Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
BAB2


__ADS_3

Sore hari tiba ketika zoya telah sampai kekediamannya…mengetuk pintu & memberi salam, menoleh & jawab burhan,


"kemari duduk sama ayah" mengajak putrinya untuk duduk


“ada apa yah" bingung


“ayah mau bicara sama kamu, penting! untuk masa depan kamu nak” jalan sambil mengarah kekursi tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama


“hemm.. ada apa emangnya yah” tanyanya sambil tersenyum "tumben ayah mau bicara serius begini aku kan jadi takut, heheh" tertawa mengusir ketegangan


Dan ketika mereka telah duduk ayahnya langsung berkata…


“kamu sudah siap menikah nak” Tanya ayahnya


“hahh.." ekpresi wajah terkejut "ayah tumben nanya begini, emang ada apa yah” tanyanya antusias


Lalu burhan menceritakan kejadian tadi siang mengenai lamaran Tuan Khabir kepadanya…


“apa aku tidak salah mendengar yah, bukankah tuan khabir……" diam tidak melanjutkan kata katanya


“nak, ayah juga tidak menyangka seorang Tuan Khabir datang kemari untuk melamar kamu, ayah juga tidak percaya, tapi ketika ayah bertanya mengapa ia mau menikahi kamu jawabannya membuat ayah berubah, ayah rasa dia tidak seperti yang banyak media beritakan tentangnya…"

__ADS_1


Burhan menjelaskan jawaban tuan khabir kepada putrinya…


“yah… kalo ayah memang nyakin tentang Tuan Khabir... aku bersedia menjadi istrinya" ia menatap wajah ayahnya sambil memegang tangan ayahnya seperti ayahnya mengiginkan putrinya menikahinya


“kamu nyakin nak” Tanya burhan


“kenapa aku tidak nyakin yah, kalo ayah saja nyakin, bukankah selama ini ayah selalu benar memutuskan tentang aku, ayah tidak pernah salah, ayah selalu memberiku kebahagiaan sampai detik ini," memeluk ayahnya


“jadi kamu bersedia nak”


“iya yah, aku bersedia” menunjukan wajah yang bahagia, padahal hatinya saja belum nyakin tentang sosok Tuan Khabir


“baik nak besok ayah akan menelpon tuan khabir, dia pasti sangat senang” memeluk putrinya dengan wajah yang sangat bahagia


---


“hemm.. apakah aku siap menikah” Tanyanya pada diri sendiri "ya tuhan aku bingung kenapa harus Tuan Khabir dan untuk apa dia mau menikah dengan ku, bukanya banyak perempuan yang lebih dari aku, kenapa harus aku, bahkan ayah sangat bahagia, aku ingin menolak tapi melihat seyum ayah yang begitu bahagia aku tidak sanggup mengatakan tidak padanya…" tenggelam dalam pikirannya


“zoya..zoya..zoyaaa.." menepuk pundak anaknya


“heeh..iya yah…"

__ADS_1


“kenapa kamu melamun nak” tanyanya


“gpp yah.., yaudah yah aku berangkat kerja dulunya” mencium tangan ayahnya


sebelum beranjak pergi meninggalkan ayahnya, langkahnya terhenti mendengar ayahnya berbicara...


"nak, kalo kamu memang belum siap menikah dengan Tuan Khabir tidak mengapa, ayah bisa menolak lamarannya, jangan jadi beban untuk kamu"


"aku bingung lihat ayah, mata berbica terima, tapi bibirnya seperti memperjelas aku siap atau tidak" gumamnya dalam hati "Ayah tenang saja aku bersedia kok, apalagi jadi istri orang kaya.. hehe.. canda ya" tertawa kecil "yaudah yah aku berangkat dulunya, takut telat, dah ayah" beranjak kemotornya


“hati-hati nak, jangan telat pulang ya”


“iya yah" berteriak karena ia sudah diatas motor miliknya


---


Hari ini pekerjaannya berjalan seperti biasa.


Hingga sore hari telah tiba ia harus buru-buru pulang karena ayahnya meminta agar tidak terlambat untuk menemui calon suaminya.


Tapi sebelum pulang dia mampir ke supermarket untuk belanja kebutuhan dapur yang sudah menipis, setelah selesai belanja ia langsung bergegas kerumah karena jam sudah menunjuk pukul 17.30 wib.

__ADS_1


---


__ADS_2