnya aku bakal mikir dulu penempatan nya... See you and the next episode,, Bye👋

__ADS_1


__ADS_2