
Livia baru saja ke luar dari kamar mandi ketika tiba-tiba dia mendapati Daniel yang sedang duduk di sofa kamar mereka. Jujur saja, Livia sebenarnya terkejut dengan keberadaan Daniel, apa lagi saat ini dia hanya memakai jubah mandi saja. Namun, Livia cukup pintar mengendalikan raut wajahnya, hingga yang terlihat hanya wajah datarnya saja.
"Cepat ganti bajumu!" ujar Daniel tiba-tiba, sambil membuang muka, menghindari tatapan mata Livia. Ada rasa yang terasa berbeda ketika dia melihat wanita itu hanya memakai jubah mandi saja.
"Ganti baju?" tanya Livia sambil mengernyit bingung.
"Iya. Cepat ganti bajumu!" ujar Daniel lagi dengan suara yang lebih menekan. Laki-laki itu mengepalkan tangannya ketika harus menatap Livia dengan mata tajamnya.
"Oh, oke," jawab Livia lagi sambil kembali ke ruang walk in closet.
Beberapa saat kemudian Livia kembali dengan baju yang sudah disiapkan oleh Mami luci satu minggu yang lalu, dia memilih sebuah gaun selutut berwarna biru laut.
"Ayo," ujar Daniel sambil beranjak dari duduknya.
"Ke mana?" tanya Livia masih berdiri di tempat.
"Bersiap untuk acara nanti malam, apa lagi!" jawab Daniel dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Ouh ...." Livia mengangguk-anggukkan kepalanya samar sambil mulai berjalan mengikuti suaminya. Diam-diam dia mengulum senyum karena sudah berhasil membuat suaminya itu kesal.
Keduanya pun pergi dari rumah, kali ini Daniel sendiri yang menyetir karena Danis sedang ada urusan lain. Untung saja, beberapa saat yang lalu, Mami Luci berhasil menghubungi salah satu kenalannya yang memiliki salon sekaligus butik, hingga dia bersedia untuk membantu Livia mempersiapkan diri demi pergi menemani Daniel ke acara malam nanti.
Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka yang memakan waktu sekitar dua puluh menit. Livia asik melihat ke luar dari jendea mobil, sementara Daniel fokus menyetir tanpa perduli pada wanita di sampingnya.
Dua puluh menit kemudian, Daniel pun berhasil menghentikan mobilnya di area parkir sebuah butik dan salon di sebuah bangunan tiga lantai.
"Berjalan di sampingku!" ujar Daniel sebelum ke luar dari mobil.
Livia mengangguk sambil mengimbangi langkah lebar Daniel. Dia sama sekali tidak kesulitan untuk mengimbangi langkah Daniel, karena memang sudah terbiasa ketika harus mendampingi ayah atau kakak angkatnya.
__ADS_1
"Halo, Daniel, apa kabar? Lama banget kayaknya kita gak jumpa, ya?!" seru seorang wanita seumuran Mami Luci yang menyambut kedatangan mereka.
"Hai, Tante. Kabar saya baik. Gimana kabar tante?" jawab Daniel basa basi, sambil bersalaman dengan wanita itu.
"Tante baik." Wanita itu tersenyum sambil melihat ke arah Livia yang berada di samping Daniel. "Ini istrimu? Wah, pantas saja kamu suka, dia cantik alami. Kalau seperti ini, tante tidak perlu waktu banyak untuk membuatnya lebih cantik lagi," sambungnya lagi sambil beralih ke samping Livia.
Apanya yang cantik? Wanita kampungan seperti ini, gerutu Danie dalam hati.
Daniel tersenyum hambar, dia mengangguk walau terlihat sangat terpaksa. Sementara itu Livia tersenyum lebar, menyambut ucapan wanita paruh baya itu.
"Makasih, Tante. Sebenarnya aku gak bisa berdandan, makanya Mas Daniel dan mama Luci meminta aku ke sini," ujar Livia dengan suara yang dibuat sangat lembut dan pipi merona.
"Tidak berdandan saja, kamu sudah cantik, sayang, buktinya Daniel sampai jatuh cinta sama kamu. Iya 'kan, Daniel?" puji wanita paruh baya itu sambil meminta dukungan Daniel.
Daniel tersenyum sambil mengangguk samar. Sungguh, hatinya sangat kesal sekarang, karena sejak tadi wanita paruh baya itu hanya terus memuji penampilan Livia, yang memang sudah barubah sejak Mami Luci mendandaninya seminggu lalu.
Namun Daniel yang gengsi mengakui perubahan istrinya itu, terus menyangkal apa yang hatinya pun akui. Hingga kini dia merasa kesal karena ada lagi orang lain yang memuji kacantikan Livia selain Mami Luci.
Jam setengah tujuh malam Daniel datang ke butik bersama dengan Danis yang mengendarai mobil mereka, keduanya masih di dalam mobil untuk membicarakan persiapan dan pengamanan acara yang akan dihadiri oleh mereka.
