Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.78 Salah paham


__ADS_3

"A--aku ...." Livia tampak masih ragu, tetapi begitu dia ingin membuka suara lagi, tiba-tiba pintu ruang kerja Daniel terbuka dari luar hingga langsung memperlihatkan Ares yang berdiri di sana sambil menyunggingkan senyum tak bersalah. Anak itu kemudian berlari cepat menghampiri kedua orang tuanya sambil berbicara dengan nada riang. "Mama, kata Om Danis, aku punya seorang Nenek. Ayo, Ma, kita ketemu Nenek sekarang."


"Ares mau ketemu, Nenek?" tanya Daniel sambil tersenyum lalu beranjak duduk di samping Livia kemudian membawa Ares ke dalam pangkuannya.


"Eum. Aku mau ketemu sama Nenek," angguknya dengan wajah polos dan sumringah. "Boleh kan, Ma?" tanyanya meminta persetujuan dari Livia.


Daniel pun tampak ikut menatap Livia, seolah bertanya kesediaan wanita itu untuk bertemu dengan mami Luci.


"Kayaknya aku gak bisa ikut deh, soalnya gak enak juga sama Alisya. Aku udah janji mau bantuin dia mempersiapkan pesta ulang tahun anaknya besok siang," jawab Livia sambil tersenyum canggung.


"Ya udah, kalau gitu kamu ketemu mami lain kali aja. Tapi, boleh gak aku pinjam Ares hari ini, nanti malam aku antarkan dia pulang," ujar Daniel dengan tangan yang terus mengelus kepala anaknya itu.


Livia tampak menatap wajah Ares yang terlihat mengiba, wajah yang merupakan kelemahannya pada anak itu. Dia paling tidak bisa menolak jika anaknya sudah memperlihatkan wajah itu. Kini semua itu ditambah juga dengan raut memohon Daniel yang membuat dia tampak semakin tidak sanggup menolak. Livia tampak menghirup napas pelan kemudian menghembuskannya dengan sedikit kasar sebelum menjawab permintaan Daniel.


"Baiklah, kamu boleh ikut Papa ke rumah, tapi nanti malam harus pulang sebelum jadwal tidurnya karena besok Ares harus menghadiri acara ulang tahun Syakira," jawab Livia tegas.


"Iya, Mama. Sebelum jam sembilan malam, Ares akan aku bawa ke depan kamu lagi." Daniel yang menjawab sambil menggoda Livia, hingga pipi wanita itu tampak merona dibuatnya.


"Sudahlah, aku harus pulang sekarang." Livia langsung beranjak berdiri sambil membawa tas miliknya. Namun, baru saja dia melangkah, Livia harus menghentikan langkahnya ketika tangannya labih dulu dicekal oleh Daniel. Wanita itu tampak berbalik dan menatap wajah laki-laki itu penuh tanya.


"Simpan nomor kamu dulu, biar aku bisa menghubungi kamu nanti," ujar Daniel sambil menyodorkan ponselnya pada Livia.


"Oh," Livia mengangguk sambil mengambil ponsel milik Daniel, dia sempat tertegun ketika melihat wallpaper layar utama ponsel Daniel yang masih menggunakan foto pernikahan mereka.


"Kamu?" Livia tampak mengalihkan perhatiannya pada Daniel dengan tatapan yang terlihat rumit.


"Tidak ada yang berubah untukku, Livia. Kamu masih tetap ada di hatiku, seperti foto itu yang selalu menemani aku di mana pun," jawab Daniel sambil tersenyum tulus.


Livia tampak tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia kemudian mengentikkan nomor ponselnya dan mengembalikan benda pipih itu pada sang empunya.

__ADS_1


"Aku pergi sekarang, kasihan Max menungguku di bawah," pamit Livia.


"Ayo, biar aku antar kamu ke bawah." Daniel pun berdiri dengan Ares dalam gendongannya.


Livia tak menolak, dia membiarkan Daniel mengantarnya ke bawah, hingga kini mereka berdua tampak berjalan beriringan di koridor kantor dengan Daniel menggendong Ares. Mereka sudah bagaikan keluarga utuh yang bahagia, hingga menjadi perbincangan di seluruh para karyawan kantor lainnya. Mereka semua tampak saling menerka, sebenarnya apa hubungan antara Livia dan Daniel, juga status anak laki-laki yang terus menempel pada Daniel.


...❤️‍🔥...


Sesuai janjinya, siang itu Daniel memutuskan untuk pulang lebih dulu dan mebawa Ares menemui mami Luci. Sungguh, hari ini Daniel begitu bahagia hingga rasanya tidak bisa lagi tergambarkan oleh kata-kata. Sepanjang perjalanan, dirinya bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari anak laki-laki yang terus mengoceh menanyakan berbagai hal padanya.


Tanpa terasa, mobil yang dikendarai oleh Daniel pun sampai di depan rumahnya, laki-laki itu tampak turun lebih dulu kemudian berjalan memutar demi membantu anaknya turun dari mobil.


