Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.9 Pakai Dasi


__ADS_3

Livia sedang menunggu Daniel untuk pergi ke bawah bersama-sama ketika laki-laki itu tiba-tiba datang dengan membawa dasi di tangannya.


"Tolong pakaikan ini," ujar Daniel dengan wajah yang terlihat sangat tegang.


"Hah?" Livia masih belum mengerti dengan maksud Daniel, hingga dia hanya menatap laki-laki itu dengan kening mengkerut dalam.


"Pakein dasi! Malah bengong," kesal Daniel sambil menyodorkan dasi yang sudah dia pilih dari walk in closet.


"Eum." Liora mengangguk sambil mengerjap pelan, dia kemudian melangkah mendekat pada Daniel yang telah menunggunya sejak tadi.


Sebenarnya Daniel merasa berat dan enggan untuk meminta tolong pada Livia, tetapi sepertinya Mami Luci memang sengaja tidak menyiapkan dasi untuknya yang sudah disampulkan.


Ya, Daniel memang termasuk orang yang sulit untuk melakukan hal yang berhubungan dengan tali dan simpul. Jangankan dasi, mengikat tali sepatu saja dia masih sering keliru, hingga membuatnya kesulitan.


Perlahan Liora mengambil dasi di tangan Daniel kemudian memasangkannya di leher suaminya. Untuk pertama kalinya dia melakukan itu, membuat jantung Livia terasa sedikit berdebar. Namun, Livia berusaha mengendalikan dirinya dengan sebaik mungkin, hingga rasa gugupnya pun tidak disadari oleh Daniel.


Sementara itu, Daniel yang baru kali ini melihat Livia dari jarak yang sangat dekat pun tampak tidak bisa mengalihkan matanya dari pemandangan di depannya. Apa lagi pagi ini Livia baru saja selesai mandi, hingga wajahnya yang masih terlihat segar walaupun tanpa riasan, membuat Daniel cukup terkejut.


Jantung laki-laki itu pun terasa berdebar lebih kencang dari biasanya, walau Daniel juga berusaha untuk bertahan dengan wajahnya yang tampak datar. Namun, nyatanya, dia tidak bisa menyangkal apa yang tiba-tiba dia rasakan di dalam dada.


"Sudah," ujar Livia sambil mundur beberapa langkah ke belakang.


"EKhm!" Daniel berdehem pelan sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke depan meja rias milik Livia, dia kemudian melihat hasil mengikat dasi Livia di lehernya.


"Hem, lumayan," ujar Daniel sambil mematut dirinya di depan cermin. Setelah merasa tampilannya sudah sempurna, Daniel pun mengambil tas kantor yang udah dia siapkan di ranjang dan menerimanya pada Livia.


"Bawa ini," ujar Daniel lagi sambil menyodorkan tas kerjanya pada Livia.


Wanita itu mengambilnya tanpa banyak protes kemudian mengikuti langkah Daniel ke luar dari kamar. Namun, di belakang Daniel, dia merotasikan bola matanya, menatap jengah laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.


Dasar sombong! Arogan! Tidak tau terima kasih! Memang dia pikir aku ini pelayannya apa? Enak saja dia menyuruhku seperti ini, batin Liora menatap tajam Daniel yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Nanti malam kamu ikut aku untuk menghadiri acara penghargaan," ujar Daniel di sela langkah mereka manuruni tangga.


"Heuh? Aku? Ikut?" tanya Livia, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Daniel.


Daniel menghentikan langkahnya perlahan kemudian menatap Livia yang berjarak hanya satu anak tangga darinya. "Iya, lalu siapa lagi?" geram Daniel kesal.


"Persiapkan dirimu sebaik mungkin, awas saja kalau kamu bikin malu," sambung Daniel lagi sambil menatap tajam LIora.


"Tapi, kenapa aku harus ikut?" tanya Liora masih mencoba mencari informasi tujuan Daniel membawanya ke acara besar seperti itu.


"Gak usah banyak tanya, kamu turuti saja perkataanku," jawab Daniel masih dengan alis bertaut.


"Kalau begitu modalnya mana?" Livia menengadahkan tangannya di depan Daniel.


Daniel menatap tangan LIvia bingung. "Apa?" tanyanya sambil menatap Livia sinis.


"Cantik itu butuh modal, Tuan," ujar Livia santai.


