
Aslan berjalan ke kamarnya dengan penuh kekesalan, entah kenapa hatinya juga sakit mendengar penghinaan gunawan terhadap Tari.
" Mas.. aku minta maaf, udah buat ribut dibawah seharusnya aku tadi gk usah disitu" ucap Tari ketika Aslan mendaratkan tubuh mereka berdua diatas kasur.
" Hey.. seharusnya saya yang minta maaf, sudah buat kamu direndahkan seperti itu, saya juga gk habis fikir sama om gunawan sikapnya sekarang berubah" ucap Aslan yang kini berbalik minta maaf.
" Wajarlah dia marah mas, dia kan calon mertua kamu kan.. papanya tunangan kamu dulu, seharusnya aku bisa jaga sikap didepan ayah dari orang yang kamu cinta mas, maaf seharusnya aku tadi gk ikut kamu kebawah supaya kamu gk lakukan sandiwara kayak tadi yang harus bilang kalau kamu sangat mencintai aku" lirih Tari menunduk sambil berusaha keras menahan Air mata nya agar tak jatuh.
Seketika jantung Aslan berpacu dengan cepat, tak tau harus berbuat apa.. pikiran nya sibuk berperang dengan hatinya, antara memikirkan tujuan awalnya dan juga perasaan yang sekarang muncul di hatinya.
Sementara Tari, yang tak mendapat respon apa apa hanya bisa tersenyum kecut, ketika melihat Aslan berjalan menuju meja lalu mengambil map merah didalam tasnya kemudian kembali berjalan kearah Tari dan duduk di posisi semula.
...____ ____ ____ ____ ____...
" Selesai kan pak gunawan,, saya rasa cukup pertemuan kali ini.. sudah cukup malam anda bisa pulang" ucap Hendra tegas.
" Hey kamu mengusir saya, hanya karna wanita kampungan itu kamu yang benar saja Hendra" kesal Gunawan.
" Maaf tuan gunawan tapi yang anda katakan kampungan itu menantu saya, bahkan dia jauh lebih baik dari Sasya" kesal Widya yang sudah muak dengan omongan gunawan.
__ADS_1
" Tante,, masa tante gk liat sih yang cocok jadi istri kak Aslan itu aku tante,, bukan ja*ang kayak dia" kesal Queen yang berniat menghasut Widya, yang justru mendapat tamparan keras dari seseorang yang kini berdiri dihadapan Queen.
" Heh lu sebaiknya jaga mulut yaa, ja*ang kok teriak ****** gk salah lu" ejek wanita yang berada dihadapan Queen.
" Heh lu bilang gua apa.. berani lu sama gua" kesal Queen menampar pipi Wanita itu.
" Wah.. wah.. berani lu yaa" seakan habis kesabaran wanita tadi pun menampar balik pipi Queen.
" Cewe kayak gini mau jadi istri kak Aslan dasar yaa" kesal wanita itu.
" Heh kamu berani nampar anak saya sini kamu, siapa sih kamu haa berani beraninya menampar anak saya" Bentak indri menatap wanita itu, dan dibalas pula oleh pelototan tajam dari wanita itu.
" Sial, ternyata dia adik kesayangan kak Aslan.. mati gua mana gua tampar lagi tadi" batin Queen menyesali perbuatannya yang menampar Virli.
" Ah.. Virli aduh maaf yaa aku gk tau kamu itu adiknya kak Aslan.. maaf yaa" ucap Queen jelas pura pura baik.
" Ih jijik batt gua, dasar munafik" kesal Virli berjalan meninggalkan mereka.
" Saya rasa sudah cukup kalian membuat hari kekacauan disini, dengan segala rasa hormat maaf tuan gunawan silahkan anda keluar dari rumah saya" tegas Hendra.
__ADS_1
" Cih.. saya juga akan keluar dari sini, ayo maa Queen.." dengan perasaan malu dia pun keluar sambil menyeret Queen dan juga Indri.
...____ ____ ____ ____ ____...
" Sekarang liat saya..." ucap Aslan yang kini duduk berhadapan dengan Tari sambil memegang sebuah surat, namun Tari yang ketakutan enggan untuk mendongakkan wajahnya.
" Tari saya bilang liat saya" ucap Aslan lagi, namun tak direspon Tari justru pandangan Tari pun semakin menunduk.
" Saya bilang liat saya, liat saya" bentak Aslan membuat Tari terkejut dan spontan menatap Aslan.
" Kamu liat Ini..."
Bersambung.......
##
Hayoo.. nungguin yaa....
Harap sabar nunggu besok, wkwkwk...
__ADS_1