Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.73 Menyusul


__ADS_3

Enam tahun berlalu ....


"Ares, Mama pulang!" Livia membuka pintu kamar anaknya yang kini berusia lima tahun dengan wajah riang, walau sesaat kemudian wanita itu tampak bingung karena tidak menemukan keberadaan anaknya di sana.


"Gak ada? Ke mana dia?" gumam Livia sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan anak laki-lakinya itu.


Dirinya baru saja pulang setelah dua hari lalu harus pergi ke luar kota untuk melakukan pembukaan pusat perbelanjaan baru mereka. Namun, tidak seperti biasanya kini anak laki-lakinya bahkan tak memyambutnya ketika pulang.


"Heru, di mana Ares, kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Livia begitu dia melihat seorang laki-laki yang sudah mulai menua itu melewatinya.


Dia adalah Heru, kepala pelayan yang sudah melayani Andrew bahkan sebelum Livia dan Agra ada di sana. Walau sudah mulai menua, tetapi fisiknya masih telrihat sehat dan gagah, jangan lupa kekuasaannya atas mansion milik Andrew yang tidak mudah diganggu gugat.


"Tuan Ares dan Tuan besar pergi ke Indonesa dua hari lalu. Katanya ingin merayakan ulang tahu Nona Syakira," jawab Heru.


"Ke Indonesia? Kenapa tidak memberitahu aku dulu?!" Livia yang terkejut dengan jawaban Heru pun tak sadar sampai berteriak.


"Kalau itu saya tidak tahu, Nona," jawab Heru.


"Ah, iya. Maafkan aku. Kamu boleh kembali bekerja." Wajah Livia langsung terlihat pucat ketika memikirkan Ares yang pergi ke Indonesia.


"Ah, tolong pesankan aku tiket ke Indonesia secepatnya," sambung Livia lagi.


"Baik, Nona," angguk Heru kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Livia.

__ADS_1


"Ish, pasti mereka berdua sekongkol buat gak bilang sama aku!" kesal Livia sambil kembali masuk ke dalam kamarnya untuk segera menyiapkan diri dan menyusul anak dan ayah angkatnya ke Indonesia.


"Susah payah aku mencegah Ares untuk datang ke sana selama ini, sekarang semuanya sia-sia. Semoga saja dia tidak bertemu dengan laki-laki itu," gumam Livia sambil mulai membongkar kembali koper yang baru saja datang dan mengganti baju yang ada di dalamnya.


Pantas saja, dua hari lalu saat dirinya berpamitan untuk pergi ke luar kota, Ares terlihat acuh, tak seperti biasanya yang selalu merengek ingin ikut serta. Ternyata anak dan ayahnya sudah mempunyai rencana sendiri.


Sekitar tiga belas jam perjalanan, pesawat yang ditumpangi Livia akhirnya mendarat di bandara internasional soekarno hatta, yang terletak di kota Tangerang, Banten. Livia tersenyum ketika melihat bagaimana keadaan negara itu setelah enam tahun lalu dirinya memutuskan untuk pergi dari sini.


Banyak yang sudah berubah di sana, entah dengan infrastruktur atau bahkan segala pembangunan yang sudah sangat maju dengan pesat. Wanita itu memilih lebih dulu mampir di kantin untuk sekedar minum kopi sambil menunggu mobil yang akan menjemputnya.


Ya, Livia baru mengabari Agra setelah dirinya berada di sini. Hingga kini laki-laki itu menyuruhnya untuk menunggu seseorang yang akan dia tugaskan untuk menjemput di bandara.


Wanita itu tampak duduk santai sambil menikmati secangkir kopi dan sebuah kue sebagai pelengkap. Matanya fokus melihat pemandangan di sekitar sana, yang masih telrihat ramai dengan orang-orang yang berjalan hilir mudik.


"Banyak yang berubah dari negara ini," gumam Livia sambil terus melihat sekitarnya.