"Oh, jadi sekarang kamu sudah merasa pantas meminta uang dariku? Kamu pikir karena bisa tidur di kamarku, aku sudah mengakuimu sebagai istriku, heh?! Jangan harap!" tajam Daniel dengan tatapan hina pada wanita yang kini berdiri di depannya itu.


Daniel mendengus kesal, dia kemudian berjalan cepat menuju ke ruang makan. Dengan hati yang terasa panas karena merasa Livia sudah mulai lancang.


Dasar wanita mata duitan, baru juga seminggu menikah, dia sudah mulai bernai meminta uang padaku! Heh, jangan harap! batin Daniel mengumpat kesal. Kini, sangkaannya pada Livia sebagai wanita yang mau menikahinya karena harta pun semakin kuat.


Sementara itu, Livia menyeringai tipis, melihat punggungg tegap Daniel yang semakin menjauh darinya.


Enak sekali dia, menyuruh aku mempersiapkan diri untuk menghadiri acara sebesar itu tanpa memberiku uang sepeser pun. Dia kira, cantik gak butuh modal! batin Livia sambil kemudian melanjutkan langkahnya menyusul Daniel.


.


Siang harinya, setelah mengantarkan mertuanya untuk istirahat, Livia menghabiskan waktunya di dalam kamar. Dia mencari informasi tentang acara penghargaan yang dia hadiri nanti malam.

__ADS_1


"Ternyata dia juga akan menerima penghargaan sebagai pengusaha muda sukses tahun ini? Hemm, menarik," gumam Livia dengan mata terus melihat pada layar laptop di depannya.


"Pasti Agra juga diundang di acara itu. Apa dia akna datang bersama Alisya?" gumam Livia. Rindu juga dia pada kaka iparrnya yang sebenarnya berumur lebih muda darinya itu.


.


Tak terasa sore pun datang, tidak seperti sebelumnya, saat ini Daniel pulang lebih awal, demi melihat persiapan yang dibuat oleh istrinya itu. Sungguh, bahkan seama di kantor dia tidak bisa fokus untuk bekerja, karena khawatir Livia akan berbuat sesuatu yang konyol di hari pentingnya.


"Jangan bilang, Kakak sudah mulai jatuh cinta sama Livia?" tanya Danis sambil membagi fokus untuk emngendarai mobiil.


"Jangan sembarangan bicara kamu, Danis! Mana mungkin aku akna jatuh cinta pada wnaita kampungan seperti dia!" geram Daniel tidak terima.


"Mungkin saja, bagaimana pun kalian kan tidur satu kamar setiap malam," ujar santai Danis sambil tersenyum miring pada sang kakak.


"Aku hanya memastikan kalau dia bersiap untuk acara nanti malam. Aku takut dia malah mempermakllmmìòlukan aku di sana nanti!" jelas Daniel sambil emantap jengah Danies.


"Oh, oke-oke, aku percaya," angguk Danis sambil terkekeh pelan.


Sampai di rumah Daniel langsung mencari keberadaan Livia, hingga akhirnya dia menemukan istrinya itu sedang menyiram tanaman bersama dengan Mami Luci.


"Kamu belum bersiap-siap?" tanya Daniel ketika melihat Livia masih tampak memakai pakaian biasa dan lusuh seperti biasanya.


"Memang kalian mau ke mana? Kamu gak bilang kalau mau pergi sama Daniel, Livia," tanya Mami Luci sambil membagikan pandangannya pada anak dan menantunya.


"Maaf, Mami, aku lupa kalau malam ini harus menemani mas Daniel pergi," jawab lembut Livia dengan kepala menunduk dalam, seolah dia sedang merasa sangat bersalah.


Mami Luci tampak menghembuskan napa pelan, kemudian melihat jam di peegelangan tangan Daniel. Saat ini sudah pukul lima sore dan acara akan dimulai pukul tujuh, mereka hanya memiliki waktu kurang dari dua jam untuk mempersiapkan Livia.


"Ini salah Mami juga, hari ini Mami banyak merepotkan Livia, makanya istrimu jadi lupa," ujar Mami Livia ikut menyalahkan dirinya.


"Eum, enggak, Mami. Ini memang kesalahan aku," ujar Livia sambil menatap Mami Luci dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maafin aku, Mas. Aku beneran lupa," sambungnya lagi sambil menatap wajah geram Daniel yang sudah pasti tahu jika Livia tengah bersandiwara di depan ibunya.


"Sudahlah, lebih baik kamu bersiap sekarang!" kesal Daniel dengan suara yang cukup tinggi, hingga Livia terjingkat kaget karenanya.


__ADS_2