Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.26 Pesan Livia


__ADS_3

"Daniel dan Danis mana?" tanya Kakek Banu ketika mereka bersiap untuk melakukan sarapan bersama. Livia yang baru saja datang dengan membawa satu piring buah potong permintaan dari Murti pun tampak menegang, ketika mendengar pertanyaan dari laki-laki tua itu.


Mami Luci yang memang belum melihat kedua anaknya itu pun terlihat menatap Livia yang sedang meletakkan piring di depan Murti.


"Livia, apa kamu sudah memberitahu Daniel dan Danis untuk sarapan bersama?" tanya Mami Luci dengan nada lembut dan tatapan yang penuh kasih sayang.


"Maaf, Mami, Livia lupa bilang, kalau Mas Daniel dan Danis tadi malam ada urusan mendadak, jadi mereka gak pulang," jawab Livia memberi alasan.


"Urusan apa? Kenapa harus sampai tidak pulang?" Kakek Banu tampak menatap Livia penuh tanya.


"Sepertinya ada sesuatu di salah satu kantor cabang, saya juga tidak terlalu mengerti, Tuan. Maaf," jawab Livia, berubah berbicara menggunakan nada formal. Walau saat ini dirinya menjadi bahan perhatian semua orang, Livia masih saja terlihat tenang dengan senyum tipis yang setia menghiasi wajahnya.


Sampai saat ini Kakek Banu memang belum mengatakan apa pun pada dirinya, entah sudah menerima atau masih menolak dirinya sebagai cucu menantu, hingga Livia masih memilih memanggil dengan cara formal, sesuai saat dirinya masih menjadi perawat Mami Luci.


"Hem." Kakek Banu hanya berdehem sambil mengangguk samar sebagai jawaban dari ucapan Livia. Dia kemudian beralih pada Julio yang sejak tadi hanya fokus pada menu sarapan di piringnya. "Kamu akan datang ke perusahaan bersamaku."


"Baik, Kakek," angguk Julio sambil tersenyum senang.


Mami Luci yang mendengar itu sempat menghentikan aktivitasnya dan menatap Kakek Banu sejenak dengan sorot mata yang terlihat rumit. Entah apa yang akan nanti dilakukan oleh Daniel di kantor, jika sampai tahu kalau Kakek Banu bahkan mengantarkan Julio secara khusus untuk bekerja di sana.


Ya Tuhan, jaga anak-anakku dan berikan Daniel kesabaran lebih dalam menghadapi sikap keras mertuaku, batin Mami Luci khawatir pada Daniel dan Danis.


...❤️‍🔥...

__ADS_1


Matahari sudah bersinar cukup tinggi, ketika Daniel mulai mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang menyelinap masuk mengenai kornea. Rasa pening yang amat sangat pun langsung menyapa kepalanya begitu dia tersadar dari mimpi panjangnya.


Pengar alkohol pun membuat perutnya langsung bergejolak, memaksa untuk segera bangkit dan menurunkan kaki dari hangatnya selimut tebal di atas ranjang. Daniel duduk di sisi tempat tidur dengan kepala tertunduk dalam, mencoba mencari kesadaran yang beberapa saat lalu sempat hilang, hingga setelah dirasa dirinya berhasil menguasai diri, Daniel perlahan mulai mengangkat kepala hingga tegak.


Namun, apa yang ada di depan sana membuat kerutan di keningnya semakin dalam. Bukan hanya pening yang kini dia rasakan, tetapi suasana di sekitarnya pun membuat dia dilanda kebingungan.


Di mana ini? Ini sama sekali bukan di kamarku, batin Daniel sambil memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, meyakinkan diri jika yang dia lihat kini adalah kebenaran.


Daniel memegang kepalanya, memaksa ingatannya tadi malam untuk kembali, ditengah gejolak dalam perutnya yang semakin menjadi. Matanya melebar dengan wajah berubah merah setelah kilas balik itu berputar di kepala.


"Aku mabuk? Siapa yang membawaku ke sini?!" Daniel langsung memeriksa seluruh tubuhnya. "Semuanya masih lengkap! Aku masih memakai baju?"


