Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.69 Jalan tampa ujung


__ADS_3

Satu bulan kemudian....


Daniel sudah mencari ke mana pun yang mungkin ada Livia di sana, laki-laki itu bahkan mungkin sudah berkali-kali mengelilingi kota. Namun, sama sekali tidak ditemukan keberadaan Livia, hingga dia sendiri merasa buntu. Kini Daniel memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan yang terlihat sepi. Dia bersandar di kursi dan membuka kaca mobil, wajahnya sedikit mendongak melihat langit malam yang tampak hitam tanpa ada bintang. Daniel membiarkan angin malam yang terasa dingin itu mulai menerpa wajahnya.


Daniel menutup mata, setidaknya dengan angin malam itu, Daniel bisa sedikit bernapas, setelah sebulan ini dia merasakan sesak hingga sulit untuk bernapas. Perlahan, bayangan kebersamaannya dengan Livia mulai melintas di ingatan. Bagaimana wanita itu bersabar dalam menjaga dan merawat mami Luci, sikap cuek dan sedikit angkuh yang selalu diperlihatkan oleh Livia ketika sedang bersamanya.


Lagi-lagi, hatinya terasa sakit ketika membayangkan bagaimana kesalahan keluarganya di masa lalu yang membuat keluarga Livia hancur berantakan dan kini Livia meninggalkannya.


Daniel tersenyum kecut sambil mulai membuka mata perlahan, sambil bergumam pelan. "Ini sudah satu bulan kamu meninggalkan aku, Livia. Sampai kapan kamu akan terus bersembunyi dariku?"


Daniel menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai memerah, terlihat sekali ada kekecewaan dan penyesalan besar di wajahnya. Namun, beberapa saat kemudian, laki-laki itu terlihat terkekeh ringan walau jelas sekali air yang menggenang di pelupuk matanya.


"Aku memang pantas mendapatkan semua ini darimu, Livia. Dendammu padaku terbalas dengan baik. Sekarang, kami semua tersiksa hanya karena kehilangan kamu. Bukan hanya aku, tapi Mami dan Danis pun kini sudah berubah," ujarnya lagi masih dengan kekehan kecil yang menyertainya, walau lama kelamaan kekehan itu berubah menjadi tawa yang disetai dengan tetes air mata dan berubah tangis.


Daniel tergugu sendiri, dia menelungkupkan wajahnya di atas stir mobil, bahunya berguncang hebat dengan kepalan tangan sesekali memukul stir mobilnya, untuk melepaskan sedikit rasa sesak di dalam dadanya.


Tawa dan tangis itu bercampur menjadi satu. Daniel bahkan sudah tidak bisa lagi mengetahui perasaannya sendiri. Entah dia harus bahagia untuk tercapainya keinginan balas dendam Livia, atau bersedih karena kini dirinya benar-benar kehilangan wanita itu.


Setelah cukup lama menghabiskan waktu di sana dan mulai merasa tenang, Daniel mulai mengemudian mobilnya lagi untuk kembali ke rumah, menyusuri jalanan yang tampak masih terlihat ramai walau malam sudah mulai larut.

__ADS_1


Sampai di rumah, dia berjalan di ruangan yang hanya diterangi oleh lampu hias hingga menghasilkan cahaya temaram. Daniel menghembuskan napasanya ketika dia memasuki ruang keluarga. Di sana, terlihat mami Luci yang masih duduk dan menunggunya pulang.


Ya, setelah kepergian Livia, kini mami Luci akan menunggu kedatangan anak-anaknya pulang. Wanita paruh baya itu tidak perduli lagi dengan kesehatannya yang sering kali menurun karena kurang tidur. Daniel dan Danis sudah berulang kali mengingatkan mami Luci untuk menjaga kesehatannya, tetapi wanita itu tidak pernah mendengarkan mereka.


Mami Luci yang sekarang terlihat lebih murung, walau di depan Danis dan Daniel dia selalu bersikap seperti biasanya, seolah tidak ada yang terjadi pada keluarga mereka. Namun, mami Luci lupa jika saat ini kedua anak laki-lakinya itu sudah tumbuh dewasa, mereka sudah bisa membedakan sebuah kebohongan dan kepalsuan.


Rumah pun terasa kembali dingin, sama seperti saat Livia belum datang. Tidak ada lagi yang berani bercengkrama di sana. Tidak ada juga acara perayaan yang spesial dan ramai, semuanya seolah menghilang bersama kepergian Livia.