Tanpa Livia sadari, di sisi lain kantin, Daniel yang juga baru saja sampai dari luar kota tampak duduk dengan Danis dan seorang wanita lainnya. Mereka menyempatkan diri untuk beristirahat dulu di kantin sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Keduanya hanya berjarak beberapa meter saja, tetapi karena sibuk dengan aktivitasnya sendiri, mereka tidak menyadari satu sama lain. Keduanya duduk saling memunggungi hingga mempersulit kemungkinan untuk saling melihat.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit menunggu akhirnya dia mendapat kabar jika mobil yang menjemputnya sudah datang, Livia pun akhirnya pergi dari kantin itu begitu saja. Begitu juga Daniel, Danis dan satu perempuan yang bersama mereka. Semuanya pergi pada kehidupannya masing-masing tanpa ada yang menyadari keberadaa satu sama lain.


Ya, mungkin keadaan ini bukan hanya kali ini terjadi, ada beberapa waktu ketika sebenarnya mereka begitu dekat, tetapi keduanya tidak menyadari itu. Sama seperti perasaan dalam hati, yang selalu mendamba satu sama lain, tetapi tak ada yang menyadari sebelum salah satu diantara mereka memilih untuk pergi.

__ADS_1


Entah kapan kesempatan itu akan kembali, keduanya bahkan tak mau berharap, mengingat banyaknya waktu yang sudah mereka lewati satu sama lain. Dalam pikiran mereka, mungkin salah satunya sudah bahagia bersama dengan kehidupan barunya. Namun, sebenarnya keduanya sama-sama menghukum diri dengan rasa rindu dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.


...❤️‍🔥...


Kini, Daniel kembali menjadi laki-laki yang dingin dan makin tak tersentuh oleh makhluk yang nammanya wanita. Perusahaan yang dikelolanya semakin berkembang setelah enam tahun lalu terus diterpa cobaan. Laki-laki itu sekarang tidak lagi perduli dengan image di depan karyawan, dia lebih memilih bersikap dingin daripada banyak karyawati yang berusaha mencari muka di depannya dan mendekatinya hanya karena statusnya sebagai duda.


Namun, setahun setelah kepergian Livia, kabar kandasnya rumah tangga dirinya dan Livia pun terungkap, hingga seteleh itu kembali banyak yang mendekatinya dan berusaha menjodohkannya dengan anak atau saudara perempuannya.


Sekarang Daniel juga berhenti minum atau pergi ke klub malam, semua yang Livia tidak suka dia hentikan, dengan harapan Livia akan segera kembali padanya setelah dia berubah. Namun, ternyata bahkan setelah enam tahun berlalu, tidak ada tanda-tanda Livia akan kembali, atau dirinya yang menemukan wanita itu lebih dulu.


Livia menghilang tanpa jejak, bersama dengan rasa cinta yang dia miliki. Ya, Daniel kini sudah kehilangan cintanya hanya untuk Livia, walau Danis dan mami Luci sering kali menyuruhnya untuk melupakan wanita itu.


Setelah tiga tahun menunggu kehadiran Livia, Danis dan mami Luci menyerah, mereka tidak mau melihat daniel terus terpuruk hingga akhirnya meminta Daniel untuk melupakan wanita itu. Namun, keduanya juga tak memaksa, mereka membiarkan waktu yang akan membawa Daniel semakin dewasa.


"Kak, ada masalah!" teriak Danis tiba-tiba sambil membuka pintu ruang kerja kakaknya tanpa mengetuk pintu dulu. Napasnya bahkan terdengar memburu dengan wajah memerah dan dada naik turun. Laki-laki itu benar-benar panik.


Daniel yang masih sibuk dengan komputer dan tumpukan berkas di depannya pun menyempatkan diri untuk mengangkat kepala dan melihat kedatangan adiknya itu.


"Ada apa?" tanya Daniel sambil kembali mengalihkan pandangannya pada berkas yang sedang dia baca.


"Pemegang saham tertinggi katanya mau datang berkunjung, sekarang mereka sudah ada di bawah!" jawab Danis dengan terburu-buru.


"Hah? Kenapa mereka datang mendadak begini?" Daniel langsung berdiri dan mengambil jas yang tersampir di kursi lalu memakainya.

__ADS_1


"Entah, aku juga baru mendengar kabarnya dari resepsionis," jawab Danis sambil membereskan berkas yang masih berantakan di atas meja.


Keduanya pun berjalan terburu-buru ke luar dari ruangan untuk menyambut kedatangan pemegang saham terbesar di perusahaan mereka yang begitu misterius. Dia bahkan tidak pernah hadir dan selalu mengirim perwakilan untuk datang di setiap rapat yang diadakan.


__ADS_2