Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
ESP 91(BOM PART)


__ADS_3

Terlihat Aslan masih nyaman memeluk Tari ditambah dengan air matanya yang terus saja mengalir, seakan tak malu lagi menunjukan muka Aslinya yang selama menikah belum pernah ia tunjukan.


" Kita duduk yuk, pegel kaki aku kayak gini terus" ucap Tari membuat Aslan mendongak menatapnya.


" Maaf..." satu kata itu yang dikeluarkan Aslan mampu menyiratkan segalanya. Tari mungkin tau maaf yang dituju Aslan, namun dia pura pura tak mengetahui agar Aslan bisa berkata jujur.


" Maaf yang nama dulu nih" tanya Tari membuat Aslan melepas pelukannya dan menuntun Tari untuk duduk disofa.


" Maaf atas semua perilaku yang dulu sempat aku lakukan" ucap Aslan berlutut dihadapan Tari sambil menggenggam kedua tangannya erat.


" Maaf atas segala kesalahanku, atas penderitaan kamu juga pak Gali alami" sambungnya dengan rasa penyesalan yang amat mendalam.


" Aku memang pernah melakukan hal gila itu hanya untuk kejadian yang tidak aku ketahui, bahkan aku hampir saja meregang nyawa pak Gali, Tari..." Aslan semakin menggenggam tangan Tari bahkan sesekali ia memukuli tangan Tari kewajahnya yang kini sudah berderai air mata, kini wajah galaknya berganti menjadi wajah yang penuh dengan penyesalan.


" Aku brengsek, Aku orang bodoh yang terhasut oleh mereka aku.. ak-" ucapnya terhenti ketika jari telunjuk Tari mendarat di bibirnya.


" Aku memang kecewa dengan apa yang kamu lakukan, tapi aku bersyukur dengan apa yang kamu lakukan untukku.. kamu tidak bodoh, kamu juga bukan orang brengsek yang bertindak tanpa akal, kamu adalah orang terbaik yang aku miliki selama ini.. aku bersyukur kamu mampu mencintaiku sedalam itu" ucap Tari memegangi wajah Aslan dengan kedua tangannya.


" Wajah ini bahkan kau perlihatkan didepanku, itu artinya kau memang mencintaiku sedalam itu" ucap Tari dan langsung memeluk Erat tubuh Aslan, begitupun sebaliknya.


" Terima kasih telah mencintaiku sedalam itu, aku beruntung mendapatkan cinta tulus seperti itu" ucap Tari disela pelukannya.


" Aku yang beruntung, mendapatkan wanita sebaik dan terbaik didunia ini, mencintai kamu adalah hal terindah yang aku miliki" balas Aslan.


Sementara diluar Reno datang dengan tergesa-gesa.


" Joni.. Bunda.." sapa Reno.


" Perkenalkan ini Nyonya Ariana ibu kandung Sasya" ucap Bunda Tika membuat Reno terkejut bukan main.


" Jadi Tante-"

__ADS_1


" Reno Argatama" ucap Nyonya Ariana tersenyum membuat Reno mengerutkan keningnya.


" Bagaimana kabar Tia ibu kamu" tanya Bunda Ariana membuat Reno terkejut.


" Tante tau mama saya" tanya Reno.


" Tentu saja saya kenal, dia adalah sahabat saya" jawab Bunda Ariana.


" Bagaimana mungkin" gumam Reno.


" Sudahlah.. kamu mau mendengarkan penjelasan bukan" kini Bunda Ariana berjalan hendak duduk.


Info: mereka dilantai atas yaa, karna ruang kerja Reno dilantai atas.


Bunda Ariana lalu menceritakan semua kejadian itu, tanpa ada yang dia sembunyikan.. dia tau sedekat apa Aslan dengan Reno bahkan dia percaya pada Reno.


" Ternyata memang mereka. Saya juga sudah menduga ada kaitannya dengan mereka, tapi saya masih mencari bukti yang mereka sembunyikan" ucap Reno.


" Bagaimana dengan pak Gali Tante" tanya Reno.


" Dia juga akan ikut andil dengan ini semua" jawab Bunda Ariana.


" Maafkan kita yang menuduh pak Gali Tante" ucap Reno dan joni bersamaan.


" Kalian bisa mengucapkannya sendiri"


" Ariana..." panggil seseorang yang kini berjalan kearah mereka.


" Dik.." Nyonya Ariana tersenyum lalu memeluk Adiknya itu yang tak lain adalah Pak Gali.


" Ada apa ini" tanya Pak Gali menatap Reno dan Joni tajam.

__ADS_1


" Sudah saatnya Gali, mereka sudah mengetahui semuanya" ucap Bunda Ariana membuat Pak Gali terkejut.


" Lalu.. dimana Aslan" tanya Pak Gali membuat Bunda Ariana dan yang lain terkejut.


" Tunjukan dimana dia" tanya pak Gali sekali lagi.


Membuat yang lain diam, hingga Joni bersuara dan menunjukan ruang kerjanya.


" Disana jendral" ucap Joni membuat Reno dan juga yang lain terkejut.


" Ya aku tau kau adalah jendral aku mengetahui ketika waktu itu kau didatangi oleh salah satu perwira, bahkan aku tau alasan kau mengundurkan diri karena permintaan Bibi untuk menjaga kak Sasya" ucap Joni membuat Gali tersenyum.


" Jabatan Ku itu sudah bukan apa apa lagi" ucapnya tersenyum sambil berjalan menuju ruangan yang ditunjukan oleh Joni.


Langkahnya pasti dengan postur tubuh ideal, tidak ada yang mengira bahwa dia adalah mantan jendral yang menaungi profesi sebagai supir demi keponakannya. Sungguh luar biasa setelah hampir 13 tahun lebih masih ada orang yang memanggilnya dengan sebutan jendral.


" Tari..." suaranya membuat dua orang yang masih berpelukan terpaku, terlebih Aslan yang terkejut.


" Pak Gali" gumamnya.


" Paman.." Tari melepas pelukannya lalu memeluk Pak Gali.


Membuat Aslan terpaku hingga tanpa sadar kini pak Gali sudah berada didepannya.


" Saya..."


Bersambung.........


##


Hayoo apa yang terjadi yaa..

__ADS_1


__ADS_2