
Livia berdiri di depan pintu yang sejak sore tadi tidak pernah tebuka, ini sudah ketiga kalinya dia kembali dan mengetuk untuk menyuruh orang di dalam ke luar dan makan malam. Namun, dia kembali harus menerima keheningan. Tidak ada jawab atau suara dari dalam sana. Dia tak dihiraukan.
Perlahan Livia membawa kepalanya untuk menunduk, menatap nampan berisi teh camomile dan sedikit cemilan yang sengaja dia buat untuk mengganjal perut suaminya di dalam sana. Namun, sepertinya semua itu kini tidak bisa lagi memberikan ketenangan untuk Daniel, dia tetap tak membuka pintu setelah Livia menunggu hampir setengah jam lamanya. Teh camomile yang biasanya sangat Daniel sukai, kini bahkan sudah tak hangat lagi.
Livia menghembuskan napas lelah, kemudian menatap jam yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Ini sudah jam sebelas malam, sementara dari yang Danis katakan, Daniel bahkan belum makan dari siang.
Apa yang harus aku katakan pada Mami, kalau dia bertanya tentangmu, batin Livia sambil melangkah meninggalkan tempatnya berdiri. Dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan meminum teh yang sudah terlanjur dingin itu sendiri.
"Cih! Aku ini hanya alat baginya, begitu juga dengnya bagiku. Tidak ada yang menyembuhkan, kita hanya saling menambah luka," gumam Livia sambil beranjak duduk dan mengamil cangkir teh camomile dan menatapnya dengan seringai tipis.
Kali ini dia merasa salah dalam bertindak, karena merasakan sedikit kekhawatiran di dalam hatinya, ketika tadi melihat wajah Daniel yang tampak kalut saat mereka berpapasan di tangga, setelah Daniel ke luar dari kamar kakek Banu.
Tidak seharusnya dia merasa begitu. Tidak seharusnya dia merasa khawatir pada target balas dendamnya sendiri.
"Apa sekarang hatiku mulai tak sejalan? Kenapa?" Livia menggeleng kepala pelan sambil terkekeh kecil, selama ini dia tidak pernah mengalami kegagalan dalam misi apa pun, tetapi kenapa sekarang hatinya merasa ragu? Apakah ini salah? Kenapa Agra juga seolah meragukannya?
Perlahan Livia dekatkan cangkir teh camomile di tangan ke mulutnya kemudian meghirup wangi yang selalu bisa menenagkan kemarahn Daniel. Harumnya memang beda, ini terasa sedikit membuai walau tak sampai menenangkan untuk Livia. Setelah merasa cukup puas menikmati wanginya, dia mulai menyesap air berwarna kuning kecoklatan itu, membiarkannya menjelajahi setiap rongga mulut hingga lidah bisa merasakan sensasi rasa manis bercampur sedikit pahit dan sepat khas daun teh yang sudah dikeringkan itu.
"Cukup enak," gumamnya sambil tersenyum sangat tipis, sementara tangannya menjauhkan cangkur teh itu dari mulut dan membiarkannya berada di genggaman.
__ADS_1
Livia merebahkan tubuhnya, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi hingga kepalanya terlihat mendongak. Perlahan matanya dia tutup rapat dengan cangkir teh yang masih dia genggam erat di pangkuan.
...❤️🔥...
"Enggak mau! Aku gak mau ikut sama kamu!" Gadis kecil itu meronta hingga kakinya terkadang terangkat, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan seorang laki-laki berbadan kekar. Sementara di depannya laki-laki muda dengan perawakan cukup tinggi terlihat berjalan tegap melewati setiap tubuh tak bernyawa di sekitarnya.
"Aku gak mau ikut! Aku mau sama Papah dan Mama!" teriak gadis kecil itu lagi sambil terus menangis dan meronta meminta di lepaskan.
Tubuh gadis kecil itu bergetar dengan wajah pucat pasi, dia ketakutan dan dan sedih dalam waktu bersamaan, hingga dirinya sendiri bingung harus berekspresi seperti apa sekarang. Namun, ketika laki-laki itu membawanya turun dan menapaki lantai satu, matanya melihat jelas wajah ayah, ibu, dan kakak kedua kakaknya yang sudah tergeletak di atas lantai dengan berbagai luka dan darah yang menggenang di sekitarnya.
