
Pagi harinya, Aslan Mengerjapkan matanya secara perlahan, entah kenapa dia merasa seperti ada sebuah kehangatan yang menempel didadanya.
Betapa terkajutnya dia ketika melihat Tari yang kini tertidur pulas didadanya, bahkan lebih lebih lagi ketika dia menyadari mereka tidak memakai sehelai pakaian pun.
" Apa ini.. kenapa ini bisa terjadi" gumamnya kesal berusaha mengingat kejadian tadi malam. Mulai dari dia mabuk berat dan pingsan disamping Queen yang duduk bersama temannya, lalu setelah itu beberapa saat kemudian, dia merasakan di sekujur tubuhnya panas hingga terjadilah kejadian semalam.. Seketika dia menggeram mengingat kejadian itu, hatinya membara ketika Tari juga memanfaatkan keadaan begitu pikirnya.
Namun hatinya kembali tertegun mengingat, katika Tari terus memberontak namun tak ditanggapi olehnya, kini pikirannya kacau tak karuan hingga tanpa sengaja dia memandangi wajah damai Tari yang tertidur lelap sambil bersandar didadanya.
" Apa aku selama ini salah " batinnya menyentuh ribut Tari lalu menyelipkan dibelakang telinganya.
" Ada apa sama gua sih.. arrgghh..." batinnya kesal.
Hingga dia terkejut ketika adanya pergerakan Tari yang tiba tiba, membuatnya harus berusaha berpura pura tidur, dan refleks dia meletakkan tangannya diatas pinggang Tari.
Mata Tari perlahan terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Aslan yang kini sangat dekat dengannya.
__ADS_1
" Maafkan aku jika membuat mu marah mas, mungkin setelah ini kau akan menganggap ku memanfaatkan keadaan tapi aku Terimanya dengan sabar" gumam Tari pelan yang tentu terdengar oleh Aslan.
" Apa aku salah menilainya..." batin Aslan yang masih memejamkan matanya.
" Karna aku akan selalu sabar menghadapimu mas" sambung Tari, lalu menurunkan tengan kekar Aslan kemudian hendak turun dari ranjang.
" Awww...." pekik Tari membuat Aslan membuka matanya namun kembali menutupnya, namun dengan sedikit mengintip apa yang terjadi pada Tari.
" Aww perih banget..." ucap Tari sedikit menunduk dan melihat kebagian pangkal paha nya yang sedikit membengkak. Dengan terpaksa dia berjalan dengan sedikit kesusahan, meski akhirnya dia masuk kedalam Kamar mandi sambil di liliti handuk yang ada di nakas, yang semalam sebenarnya dia persiapkan untuk Aslan.
" Seperih itu kah...bukankah ini bukan yang pertama buatnya" batin Aslan menatap kesegala arah, namun tatapannya terhenti ketika melihat bercak darah di sprei tepat ditempat Tari tidur dari.
" She Is still a Virgin?" gumamnya pelan.
" Apa dugaan ku selama ini salah" tambahannya.
__ADS_1
" Arrgghh..." kesalnya kemudian memilih membaringkan tubuhnya lagi ( Hanya sekedar membaringkan yaa, bukan molor lagi.)
Entah berapa lama Tari dikamar mandi, hingga dia menyudahi acara mandinya itu.. ia sedikit kesal dengan semua tanda merah yang ada di sekujur tubuhnya itu, meski begitu dia tidak bisa marah karna ya memang Aslan melakukannya tidak sadar.
Kemudian dia keluar dengan hanya menggunakan handuk saja, dan hanya bisa menutupi tubuh bagian inti saja. Dia sedikit mengintip keluar sambil melihat situasi, ketika dia rasa aman dia pun keluar sambil memelankan langkahnya menuju lemari mempersiapkan satu handuk di samping nakas, lalu keluar menuju kamarnya setelah memunguti bajunya juga baju Aslan.
" Sialan kok dia bangun sih.." batin Aslan ketika merasakan junior nya bangun.
Melihat Tari sudah keluar dia pun bangun lalu memakai handuk yang sudah disediakan Tari di nakas lalu berjalan kearah Kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi, dia terus memikirkan tingkah Tari, lalu tersenyum.
" Ada ada aja.." ucapnya kembali memikirkan wajah Tari yang terlihat ketakutan saat keluar dari kamar mandi.
Oky Lanjut............
__ADS_1