Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.28 Rencana Murti


__ADS_3

"Berikan ini pada makanan atau minuman Luci," ujar Murti dengan suara sedikit pelan dan mata mengedar memastikan tidak ada orang di sekitarnya --pada salah satu pelayan ketika keduanya sedang berada di dapur.


"Tapi, Nyonya, ini apa?" tanya pelayan itu tampak takut.


"Gak usah banyak tanya, kamu lakukan saja apa yang aku suruh. Kamu mau uang, kan?" Murti tampak menatap kesal pelayan di depannya.


"B--baik, Nyonya," angguk pelayan itu walau terlihat sekali ketakutan di wajahnya.


Livia yang hendak mengambil air tidak sengaja mendengar percakapan antara Murti dan pelayan yang selama ini tak pernah ramah padanya. Kini, dia terlihat berdiri di balik pintu masuk dapur dan mendengarkan rencana kedua orang itu. Livia mengepalkan tangannya sambil menatap tajam, menahan rasa marah yang tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya.


Apa yang dia rencanakan pada Mami Luci? batin Livia sambil kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dapur, seolah dia baru saja datang.


"Oh, maaf. Saya kira tidak ada orang," ujarnya seolah ikut terkejut ketika melihat Murti dan pelayan itu ada di Dapur.


"S--sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Murti dengan wajah yang terlihat sekali sangat panik.


"Ambil minum," jawab Livia sambil memperlihatkan gelas di tangannya. Dia bahkan tak perduli walau jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaan Murti. Livia langsung berjalan menuju sebuah dispenser yang ada di sana kemudian mengambil air hangat ke dalam gelas miliknya.


Melihat itu, Murti hanya berdecak kemudian berlalu pergi dengan wajah yang terlihat masih saja angkuh, sementara pelayan itu juga berlalu tanpa bertegur sapa dengan Livia. Sementara itu, Livia hanya melirik sekilas pada kepergian kedua wanita berbeda usia itu, tanpa berkata apa pun, dia berlalu dari dapur dan memilih berjalan kembali ke dalam kamarnya dan Daniel di lantai dua.


Lihat saja nanti, apa kalian akan berhasil melakukan rencana itu pada Mami Luci? Karena aku tidak akan membiarkan kalian berhasil!


...❤️‍🔥...

__ADS_1


Pagi harinya, seperti biasa, Livia akan meninggalkan meja makan setelah menyiapkan sarapan untuk memanggil Daniel dan membantu Mami Luci ke luar dari kamarnya. Wanita itu tampak menyeringai ketika melihat pelayan yang tadi malam bersama dengan Murti tampak berada di sekitar meja makan, padahal dia tidak ada tugas di dalam dapur.


Sepeninggal Livia, pelayan itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik saku celananya kemudian memasukan beberapa tetes air dari botol itu ke dalam mangkuk berisi menu sarapan untuk Mami Luci. Setelah dia melakukan tugasnya, segera pelayan itu pergi dari dapur, dia mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kedatangan Murti bersama dengan Julio di belakangnya. Senyum cerah pun terlihat di wajah Murti, wanita itu kemudian menunggu kakek Banu sebelum duduk di kursi.


Daniel datang bersama dengan Danis dan Livia di belakangnya, kini Daniel dan Danis memilih mengalah dan mengikuti keinginan kakek Banu untuk sarapan bersama, walau raut wajahnya selalu terlihat kesal dan penuh permusuhan ketika melihat ada Julio dan Murti di dekatnya.


Begitu samapai di lantai satu, Livia memisahkan diri untuk menjemput Mami Luci yang masih ada di kamar, sementara Daniel dan Danis melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Keduanya berhenti dan menyempatkan diri menyapa singkat kedatangan kakek Banu bersama dengan Karlo di belakangnya.


"Selamat pagi, Kek," sapa Daniel dan Danis bersamaan.


"Pagi," jawab kakek Banu sambil tersenyum tipis. Dia merasa senang karena kali ini kedua cucunya memilih untuk sarapan di rumah, setelah selama ini Daniel dan Danis terus saja menghindar.