Laki-laki muda itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Livia dengan seringai tipis di wajahnya. "Kamu lihat? Apa sekarang kamu juga mau ikut bersama mereka?" tanyanya pada gadis kecil yang bahkan belum mengerti dengan perkataannya.
"Kakak! Kakak, tolong Via. Kakak bangun!" Sayang sekali tubuh kecilnya sungguh tak sebanding dengan laki-laki kekar yang kini memeganginya, dia tak bisa berbuat apa-apa, bahkan menyentuh tubuh semua keluarganya yang bahkan sudah tak bernyawa untuk terakhir kalinya.
Pyar!
Bunyi gelas pecah memaksa Livia untuk membuka mata sambil menengakkan tubuhnya, dia bisa merasakan air mata yang masih basah dari sudut matanya. Dia tahu, tadi dirinya pasti menangis dalam keadaan tertidur. Itu memang sering terjadi padanya.
"Mimpi," gumam Livia sambil tersenyum miris. Mimpi yang sudah datang sejak kejadian itu, bahkan tak pernah hilang. Sama seperti luka dan dendam yang sudah tertanam di dalam hatinya.
__ADS_1
Mimpi yang seolah terus mengingatkannya akan masa kelam hidupnya dan kehancuran seluruh keluarganya. Mimpi yang terus memupuk rasa dendam di dalam hatinya dan selalu mengingatkannya akan tujuan dirinya bertahan hidup hingga sekarang.
Perlahan matanya bergilir melihat pecahan cangkir teh yang sudah hancur di sekitar kaki. Sudut bibirnya terlihat berkedut ketika melihat ada darah yang mengalir dari punggung kaki yang terkena pecahan cangkir teh itu.
"Bahkan cangkir tehnya saja bisa melukai kakiku?" gumam Livia sambil terus menatap darah yang mengalir di kakinya tanpa ada niat untuk mengambil pecahan cangkir teh yang menancap di sana.
...❤️🔥...
Jam lima pagi, Livia baru saja hendak ke luar dari kamar ketika mendapati pintu terbuka dari luar lalu menampilkan Daniel yang tampak sangat kacau. Baju kemeja yang dia pakai sejak kemarin kini terlihat sangat berantakan dengan beberapa kancing yang lepas, juga wajah sayu dan rambut yang sama sekali tak ditata. Livia mematung dengan jantung yang seolah berhenti berdetak ketika mendapati penampilan Daniel yang sangat berbeda itu. Bahkan dia bisa melihat ada lingkaran hitam yang cukup besar di sekitar matanya. Tampaknya semalam tadi Daniel tidak tidur.
Seperti biasa Daniel akan membuka bajunya di dalam kamar, membiarkannya bercecer di lantai hingga hanya menyisakan celana pendek dan kaos putih tipis sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Livia menghembuskan napas pelan, dia kemudian berbalik dan memungut pakaian Daniel yang tercecer kemudian memasukannya ke dalam keranjang baju kotor. Ternyata suaminya itu tak pernah lupa dengan kebiasaan untuk mengerjainya walau keadaannya sedang kacau.
Bukankah seharusnya aku senang? batin Livia sambil melanjutkan langkahnya ke luar dari kamar, setelah menyiapkan baju untuk suaminya pakai.
Sementara itu, Daniel yang baru saja ke luar dari kamar mandi melihat kilas pakaian yang tergeletak di atas lemari jam tanganya, dia tahu jika itu adalah perbuatan Livia setiap kali menyiapkan baju untuknya. Namun, seperti biasanya, Daniel hanya melihat kilas kemudian memilih untuk mengambil baju lain dengan warna berbeda. Dia memakai semuanya sendiri walau akhirnya dia menyerah ketika harus memakai dasi. Daniel akhirnya memilih membuka dua kacing kemeja paling atas, hingga masih terlihat cocok walau tak memakai dasi.
Setelah dia rasa cukup, Daniel membawa kakinya melangkah ke luar kamar dengan tangan menggengam kunci mobil dan ponsel. Langkah lebar dan cepat itu bahkan sampai membuat Livia tak bisa menyusulnya karena sang suami sudah berlalu menggunakan mobil sport salah satu koleksinya yang sebenarnya sangat jarang dia pakai.
"Ke mana dia?" guamam Livia, melihat angka yang terlihat dari jam di tangannya yang baru menujukkan pukul enam pagi.
__ADS_1