Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.86 Perangkap


__ADS_3

Melihat Livia ke luar, satu per satu orang yang berada di mobil itu pun akhirnya ke luar. Livia menyeringai tipis ketika melihat jika ternyata jumlah mereka lumayan banyak. Isi dari satu mobil van berkisar tujuh hingga delapan orang, hingga jika dihituh sekarang ini ada lebih dari tiga puluh orang yang siap bertarung melawan dirinya, Daniel, dan Max.


Untung saja, tadi dia tidak terburu-buru dan menantang mereka sendirian. Jika itu benar terjadi, sepetinya dia tidak yakin dapat melindungi Ares, bahkan dirinya sendiri.


"Bukannya kamu ada di luar kota?" tanya Livia begitu dia berdiri di samping Daniel.


"Aku ke luar kota bersama Max, kami sedang perjalanan pulang waktu dia mendapatkan pesan dari kakakmu," jawan Daniel sambil sedikit melirik Livia.


Livia mengangguk, ketika mendengar penjelasan Daniel. Kini, dia memilih untuk kembali fokus pada orang-orang yang menyerangnya itu. Ada seorang laki-laki muda yang tampak berdiri paling depan dengan wajah yang sangat mirip dengan Julio. Livia dan Daniel tampak saling pandang ketika melihat itu.


"Julio?" gumam Daniel sambil menatap Livia penuh tanya. Daniel memang tak tahu bagaiamana nasib Julio dan ibunya, setelah mereka berdua memilih untuk menjual semua aset yang dia berikan dulu kemudian menghilang begitu saja.


"Bukan, dia bukan Julio," jawab Livia yang meyakini jika itu bukanlah orang yang sama. Agra tidak pernah salah atau melakukan kesalahan saat menghukum seseorang, apa lagi dia juga tahu jika dua orang itu kini dalam penjagaan ketat anak buah Agra.


"Tapi--" Ucapan Daniel terhenti ketika Max menyela.


"Julio ada dalam pengawasn kami dan dia tidak dalam keadaan untuk kabur."


Daniel terdiam sambil kembali menatap ke depan, melihat orang yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Julio. Pikirannya kini terasa buntu dengan apa yang terjadi, tetapi satu yang dia yakini. Entah itu Julio atau bukan, sepertinya mereka sama-sama mau membalas dendam padanya lewat Livia dan Ares. Sasaran mereka sesungguhnya bukanlah Livia dan Ares, melainkan dirinya.


Perlahan laki-laki yang mirip dengan Julio itu melangkah hingga kini berada di tengah-tengah antara Livia dan anak buahnya. Dia tampak tersenyum mengejek ketika melihat Daniel dan Livia yang tampak sedang berdiri berdampingan.


"Wah, ternyata sekarang kalian sudah berkumpul? Bagus, berati aku tidak usah repot-repot lagi mengabarimu, Tuan Daniel yang terhormat!" ujar laki-laki itu dengan gaya santai dan sedikit meremehkan.


Daniel hendak maju dan membalas ucapan laki-laki itu, tetapi Max mencegahnya, dia tampak berdecih sambil membawa kakinya untuk maju, mendekati laki-laki itu sebagai perwakilan Daniel dan Livia.


"Sebenanya bukan kami yang masuk ke perangkapmu. Tapi, kalian yang masuk ke dalam perangkap kami tanpa kalian sadari," jawab Max sambil menyeringai.


Laki-laki itu tampak melebarkan matanya ketika mendengar ucapan Max, tetapi sedetik kemudian dia berhasil mengendalikan dirinya dan kembali bersikap angkuh.

__ADS_1


"Tidak usah banyak omong. Lihat saja, kalian hanya tiga orang, sedangkan kami ... bahkan anak kecil saja tahu jika kalian akan kalah, hahaha!" Laki-laki itu tampak berbicara congkak.


Livia tampak bertepuk tangan pelan sambil melangkahkan kakinya menghampiri Max diikuti oleh Daniel.


"Percaya diri sekali, Anda, bahkan sebelum kalian tahu apa yang sedang kami persiapkan," ujar Livia sambil berdiri di samping Max kemudian disusul Daniel yang juga berdiri di samping Livia.


Melihat itu, anak buah laki-laki itu pun ikut maju, hingga kini jarak diantara mereka semakin dekat. Tatapan para laki-laki itu pun terlihat sangat meremhkan pada Livia, Daniel, dan Max. Apa lagi lebih dari sebagian mereka membawa senjata tumpul maupun tajam, hingga membuat mereka semakin yakin akan mendapatkan kemenangan.


"Kalian benar-benar sombong! Sudah mau mati pun masih saja berbicara besar!" balas laki-laki itu sambil terkekeh ringan.