Daniel menghembuskan napas kasar sambil menoleh ke belakang, ternyata di sana bukanlah wanita yang tidur bersamanya. Itu hanyalah Danis, mungkin dia hanya terlalu khawatir. Untuk sesaat dia mengira jika dirinya terlalu mabuk hingga mampu membawa wanita untuk tidur bersama, tetapi ternyata itu hanya sekedar pemikiran buruknya saja.


Daniel baru saja hendak membangunkan Danis untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya, ketika sesuatu yang ingin ke luar dari dalam perut kini tidak bisa dia tahan lagi. Laki-laki itu terpaksa mengurungkan niatnya dan beranjak berdiri dan berlari menuju toilet dengan langkah yang masih terlihat sempoyongan.


Daniel membasuh muka berulang kali untuk mengembalikan kesadarannya, setelah dirasa cukup, Daniel mengangkat kepalanya dengan kedua tangan bertumpu pada sisi washtafel. Dia menatap wajah kacaunya di dalam pantulan cermin. Nampak sekali tetes air yang masih jatuh dari ujung rambut dan dagunya ditambah mata merah dan sayu. Itu sama sekali tidak seperti dirinya yang terlihat dari luar sana. Dirinya yang selalu sempurna dalam keadaan apa pun.


"Ck!" Dia berdecak pelan dengan salah satu sudut bibir terangkat, membentuk seringai yang terlihat miris.


Sambil membuka satu per satu kancing bajunya, Daniel berjalan menuju ke bawah shower dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Daniel mencoba menghilangkan pengar akibat alkohol oleh air dingin yang jatuh tepat di atas kepalanya.


Sementara itu, suara bel di pintu memaksa Danis untuk membuka mata, dia tahu jika itu tidak termasuk ke dalam rangkaian mimpi yang sedang berputar seperti cerita yang semakin membuatnya lelap.

__ADS_1


"Mengganggu saja!" decaknya sambil memaksa tubuhnya bangkit dan berjalan menuju arah suara dengan mata yang bahkan masih enggan untuk terbuka.


"Ya?" Danis membuka setengah daun pintu dan membiarkan tubuhnya terlihat dari luar.


"Saya membawa baju ganti untuk Anda, Tuan," ujar seorang perempuan yang memakai seragam khas pegawai hotel.


Mendengar suara lembut dan sapaan sopan seorang wanita, jiwa pemain wanita di dalam diri seorang Danis tiba-tiba saja kembali, dengan sigap dia merapihkan diri dan menegakkan tubuhnya. Laki-laki yang berparas tampan dan memiliki tubuh ideal itu pun tersenyum lebar, walau semua itu tak membuatnya terlihat lebih segar.


"Terimakasih, cantik," ujarnya dengan nada yang memuja. Tangannya meraih dua gantung setelan jas yang masih rapih lengkap dengan pelastik yang menutupinya.


"Sama-sama, Tuan," angguk ramah wanita itu, kemudian berlalu pergi dari hadapan Danis.


Danis berbalik dengan dua gantung setelan jas di tangan, dia baru saja hendak kembali ke alam mimpi, ketika matanya tiba-tiba saja bertemu dengan mata hitam yang menyorot tajam dari seseorang yang baru saja ke luar dari kamar mandi.


"Siapa?" tanya Daniel dengan nada suara dingin dan tak acuh.


"Pelayan, mengantarkan baju ganti untuk kita," jawab Danis santai, walau sedetik kemudian dia melebarkan matanya sambil mengedarkan pandangannya. Sepertinya laki-laki itu baru saja menyadari keadaan saat ini.


"Kak Daniel? Ngapain Kakak ada di sini? Bukannya ini kam--" Ucapan Danis terhenti sebelum dia bisa menyelesaikannya, ketika sadar jika dirinya kini bukan berada di kamarnya lagi.


"Di mana ini?" sambungnya lagi dengan wajah terlihat sangat bingung.


Tak mau repot menjelaskan pada adiknya, Daniel berjalan menghampiri Danis kemudian mengambil salah satu setelan jas di tangan Daniel. Dengan santainya, Daniel memakai jas yang memang terasa pas di badannya. Namun, ketika dia ingin memakai dasi, pergerakan tangannya terhenti saat melihat dasi itu sudah dalam kondisi terikat dan siap untuk dipakai. Matanya memicing, melihat tulisan yang tertempel di dasi itu.

__ADS_1


..."Jangan pulang ke rumah, langsung ke kantor saja, Kakek menunggu di sana."...


__ADS_2