Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.62 Tingkah konyol Daniel


__ADS_3

Livia mengerjapkan mata perlahan, mencoba memperjelas matanya yang masih terasa kabur. Wanita itu tampak terdiam dengan wajah yang datar, ketika mendapati Daniel tampak tertidur di sebelahnya dengan menggenggam tangannya. Ada rasa asing yang tiba-tiba hinggap di dalam hatinya, tetapi Livia mencoba terus mengacuhkannya.


Livia juga melihat jarum infus yang menusuk punggung tangannya. Dia yakin, jika tadi pasti ada seorang dokter atau perawat yang datang untuk memeriksanya. Livia menghembuskan napasanya pelan, sambil mengedarkan pandangannya. Namun, kini matanya berhenti ketika melihat jam yang tergantung di dinding.


"Jam lima?" gumam Livia dengan wajah bingung.


Jelas sekali dia mengingat jika tadi pagi dirinya datang ke kamar ketika waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi sekarang dia malah melihat waktu baru jam lima.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama aku? Apa semua itu hanya mimpi?" gumam Livia sambil terus mengingat apa yang terjadi padanya sebelum berakhir dengan hilang kesadaran.


"Kamu pinsan tadi pagi dan tertidur sampai sore, Livia," gumam Daniel tanpa mengubah posisinya yang masih tidur berbaing miring menghadap pada Livia.


Livia langsung menoleh pada Daniel, ketika telinganya jelas mendengar suara parau laki-laki itu. Keningnya tampak berkerut dalam, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Daniel. Namun, dia buru-buru membuang pandangannya ketika melihat laki-laki itu tampak menatapnya sambil tersenyum begitu lembut.


"Jadi, aku tidak sadarkan diri sampai selama ini?" gumam Livia sambil menundukkan pandangannya. Dia terkejut karena selama ini dirinya tidak pernah pingsan dengan jangka waktu yang lama seperti ini.


"Enggak kok. Kata dokter tadi kamu kecapean, jadi dia sengaja memberikan kamu obat tidur agar kamu bisa beristirahat dengan baik," jawab Daniel walau Livia tidak bertanya padanya.


Livia terdiam kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Ternyata dia bukan pingsan tetapi tertidur, dan itu juga karena obat tidur.


"Karena kamu sudah bangun, aku bawain makan dulu, ya. Sebentar," ujar Daniel sambil mulai beranjak duduk dan bersiap untuk berdiri.

__ADS_1


"Gak usah, aku belum lapar," cegah Livia sambil meraih air minum dari atas nakas kemudian mulai meminumnya.


Livia mengernyitkan keningnya ketika merasakan pening ketika dia bergerak, ditambah dengan pahit di lidah ketika dia meneguk air minumnya.


"Walaupun kamu belum lapar, tapi kamu harus tetap makan, seharian ini kamu belum makan apa pun." Daniel tak mendengarkan Livia, dia tetap berdiri dan bersiap untuk melangkah. Namun, sebelum itu dia terlebih dulu mengusap pelan puncak kepala Livia sambil tersenyum, lalu berucap pelan. "Tunggu di sini, ya. Aku hanya sebentar."


Livia mengerjapkan matanya beberapa kali, saat mendapati sikap lembut dari Daniel. Dia menatap punggung lebar suaminya yang kini menjauh dari pandangan hingga akhirnya hilang di saat laki-laki itu menutup pintu kamar dari luar.


"Ekhm!" Livia berdehem beberapa kali saat sadar jika jantungnya kini berdebar begitu cepat, dengan hawa panas di wajahnya. Wanita itu, langsung mengalihkan pandangannya sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan.


"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku gak boleh begini," gumam Livia sambil mencoba menormalkan debar jantungnya.


Beberapa saat kemudian, Daniel kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan air di tangannya. Dia tampak tersenyum lembut pada Livia sambil terus berjalan menghampiri. Daniel, kemudian menaruh napan di atas meja dan mengambil mangkuk bubur milik Livia.


Namun, Livia menghindar. Wanita itu tampak memundurkan tubuhnya sambil mengernyit.