"Selamat pagi, Papah," sapa Murti sambil tersenyum cerah hingga seluruh giginya bisa terlihat jelas.


"Pagi," angguk Kakek Banu, kemudian memilih melanjutkan langkahnya ke meja makan, bersama dengan semua orang yang mengekor di belakang. Tidak lama setelah itu, Mami Luci dan Livia pun ikut menyusul ke meja makan.


Mereka sudah bersiap untuk sarapan dengan Murti yang tampak mengulum senyum sambil terus melirik kepada Mami Luci. Semua itu tentu bisa Livia lihat dengan jelas, hingga di saat Mami Luci hendak melakukan suapan pertama untuk makanan miliknya, tiba-tiba Livia berseru dengan wajah yang terlihat sedikit panik dan terkejut.


"Jangan makan dulu, Mami!"


Mami Luci menghentikan gerakan tangannya dengan tatapan kecewa dan marah Murti yang bisa terlihat jelas dari sudut mata Livia. Sementara Daniel, Danis, kakek Banu, dan Karlo, terlihat menatap penuh penasaran pada Livia.


"Ada apa, Livia?" tanya Mami Luci sambil menaruh kembali sendok berisi makanan di piringnya.

__ADS_1


Livia tersenyum canggung sambil beranjak menghampiri Mami Luci, tetapi sedikit rasa takut ketika melihat tatapan garang Daniel dan kakek Banu padanya. "Maaf, Mami, aku lupa memberikan garam. Biar aku kasih garam dulu," ujarnya sambil mengambil makanan di depan Mami Luci lalu membawanya kembali ke dapur.


"Eeh, Livia--" Ucapan Mami Luci terhenti ketika tangannya digenggam oleh Daniel.


"Biarkan saja," ujar Daniel dengan nada suara lembut. Mami Luci pun akhirnya mengangguk sambil menghela napas pelan. Selama ini Livia tidak pernah melakukan kesalahan, selama bekerja di sini, baru sekali dia melakukan kecerobohan dan itu terjadi sekarang, di saat ada kakek Banu, Murti, dan Julio. Sementara itu, Daniel terlihat menatap tajam kepergian Livia, dia tidak suka pada keselahaan apa lagi itu terjadi pada Mami Luci.


...❤️‍🔥...


Livia membuang makanan Mami Luci yang lama kemudian mengambil makanan baru dari salah satu lemari kitcen set yang telah dia siapkan sebelumnya sebagai antisipasi jika Murti dan pelayan itu melakukan rencana mereka sekarang. Benar saja, ternyata tebakanya tidak meleset sama sekali.


Berani mencelakai Mami Luci? Jangan harap bisa berhasil, batin Livia sambil tersenyum samar kemudian berjalan kembali ke ruang makan dengan piring Mami Luci yang baru.


"Ini sudah enak, Mami. Silakan dimakan," ujar Livia sambil menaruh piring makan milik Mami Luci.


"Terimakasih, Livia," angguk Mami Luci sambil bersiap untuk makan.


"Lain kali, lebih fokus lagi merawat mertuamu, jangan sampai mengganggu kami yang harus menunggu karena kecerobohanmu," ujar Murti sambil menatap sinis pada Livia.


Livia menunduk seolah tengah takut oleh ucapan Murti, dia lalu mengangguk sambil menjawab dengan nada suara lemah dan sedikit bergetar. "Maafkan, saya, Nyonya."


"Sudahlah, jangan diperpanjang, lebih baik kita sarapan sekarang. Daniel, Danis, dan Julio harus berangkat ke kantor, jangan sampai mereka terlambat hanya karena masalah kecil seperti ini." Kakek Banu yang melihat raut wajah kesal Daniel dan menyangka itu karena ucapan Murti pun memilih menengahi, daripada masalah kecil itu akan berlanjut dan menjadi masalah besar di pagi hari ini.


Semua orang pun terdiam begitu mendengar suara dalam kakek Banu, mereka akhirnya memulai sarapan bersama dengan keheningan menemani. Semuanya hanya fokus pada makanan tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2