Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.66 Taruhan


__ADS_3

Daniel dan Danis langsung menatap Livia yang memakai gaun mini sebatas lutut dengan bagian atas terbuka hingga bahu sampai ke atas dada tampak terekspos dengan mudahnya. Wanita itu juga tampak berbeda dengan menggunakan rambut palsu yang tampak menutupi rambut aslinya yang hanya sebatas bahu, sementara rambut palsu itu terlihat terurai hingga sebatas pinggang.


"Livia? Apa yang kamu lakukan?" Daniel langsung mengambil selimut dari atas ranjang lalu menutupi tubuh Livia dari penglihatan Danis.


"Sssh!" Daniel berdesis ketika tangannya tak sengaja menyentuh kulit mulus milik Livia yang langsung menghantarkan gelanyar yang semakin memancing hasratnya.


Livia tak menolak, karena memang dirinya sendiri sebenarnya sangat tidak nyaman dengan pakaian seperti ini. Namun, semua ini terpaksa di lakukan untuk membuat Julio terjebak oleh rencananya sendiri.


"Kamu boleh keluar, dia biar jadi urusanku," ujar Livia pada Danis.


"Oke," angguk Danis sambil melirik Daniel yang kini terlihat kembali duduk di kursi dengan tubuh menggigil. Dia kemudian ke luar dari kamar hotel yang tidak terlalu besar itu, meninggalkan pasangan suami istri itu berdua di sana.


Sepeninggal Danis, Livia mengeluarkan jarum suntik dari tas kecil yang dia bawa kemudian mulai berjalan menghampiri Daniel.


"Mau apa kamu? I--itu apa?" tanya Daniel sambil bergerak waspada.


"Ini hanya obat penawar," ujar Livia sambil duduk di depan Daniel kemudian mulai mengambil tangan Daniel dan menggulung lengan kemejanya kemudian langsung menusukkan jarum suntik itu di tangan Daniel tanpa ragu.


"Ssshh!" Daniel kembali berdesis ketika kulitnya terus bersentuhan dengan Livia. Sungguh, dirinya setengah mati untuk menahan hasrat demi tidak kembali melukai Livia yang saat ini begitu menggoda di matanya.


"Sudah aku berikan, sekarang apa lagi?" tanya Livia entah pada siapa.


Daniel tampak terdiam dengan wajah bingung, ketika mendengar suara Livia yang berbicara entah pada siapa. Namun, pertanyaannya terjawab ketika Livia menyelipkan rambutnya di belakang telinga, hingga terlihat ada earphone di sana.


Livia terdiam sebentar seperti sedang mendengarkan, dia kemudian mengangguk pelan sambil berkata. "Oke, makasih untuk malam ini."


"A--apa katanya?" ujar Daniel sambil terus menghindarkan matanya dari Livia. Sungguh, melihat Livia saja sudah membuat seluruh darahnya semakin bergejolak hingga menyulitkannya untuk mengendalikan diri.


Livia terdiam sambil memikirkan sesutu. Jika obat yang dia berikan hanya mengurangi tanpa bisa menyembuhkan, lalu bagaimana nasib Daniel jika sampai dosis yang di berikan Julio terlalu banyak, hingga obat itu pun tidak akan bisa membantu terlalu banyak.


"Ck!" Daniel berdecak kesal saat pertanyaannya tak dijawab oleh Livia, dia memilih segera beranjak dan berlari masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang sudah sangat tidak bisa dia kendalikan.

__ADS_1


Livia langsung mengalihkan padangannya ketika mendengar pergerakan kasar Daniel dan benturan di pintu kamar mandi.


Cepat Livia berajak dan mengejar Daniel yang sudah masuk ke kamar mandi. "Daniel!" panggil Livia yang mulai khawatir.


Walau masih ada kobaran api dendam di dalam hatinya pada keluarga Daniel, tetapi nyatanya Livia tidak bisa menahan rasa khawatirnya pada Daniel saat melihat laki-laki itu dalam keadaan tersiksa.


Buktinya, begitu dia menerima informasi dari salah satu anak buah Agra yang berjaga di dalam klub malam tempat daniel dan teman-temannya mengadakan acara malam ini. Tanpa pikir panjang, Livia langsung ke luar dari rumah dan mengendarai mobilnya dengan kecepaan tinggi untuk menyusul Daniel dan Danis. Dia juga dengan sigap meminta tolong pada anak buah Agra untuk mengikuti suaminya, sekaligus mencarikan obat penawar untuk Daniel.


Ya, untung saja, Daniel dan para teman-temannya termasuk langganan VIP dari beberapa klub malam milik Agra, hingga Livia dengan mudah menerima informasi tentang keberadaan Daniel dari para teman-temannya sesama anggota mafia.


"Daniel? Kamu gak apa-apa?" tanya Livia sambil berusaha membuka pintu kamar mandi, tetapi ternyata pintu itu terkunci dari dalam.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Daniel tampak langsung berdiri di bawah guyuran air dari shower. Laki-laki itu tampak mendongakkan kepalanya saat air dingin itu perlahan mulai jatuh membasahi kepala hingga seluruh tubuhnya.