Rumah itu memang berpenghuni, tetapi itu tidak cukup untuk menghangatkan bangunan besar yang telah dibangun cukup lama itu.


"Mami, belum tidur?" tanya Daniel sambil tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya menghampiri wanita paruh baya itu. Daniel bersimpuh di depan mami Luci kemudian mencium kedua punggung tangan mami Luci secara bergantian.


Sejak kepergian Livia, Daniel bahkan melupakan penampilannya hingga rambutnya sudah tubuh memanjang. Untung saja, laki-laki itu tidak lupa untuk mecukur kumis dan jambangnya, hingga wajahnya masih terlihat bersih walau rambutnya panjang. Setidaknya dia bisa melakukan semua itu sendiri ketika mandi. Tidak seperti menata rambut yang mengharuskan pergi ke barbershop.


Daniel tidak memilik waktu untuk itu, karena di setiap ada waktu luang maka Daniel akan menggunakannya untuk mencari keberadaan Livia. Bekerja dan mencari Livia, hanya itu yang menjadi rutinitas dan tujuan utama hidupnya sekarang. Dia masih belum menyerah, walau ini sudah sebulan berlalu.


Daniel tersenyum sambil sedikit mendongakkan kepalanya demi melihat wajah wanita yang telah mealahirkannya itu. Dia kemudian beranjak sambil berkata dengan nada suara lembut. "Sekarang sudah malam, jadi Mami harus istirahat. Ayo, aku antar mami ke kamar."


"Mami, sudah makan malam?" tanyanya lagi sambil mulai mendorong kursi roda mami Luci.

__ADS_1


"Eum. Kamu sendiri sudah makan malam belum?" jawab Mami Luci sekaligus memberikan pertanyaan lainnya pada Daniel.


"Sudah," angguk Daniel walau sebenarnya dia tidak menyentuh apa pun sejak siang tadi. Rasanya napsu makannya pun kini terus berkurang seiring semakin lama dia kehilangan Livia.


Daniel kemudian membantu mami Luci untuk duduk di atas ranjang kemudian menyiapkan obat yang harus diminum sebelum tidur oleh wanita itu.


"Minum obat dulu ya, Mami," ujarnya sambil menyerahkan obat pada wanita paruh baya itu bergantian dengan air putih.


Setelah memastikan jika ibunya sudah tertidur Daniel baru ke luar dari kamar dan mulai berjalan menaiki anak tangga. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamarnya, laki-laki itu terlihat menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Begitu pintu terbuka, semua kenangan tentang Livia seolah terlihat lagi di depannya, semuanya seolah berputar bagaikan film di layar bioskop. Semua itu kembali menyiksanya dengan rasa bersalah dan kerinduan yang membawanya dalam jalan tanpa ujung.Begitu melelahkan dan membingungkan. Daniel tidak bisa mundur atau pun ke luar dari perasaan rumit ini, dia hanya bisa terus berjalan ke depan dengan beban yang dia tanggung, berharap suatu hari nanti dirinya bisa sampai pada tujuannya yaitu Livia.


Daniel mulai membuka bajunya sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, walau begitu matanya mengedar melihat seluruh ruangan yang penuh dengan kenangan keberadaan Livia di dalamnya.


Livia bahkan tidak membawa satu pun barang yang ada di kamar itu, mulai dari make up, skin care, atau bahkan baju dan sepatu masih tersimpan rapih dan tertata seperti semula. Daniel tidak pernah merubah apa pun di kamarnya. Semuanya masih sama seperti sebulan yang lalu.


Daniel masih terus berharap, jika suatu saat nanti Livia akan kembali, atau bahkan mungkin dirinya akan menemukan keberadaan wanita itu dan mengajaknya untuk memulai semuanya dari awal.


Daniel memutar tubuhnya ketika dia sudah sampai di depan pintu kamar mandi dengan baju yang sudah terbuka dan kini tergantung di tangannya, dia tersenyum tipis sambil memutar kembali pandangannya pada seluruh ruangan kemudian berbicara dengan suara yang terdengar yakin, walau ada sedikit rasa putus asa di dalamnya.

__ADS_1


"Aku akan selalu menunggumu, Livia, walau itu akan menghabiskan waktu seumur hidupku."


__ADS_2