Dendam & Cinta

Dendam & Cinta
EPS 98(BOM PART)


__ADS_3

Mitha terbangun ketika mendengar suara dering ponsel Reno, dengan perlahan ia meraih ponsel Reno yang ada dinakas, jantungnya berdegup kencang ketika membaca namanya bingung harus mengangkat atau mengabaikannya, hingga suara pintu terbuka membuat terkejut langsung menoleh.


" Mitha lu kok tegang" tanya Joni.


" Jo, bisa bantu gua tolong angkatin nih telfon, gua bingung mau jawab apa" Mitha menyerahkan ponsel Reno membuat Joni mengerutkan keningnya.


Senyumnya terbit ketika melihat nama yang tertera.


" Angkat aja, speaker nanti gua bantu" jawab Joni kembali menyerahkan ponsel.


" Tap-" Mitha hendak menolak namun ia terkejut ketika melihat ponsel yang ternyata sudah tersambung.


" Hallo.. dasar anak nakal, kamu ini dimana mama sudah sampai di apartemen kamu, mama sama papa udah nunggu dari tadi, dimana kamu sekarang dasar anak nakal" umpat mamanya membuat Mitha semakin gugup sedangkan Joni hanya terkekeh menahan tawanya.


" Ha-ha-llo" jawab Mitha gugup membuat Mama Reno semakin terkejut.


" Dasar anak nakal, bisa bisanya sepagi ini sudah bersama wanita, hey anak nakal bangun kau katakan dimana kau sekarang, tingkahmu membuat Mama malu" kesal mamanya sudah berfikiran yang tidak tidak.


" Eh.. Tante ma-maaf.. ini yang gk seperti Tante kira, kita lagi di-" Mitha semakin gugup saja.


" Apa kamu pacarnya Reno, dimana anak sialan itu" tanya Mama Reno meredakan suaranya, berganti dengan suara lembut.


" Anu Tante kita lagi di"


" Sudah jangan takut Tante gk marah sama kamu, tapi dimana kalian" tanyanya lembut, meski hatinya dongkol dengan Reno namun juga senang karena dugaannya selama ini terhadap Reno tidaklah benar, dulu bahkan ia sempat menuduh Reno Belok(wkwkwkwk😂).


" Maaf Tante saya menyela, saya Joni temannya Reno" Joni menyela.


" Loh, kalian" mama Reno mulai bingung, kenapa sepagi ini mereka berkumpul. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tedak enak sama seperti waktu didalam pesawat beberapa waktu lalu.


Joni yang mengerti dengan suasana ini, dengan berat hati Joni menceritakan keadaan Reno saat ini, namun dia tidak menceritakan semuanya takutnya nanti mama Reno menyalahkan Mitha.


Mendengar keadaan Reno, membuat kedua orang tua itu syok lalu dengan cepat bergegas menuju rumah sakit.


...____ ____ ____ ____...


" Yang... boleh gk kamu temenin aku ke perpustakaan, nanti habis itu langsung ke rumah sakit " Tari berdiri menghadap Aslan sambil memakaikan dasinya.


" Emm.. kapan" tanya Aslan menatap Tari yang hampir selesai memakaikan dasi.

__ADS_1


" Emm siang sih mas, tapi kalau gk bisa gk papa kok.. aku tau kamu kan ada meeting" jawab Tari membuat Aslan tersenyum.


" Aku usahain yaa, nanti juga bakal aku suruh Virli buat kesana kebetulan dia lagi pengen banget ketemu kamu" ucap Aslan membuat Tari berbinar.


" Seriusan bumil mau Dateng, ih udah gk sabar banget pingin ketemu bumil" Tari sangat antusias mendengar jika Virli ingin menemuinya, apalagi bisa memegang perut Virli yang mulai membuncit.


" Udah ayo sekarang kita keluar, biar sarapan dibawah aja" ucap Aslan diangguki Tari, kemudian mereka bergegas keluar apartemen. Sampai dilantai bawah mereka tidak menyadari jika satu orang membuntuti mereka sambil terus merekam kemesraan Tari yang terlihat bergelayut manja dilengan kekar Aslan.


" Beres boss" gumamnya tersenyum lalu kembali mengunggah video tadi di laman resmi kampus.


" Mau makan apa" tanya Aslan yang baru duduk dihadapan Tari.


" Emm.. apa aja deh" jawab Tari membuat Aslan langsung memesan makanan kesukaan keduanya.


Lama keduanya menunggu hingga akhirnya pesanan datang, membuat wajah Tari yang tadinya ceria berubah menjadi pucat.


" Sayang.. kamu kenapa" tanya Aslan panik.