"Daniel!" Daniel langsung mengalihkan pandangannya pada pintu kamar mandi ketika mendengar suara Livia yang terus memanggilnya.


"A--aku gak apa-apa, kamu jangan masuk!" teriak Daniel sambil mulai membuka bajunya dengan gerakan terburu-buru.


"Daniel, apa kamu sudah lebih baik?" tanya Livia lagi setelah dia menunggu di luar kamar mandi hampir tiga puluh menit.


"Daniel!" Livia kembali mengetuk pintu kamar mandi dengan cukup kencang saat dia tidak mendengar lagi jawaban dari dalam.


"Daniel! Are you okay?!" Livia kini mulai menaikan nada bicaranya, karena tidak ada respon dari Daniel.


"Sial!" umpat Livia ketika tidak juga mendengar suara Daniel dari dalam sana, kini tingkat khawatirnya sudah bertambah berkali-kali lipat karena di tidak bisa melihat keadaan Daniel.


"Daniel, buka pintunya!" teriak Livia yang mulai sulit mengendalikan dirinya lagi, akibat sudah terlalu khawatir.


Sementara itu, Daniel yang sudah mulai bisa mengendalikan diri, perlahan mulai beranjak dari bawah shower kemudian berjalan menuju pintu dengan langkah kaki yang tidak stabil, tangannya bahkan harus mencari sesuatu untuk menopang tubuhnya yang cukup lemah.


Livia mundur beberapa langkah dengan posisi bersiap untuk mendobrak pintu, tetapi ketika dia hampir saja melakukannya tiba-tiba pintu terbuka bersamaan dengan terlihatnya tubuh Daniel yang sudah tampak kepayahan dan bersandar di kusen pintu. Sepertinya laki-laki itu sudah hampir kehilangan tenaganya karena terus menahan hasrat berlebihan yang menyiksa tubuhnya.

__ADS_1


"Daniel?" Livia hendak berlari untuk menopang tubuh Daniel, tetapi laki-laki itu lebih dulu mengangkat salah satu tangannya sebagai tanda jika Livia tidak boleh mendekat padanya.


"Menjauh dariku, atau aku tidak janji bisa menahan diriku lagi!" ujar Daniel dengan nada seperti membentak Livia. Laki-laki itu bahkan terus menghindarkan pandangannya dari Livia.


Namun, LIvia tidak mendengar ucapan Daniel, dia malah mulai melangkahkan kakinya mendekat pada Daniel dengan wajah yang perlahan berganti menjadi datar.


"Livia!" teriak Daniel tanpa sadar langsung menatap Livia dengan tatapan tajamnya. Namun, sedetik kemudian dia langsung membuang pandangannya ke sembarang arah dengan wajah yang mulai memerah karena hasratnya yang mulai naik lagi.


"Sial!" umpat Daniel sambil menundukkan kepalanya. Sungguh, saat ini emosinya pun menjadi tidak bisa dikontrol karena pengaruh obat itu.


"Livia! Kamu--" perkataan Daniel terhenti ketika dia merasakan kini tangan Livia berada di pundaknya. Dia kembali menatap wanita itu dengan hasrat yang mulai meninggi. Ada dorongan dalam dirinya agar dia tidak menolak, tetapi di sisi lain, Daniek juga tidak mau membuat Livia semakin membencinya karena memanfaatkannya untuk meredam efek obat di dalam tubuhnya.


"Sshhh, kamu menyerahkan diri, huh?" Dalam sekali gerakan Daniel langsung membalik keadaan hingga kini Livia berada di dalam kungkungannya. Laki-laki itu tampak menggigit bibir bawahnya ketika matanya mulai menyusuri wajah Livia.


"Jangan bilang jika aku tidak memperingatkan kamu, Livia," ujar Daniel lagi dengan mata yang sudah berkabut.


Livia tersenyum miring dengan tangan terangkat kemudian mengelus pelan pipi dingin Daniel. Dia kemudian mengatakan sesuatu dengan sangat santai. "Aku tak mendengar apa pun."


Daniel tersenyum, rasa hangat di pipinya yang tercipta karena tangan Livia membuat hasrat Daniel kembali tak bisa dikendalikan, dia bahkan sudah hampir tidak bisa menggunakan akal sehatnya saat ini. Tanpa aba-aba dia langsung menangkup wajah Livia dan meraup bibirnya hingga kini keduanya tampak menikmati sensasi yang baru saja mereka rasakan di dalam tubuhnya.


"Aku tidak akan sungkan," ujar Daniel sambil menyatukan kening keduanya dengan napas yang memburu, setelah tautan bibir keduanya terlepas.


Livia tersenyum tipis. "Aku tidak akan mengalah."


"Oke, kita lihat siapa yang akan kalah lebih dulu," jawab Daniel sambil tersenyum lebar kemudian menggendong tubuh Livia ala anak koala.


"Yang kalah harus mengabulkan permintaan pemenangnya, apa pun itu," ujar Livia sambil mengalungkan tangannya di leher Daniel.


"Setuju," angguk Daniel lalu kembali meraup bibir Livia yang tampak sudah lebih merah dari sebelumnya.


...Bagaimana selanjutnya? Aku sarankan jangan dibayangkan ya, hihihi🤭...

__ADS_1


__ADS_2