"Oh ya? Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita buktikan sekarang?" tanya Max, sambil menatap Livia dan Daniel bergantian, seolah memberikan sinyal.


Livia dan Daniel yang mendengar itu pun ikut memasang kuda-kuda dan bersiap menerima serangan.


"Baik. jika itu mau kalian. Ayo serang mereka!" teriaknya yang langsung membuat para anak buahnya bereaksi lalu menyerang Livia, Daniel, dan Max secara berutal.


Perhatian Livia sedikit teralihkan oleh semua itu, hingga beberapa tendangan dan pukulan berhasil mengenainya. Livia mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang terasa berdenyut, satu tangannya bersiap untuk mengambil senjata api di pinggangnya.


Namun, semua itu urung dia lakukan ketika tiba-tiba Edo datang entah dari mana dan langsung menendang keras perut laki-laki itu, hingga akhirnya jatuh terjengkang ke belakang. Melihat itu, Livia pun kembali fokus pada pertarungannya, ditambah lagi kini banyak anak buah Agra yang mulai berdatangan dan bergabung, hingga membuat lawan mereka semakin berkurang.


Sementara itu, Agra tampak memilih untuk lebih dulu mengamankan Ares, dia membawa anak itu ke mobilnya dan menugaskan anak buahnya untuk membawa Ares menjauh dari tempat itu. Setelah Ares dia rasa aman, Agra pun menghampiri Livia, Daniel, Max, Edo, dan para anak buahnya yang sedang bertarung. Namun, baru saja dia hendak bergabung, ternyata semuanya sudah berhasil dilumpuhkan.


Agra tersenyum tipis sambil bertepuk tangan bangga pada semua anak buahnya. "Kalian semua memang tidak pernah mengecewakanku," ujarnya begitu dia sampai di depan Edo yang tengah mencekal laki-laki mirip Julio itu.


Laki-laki itu tampak menatap Livia, dengan salah satu kaki terhenti di atas tangan musuhnya yang tengah berlutut dan tak berdaya.


"Ah, ternyata enam tahun lalu, aku melewatkan sesuatu," ujarnya sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap wajah yang mirip Julio itu.


"Ternyata, Julio memiliki kembaran yang sengaja disembunyikan oleh Murti dan sedang dipenjara akibat mengedarkan nark*ba .... Dia adalah, Juna, saudara kembar Julio," sambungnya lagi sambil kembali mengalihkan pandangannya ke depan, melihat Livia dan Daniel bergantian.

__ADS_1


"Kembar?" gumam Daniel yang bahkan baru tahu hal itu.


"Ya. Mereka kembar," angguk Agra sambil mengangguk samar.


"Jadi, mau kita apakan mereka, Livia?" tanya Agra lagi.


Walaupun dia begitu marah pada Juna karena berani membahayakan adik dan keponakannya, tetapi Agra masih bisa menahannya dan menghargai keberadaan Livia dan Daniel di sana. Bagaimanapun, masalah ini menyangkut Livia dan Daniel, sementara dirinya hanya membantu.


Daniel baru saja hendak membuka mulut ketika Livia tiba-tiba menyela sambil melangkah ke depan menghampiri Agra.


"Terserah Anda saja, Tuan. Aku percaya pada Anda," jawab Livia sambil melewati Juna dan dengan sengaja menendangnya hingga kini ambruk ke samping tanpa perlawanan.


Livia kemudian membuka pintu mobil sambil berteriak kembali. "Aku akan menyusul anakku!" Setelah mengatak itu, Livia langsung masuk dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Agra hanya tersenyum tipis melihat sikap Livia yang masih saja seperti biasanya. Dia kemudian melihat pada Edo yang kini berada di depannya.


"Bawa mereka semua ke markas, kamu lebih tau apa yang pantas mereka dapatkan. Berikan juga mereka semua bonus, untuk merayakan kemenangan ini," titahnya kemudian memilih berbalik begitu saja.


"Kamu tidak mau menemui Livia dan anakmu?" tanya Agra melirik Daniel yang tampak masih linglung.


Ini adalah pertarungan secara langsung dan besar pertamanya, hingga membuatnya masih terasa seperti di alam mimpi. Daniel juga terkejut dengan keahlian para anak buah Agra yang bahkan langsung bisa mengalahkan para penyerang hanya dengan beberapa gerakan saja.


"Akh, iya," angguk Daniel.


"Ikut aku," ajak Agra sambil mulai kembali melangkahkan kakinya menuju mobil diikuti Daniel di belakangnya. Keduanya pergi begitu saja dari area pertarungan, sementara Edo dan Max akan menyelesaikan semuanya bersama para anggota lainnya.



Bonus, foto Daniel habis berantem😍

__ADS_1


__ADS_2