Sementara dari lantai dua, wanita paruh baya itu menerima informasi jika Daniel sudah ada di bawah, dia pun melihat kembali hasil riasannya yang sangat indah.
"Suamimu sudah datang, ayo kita turun," ajak wanita paruh baya itu.
Livia tersenyum kemudian beranjak dan berjalan turun dengan tampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Livia ke luar dari butik bersamaan dengan Daniel yang turun dari mobil, hingga tanpa sengaja keduanya muncul bersamaan.
Livia memakai gaun panjang yang memiliki warna senada dengan Daniel, keduanya sempat terdiam dengan mata saling bertaut ketika sadar akan kehadiran satu sama lain.
"Ekhem!" Danis yang ikut turun dari mobil berdeham cukup keras untuk menyadarkan kakaknya yang tampak terpesona oleh kecantikan Livia malam ini.
__ADS_1
"Ehem!" Daniel berdehem pelan sambil mengalihkan pandangannya dari Livia. Entah mengapa jantungnya berdegup sangat kencang saat ini, hingga wajahnya terasa panas ketika melihat Livia yang sangat berbeda.
"Ayo kita berangkat sekarang," ujarnya kemudian saat sudah berhasil menetralkan degub jantungnya. Livia mengangguk sambil kembali menatap wanita paruh baya di sampingnya.
"Makasih ya, Tante, udah bantuin aku berdandan hari ini. Aku suka dengan penampila ini," ujar Livia sambil tersenyum tulus.
"Ah, tidak usah merendah, tante hanya mengikuti apa yang kamu sarankan saja," jawab wanita paruh baya itu sambil mengelus pelan pundak Livia.
Ya, Dari awal, Livia memang sudah mengatakan apa yang dia inginkan, mulai dari riasan hingga model gaun yang akan dia kenakan. Sebagai pemilik tubuh, tentu saja Livia lebih tau apa yang cocok untuk dia pakai dibandingkan dengan orang lain.
Walau sebenarnya dia tidak suka mengunakan gaun seperti itu, tetapi Livia juga tidak terlalu buta dengan pakaian wanita. Mendampingi kakak ipar yang sangat feminim, tentu saja membuatnya tahu lebih banyak tentang wanita, apa lagi dia juga pernah menjadi asisten pribadi wanita itu.
Setela berbasa-basi sebentar, Livia dan Daniel akhirnya berangkat menuju ke tempat acara, mereka tampak kaku walau keduanya duduk berdampingan, bahkan terlihat sekali ada jarak di antara Daniel dan Livia.
Danis mendesah melihat wajah kaku dan datar dari kedua orang itu, entah mengapa dia melihat jika sebenarnya Daniel dan Livia itu serasi, mereka sama-sama dingin dan sedikit kejam.
"Apa begini caramu untuk membuat aku kesal dan kerepotan?" tanya Daniel tiba-tiba. Dirinya sangat kesal karena Livia yang tidak bisa bersiap sendiri dan membuat dia harus memiliki waktu ekstra untuk mengantar juga menjemput Livia ke salon. Laki-laki itu menatap Livia dengan tatapan tajamnya.
"Bukannya tadi pagi aku sudah minta modal? Memang pergi ke salon dan membeli gaun tidak pakai uang?" balas Livia ikut merasa kesal, dia bahkan berbicara tanpa melihat wajah Daniel.
"Memang kamu tidak bisa berdandan sendiri, heh? Sebagai istriku, setidaknya kamu bisa berdandan, jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang lebih hanya untuk masalah seperti ini lagi!" geram Daniel. Dia tidak suka perkataannya dijawab, apa lagi itu oleh Livia.
"Jangan hanya menjadi benalu di dalam keluargaku!" sambung Daniel, menghardik Livia.
Livia menyeringai tipis sambil mengepalkan tangannya yang ada di pangkuan, menahan amarah dan rasa terhina akibat dari perkataan Daniel padanya.
Benalu katanya? Kita lihat saja nanti, siapa yang akan jadi benalu sesungguhnya! batin Livia.
"Untuk apa aku bisa semua itu jika aku memiliki suami sepertimu," balas Livia sambil menyandarkan tubuhnya dan bersidekap dada. Wanita itu bahkan menutup matanya, seolah memberi tanda jika dirinya tidak ingin diganggu.
__ADS_1
Daniel mendengus kesal melihat tingkah Livia yang semakin seenaknya, padahal ini baru seminggu mereka menikah. Namun, anehnya dia juga tidak bisa mengalahkan perkataan wanita itu ketika sedang berdebat, hingga membuat laki-laki itu tanpa sadar selalu uring-uringan dan memikirkan Livia. Entah itu karena tingkahnya yag menyebalkan seperti sekarang ini, atau bahkan hal kecil yang lainnya yang membuat Daniel selalu kesal bukan main.