"Ini rumah Nenek?" tanya Ares ketika keduanya kini terlihat berdiri di ujung teras dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Iya, ini rumah nenek, Papa, dan Om Danis," jawab Daniel sambil tersenyum senang. Dia bahkan tampak sangat bangga pada Ares yang begitu kritis dengan sekitarnya hingga banyak bertanya.


Sementara itu, Mami Luci yang mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, pun menyuruh salah satu pelayan untuk melihat siapa yang datang. Hingga beberapa saat kemudian pelayan yang ditugaskan untuk melihat ke depan pun kembali untuk memberi tahu mami Luci apa yang dia lihat.


"Itu, Bu ... Tuan Daniel," jawab pelayan itu dengan nada suara bergetar karena terlalu terkejut.


"Eh, tumben dia pulang siang? Apa ada yang ketinggalan?" gumam mami Luci sambil menatap pintu masuk dengan wajah bingung.


Hingga kerutan di keningnya tampak semakin dalam saat melihat pintu utama mulai terbuka dan menampilkan Daniel yang mulai melangkah masuk bersama dengan anak kecil sambil bergandengan tangan.


"Daniel, tumben kamu pulang siang begini," ujar Mami Luci setelah berhasil mengendalikan perasaannya.


"Ini, anak siapa? Ya ampun ganteng sekali," sambungnya lagi sambil mengalihkan pandangannya pada Ares.


"Siapa nama kamu, Nak?" Mami Luci tampak mengelus pipi Ares sambil menahan gemas.

__ADS_1


"Pah, ini Nenek aku?" Ares tampak mendongak menatap Daniel dengan wajah polosnya.


"Pah?" Mami Luci melebarkan matanya sambil mengulangi panggilan yang dipakai Ares pada Daniel. Matanya menatap anak sulungnya itu dengan wajah penuh tanya.


Daniel menggaruk belakang kepalanya sambil meringis ketika dia melihat ada sorot kemarahan di dalam mata wanita yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun itu.


"Mami harus bicara sama kamu. Ayo ikut mami." Mami Luci tampak menatap tajam Daniel dengan berbagai prasangka di dalam kepalanya.


"Nak, nenek harus berbicara sama Papa kamu dulu ya. Kamu tunggu sebentar di sini, ya." Suara mami Luci langsung berubah ketika berbicara pada Ares, wanita itu bahkan masih bisa tersenyum lembut pada anak itu.


"Papa pergi sebentar, kamu tunggu di sini ya, sayang," ujar Daniel sambil menyusul mami Luci yang sudah pergi lebih dulu dengan kursi rodanya.


'Kayaknya mami salah paham nih. Duh ribet deh urusan,' gumam Danil dalam hati.


"Daniel, ini sama sekali gak lucu ya. Anak siapa itu yang kamu bawa, hah? Kenapa dia panggil kamu Papa? Apa jangan-jangan selama ini kamu berhubungan dengan wanita lain selain Livia? Siapa ibunya? Jangan bilang itu adalah hasil dari tebar benih sembarangan?" Mami Luci langsung menghujani Daniel dengan berbagai pertananyaan.


Daniel hanya bisa menghela napas berat ketika mendengar semua tuduhan dan prasangka Mami Luci padanya. Dia kemudian memilih berjongkok di depan wanita yang telah melahirkannya itu, lalu mengambil kedua tangan Mami Luci dan menciumnya dengan penuh kelembutan.


Namun, mami Luci yang masih salah paham pada Daniel malah berdecak kesal sambil menatap wajah Daniel tajam. "Gak usah ngeranyu, mami gak akan luluh sama sikap kamu yang seperti ini. Kali ini sikap kamu sudah keterlaluan, Daniel. Kamu bear-benar membuat Mami kecewa."


"Harusnya kamu bilang saja jika ada wanita lain yang kamu sukai di luar sana. Bukannya selama ini mami juga sudah menyuruh kamu untuk move on? Kenapa sekarang kamu malah membawa anak yang sudah besar seperti itu, heh?"


Air mata mami Luci tampak sudah tak dapat dia bendung lagi, wanita itu menangis dengan rasa kecewa pada anak sulunya.


"Mami, dengerin penjelasan aku dulu, ya. Ini semua gak seperti apa yang Mami pikirkan," ujar Daniel sambil menghapus air mata di pipi mami Luci.


"Terus kenapa? Gimana bisa kamu dipanggil papah sama anak itu, heh?" kesal Mami Luci, sambil menatap wajah bersalah Daniel dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.


"Mami--" Daniel tampak makin merasa bersalah karena sudah membuat ibunya menangis, tetapi ini semua juga di luar kendalinya. Dia tidak pernah tahu jika Livia akan mendatanginya dan mempertemukannya dengan sang anak setelah sekian lama.

__ADS_1


Daniel tampak menundukkan kepala sambil berkata dengan nada pelan. "Ares itu anak Livia--"


"A--apa?!"


__ADS_2