"Aku masih bisa makan sendiri," gumam Livia sambil mau mengambil sendok di tangan Daniel. Namun, Daniel dengan sigap langsung menjauhkan sendok itu dari jangkauan Livia.


"Biar aku saja. Ayo buka mulutnya," ujar Daniel masih dengan nada lembut dan kesabaran maksimal.


"Tanganku masih bisa digerakan, Daniel," kesal Livia dengan kerutan kening yang terlihat cukup dalam.

__ADS_1


Daniel terdiam sambil menurunkan sendok di tangannya, dia menatap Livia beberapa saat, kemudian memakan bubur di tangannya tanpa mengalihkan pandangan dari wanita itu. Setelahnya, Daniel menaruh kembali sendok di atas bubur tanpa mengunyah makanan yang ada di mulutnya dan dengan gerakan cepat dia mendekat ke arah Livia sambil mengambil tengkuk wanita itu hingga bibir keduanya menyatu. Daniel menahan tubuh Livia yang berusaha melepaskan diri sambil menggigit bibir Livia agar terbuka dan memasukkan bubur itu lewat mulutnya.


"Daniel!" Livia berteriak sambil mendorong Daniel dengan tenaga yang masih belum maksimal. Napasnya memburu dengan jantung yang bedebar tak menentu. Matanya menatap tajam Daniel yang terlihat hanya tersenyum penuh maksud.


"Kenapa? Kamu bilang gak mau makan dari sendok, kan? Jadi aku memilih jalan lainnya untuk menyuapi kamu," ujar Daniel santai.


"Sial!" umpat Livia sambil mengusap bibirnya yang terasa lembab, dia benar-benar tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Perut Livia tiba-tiba terasa bergejolak dan itu tidak tertahankan. Dalam sekejap mata, Livia melepas paksa jarum infus yang masih berada di punggung tangannya kemudian berlari cepat menuju ke kamar mandi.


Livia berlutut di depan kloset dan langsung mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya. Sungguh, membayangkan dia makan dari mulut Daniel membuat Livia merasa mual yang begitu hebat. Wanita yang jarang berhubungan intim dengan laki-laki itu tidak pernah membayangkan jika dia akan bertukar saliva dengan musuhnya sendiri.


"Livia, kamu tidak apa-apa? Livia?" Daniel yang mendengar suara Livia sedang muntah menjadi panik, apa lagi dia juga melihat darah yang menetes dari tangan Livia di atas lantai.


"Ish, harusnya aku tidak menggunakan cara yang diberitahukan oleh Danis. Dasar anak itu, awas saja nanti!" gumam Daniel yang kini merasa sangat bersalah pada Livia.


Livia tak mengguburis teriakan Daniel, dia duduk di atas kloset sambil menenangkan diri, matanya melirik pada arah pintu di mana masih terdengar suara Daniel memanggil namanya.


"Menjijikan!" tekan Livia. Wanita itu bukan hanya merasa kesal dengan tindakan Daniel, tetapi dia juga kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melawan. Ternyata tubuhnya sangat lemas hingga tenaganya berkurang banyak sampai dia tidak bisa menahan perbuatan Daniel padanya.


Setelah merasa lebih tenang dan tenaganya terkumpul, Livia beranjak berdiri dan terdiam di depan washtafel. Dia berulang kali membasuh muka dan berkumur untuk menghilangkan rasa asing yang masih saja tertinggal di mulutnya.


Pergerakan Livia terhenti ketika tiba-tiba dia sadar akan sesuatu, perlahan tangannya menyentuh bibirnya yang terasa sedikit tebal karena bekas gigitan Daniel.

__ADS_1


"Ciumanku? Dia mencuri ciuman dariku?" gumam Livia dengan mata melebar dan wajah putus asa.


Bagaimana mungkin, Daniel bisa melakukan itu padanya? Mengambil ciuman di saat dirinya sedang sakit? Livia menggeleng cepat, ada rasa panas di dalam dada ketika dia mengingat itu. Namun, ada gelanyar aneh juga yang menyertainya. Entah perasaan asing apa yang kini tengah dia rasakan? Livia sendiri tak mengerti dengan dirinya sendiri.


__ADS_2