" Gk tau pusing aja gitu, aku gk mau ini sup aja deh" tolak Tari sembari memegangi kepalanya.


" Kayaknya kamu masuk angin deh, kita kedokter aja yaa" Aslan membantu memijat pelipis Tari dengan lembut bahkan pak Cakra yang barusan memasuki resto itu terkejut, baru kali ini dilihatnya sang big boss selembut itu.


" Yaudah.. makan dulu baru kita ke kampus kamu" Aslan mengalah saja, biasanya dia akan marah jika ada orang yang membantah perintahnya namun ini berbeda, jika sesuatu yang sudah diputuskan Tari dia bisa apa.


Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan menuju kampus, ditengah perjalanan Kevin menelfon Aslan membuat Ia melajukan kecepatan karena terburu buru.


Sampailah mereka diarea parkiran kampus, di temani tatapan kagum para siswa siswi melihat mobil mewah Aslan.


" Sayang.. aku gk bisa nemenin kamu kekelas yaa, tadi Kevin nelfon katanya meeting nya dipercepat" ucap Aslan membuat Tari tersenyum.


" Gk papa kok sayang.." jawab Tari.


" Yaudah aku pamit yaa" Tari menjulurkan tangannya mencium tangan Aslan dibalas pula oleh kecupan manis di keningnya.


" Assalamualaikum" Tari berucap salam lalu keluar, membuat para siswa siswi langsung menatapnya sinis. Apa lagi melihat sebuah tanda merah dileher Tari membuat mereka semakin geram.


" Eh dasar lon*e, masih berani aja lu datang kesini gk tau malu banget" teriak salah seorang siswi dari atas tangga, membuat Tari terkejut atas teriakan mereka beruntung Aslan telah melesat pergi kalau tidak akan lain ceritanya.


Tari terus berjalan mengabaikan mereka, yang terus mencemoohnya bingung kenapa hari ini berbeda, bahkan tatapan yang biasa ia dapat tidak ada lagi.

__ADS_1


Byurrrr......


Tiba-tiba saja seseorang menghalangi jalan Tari dan mengguyur Sebotol air tepat diwajahnya.


" Idih masih berani lu datang di kampus, masih punya muka aja lu dasar murahan.. kasian banget sih, segitu gk ada duitnya yaa lu sampe jual diri lu kayak gitu" pekik seseorang yang ada dihadapan Tari.


" Eh lu kalo ngomong dijaga yaa, lu gk tau apa apa sial gua, lu gk ada kegiatan lain apa selain gangguin gua, Maria Maria.. " ya yang telah menyirami Tari dengan Air adalah Maria ditemani Clarissa.


" Eh malu dong, lu udah permaluin nama kampus jadi simpenan orang, se gk berguna itu yaa bokap lu sampai sampai lu menjajakan tubuh lu tiap malem" tampah Clarissa membuat amarah Tari naik.


" Jaga yaa mulut lu, lu kira gua cewe apaan haa jangan asal nuduh" teriak Tari geram hendak menampar Clarissa namun sebuah tangan kekar menahan tangan Tari.


" Sekali lu gampar Kaka gua, gua gk akan segan-segan gampar lu balik" suara seseorang dari belakang membuat Tari terkejut pasalnya suara itu yang biasanya membela dia, lebih terkejut lagi ketika orang itu menghempaskan tangannya dengan kasar hingga tubuhnya terjatuh.


" Tari.. lu gk papa kan" pekik Ayya berlari menghampiri Tari yang terjatuh.


" Gilla kali lu Tta, tega lu sama Tari" sambung Ayya menatap Attar dengan marah.


" Attar..." gumamnya terkejut.


" Lu kenapa sih Tta, gua salah apa sama lu" pekik Tari menatap Attar yang juga menatapnya dengan dingin.


" Bacot lu, gua kira lu cewe baik baik ternyata lu sama aja kayak cewe diluar sana" ucap Attar menatap nya dengan tatapan kebencian.


" Lu juga Ay.. gk perlu ngebela dia, dia gk pantes lu bela"


" Maksud lu apa, lu udah kemakan omongan mereka gk nyangka gua" Tari tak habis pikir dengan perubahan Attar.


" Omongan mereka emang selama ini bener, gua aja yang buta karena perasaan gua sendiri"


" Cewe kayak lu tuh gk pantes ngehina Kaka gua, dasar cewe murahan" ucap Attar menatap bengis Tari.


PLAK....


PLAK....


Dua tamparan keras mendarat di pipi mulus Attar.


" Lu yang gk pantas ngucapin itu ke Tari"

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2