Dendam Dalam Pernikahan

Dendam Dalam Pernikahan
Bab.88 Move on


__ADS_3

Setelah melakukan respsi pernikahan mereka, keduanya kini tampak sudah kembali ke kamar. Livia tampak sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias, sementara Daniel sedang membersihkan diri.


Suara pintu terbuka membuat Livia mengalihkan perhatiannya pada sumber suara. Dia melihat Daniel yang kini tampak sedang berjalan ke luar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sebatas pinggang, sementara tangannya sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Livia sempat terpaku ketika matanya melihat tubuh Daniel yang tampak begitu sempurna. Tetes air yang masih terliha mentes dari ujung rambutnya, membuat kulit laki-laki itu semakin berkilau dan semakin memperjelas otot yang menonjol ketika terkena cahaya. Tanpa sadar Livia sampai menelan salivanya, saking terpesonanya.


Daniel tampak tersenyum ketika melihat Livia yang terus memperhatikannya, dia melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. Daniel menghentikan langkahnya ketika jarak diantara mereka semakin terkikis.


"Awas air liurmu menetes." Daniel berujar sambil sedikit menundukkan tubuhnya hingga kini bibirnya berada tepat di depan telinga Livia.


Livia terjingkat kaget ketika mendengar suara Daniel yang begitu dekat dengan telinganya. Bulu kuduknya bahkan sampai berdiri ketika napas hangat Daniel terasa menyapu telinga hingga ke pipinya.


Wanita itu langsung membuang muka dengan wajah yang memerah menahan malu, karena terpergok tengah memperhatikan tubuh Daniel.


Daniel terkekeh pelan, dia kemudian beranjak ke belakang Livia dan memeluk tubuh wanita itu, gemas.


"Hayo ngaku, mikir apa kamu tadi, hem?" tanya Daniel masih dengan kekehannya. Dia sengaja menempelkan pipinya dengan pipi Livia agar wanita itu semakin salah tingkah.


"A--apa sih. A--aku gak mikir apa-apa, kok," jawab Livia sambil semakin menolehkan wajahnya menjauh dari pipi Daniel.


Namun, semua itu sama sekali tak berguna, karena kemana pun Livia berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona, Daniel masih tetap bisa melihatnya dengan jelas dari pantulan cermin di depan mereka.


"Beneran?" tanya Daniel sambil mencium pipi Livia yang masih tampak memerah.


"I--iya," angguk Livia dengan mata melebar saat merasakan bibir Daniel menempel di pipinya.


"Tapi wajah kamu merah. Apa kamu sakit?" tanya Daniel lagi sambil terus mencium pipi Livia berulang kali.


"E--enggak," geleng Liva dengan jantung yang semakin berdebar tak menentu.

__ADS_1


"Kamu yakin gak sakit, hem?" tanya Daniel lagi sambil menumpukan dagunya di bahu Livia lalu melihat wajah istrinya dari pantulan cermin.


"Iya. Ish ...." Livia berdecih kesal saat Daniel terus menggodanya. Laki-laki itu tidak tahu, bagaiman Livia berusaha keras untuk menahan debar jantungnya bahkan hanya saat dirinya melihat Daniel tersenyum.


Daniel masih saja tersenyum, laki-laki itu bahkan belum mengenakkan bajunya ketika dia berpindah ke depan Livia kemudian berlutut di sana. Daniel kemudian mengambil tangan Livia dan mengecupnya pelan.


"Terima kasih, sayang. Karena kamu sudah mau menerimaku lagi menjadi suami kamu," ujarnya sambil mendongakkan kepala untuk menatap wajah Livia.


Wanita itu tampak menundukkan kepalanya demi melihat wajah tampan suaminya. Tanpa terasa air mata sudah membendung di pelupuk, ketika dia mendengar perkataan Daniel yang begitu menyentuh jauh ke dalam relung hatinya.


Bukan, bukan Daniel yang harusnya berterima kasih padanya. Namun, dirinya. Harusnya dia yang meminta maaf pada Daniel, karena memutuskan untuk pergi meningalkannya, bahkan tak memberitahu Daniel tentang kehadiran Ares di dalam kehidupan mereka. Dia juga yang harusnya berterima kasih, karena Daniel memberikannya kesempatan kedua untuk membina rumahtangga dengan laki-laki itu lagi dan memberikan kepercayaan atas kehadiran Ares yang bahkan tidak Daniel tahu sebelumnya.


"Maaf," gumam Livia dengan satu tetes air mata yang berhasil lolos dan membasahi pipinya.


"Tidak. Kamu tidak perlu meminta maaf, sayang. Kamu tidak salah apa pun," jawab Daniel sambil menghapus air mata Livia yang membasahi pipinya.


Perlahan Daniel mengangkat dagu Livia hingga wajah keduanya berada sejajar. "Mulai saat ini, tidak ada pembahasan lagi tentang masa lalu. Kita tingalkan semuanya dan jadikan itu sebagai pelajaran saja."


"Mulai saat ini, kita hanya akan fokus pada masa depan. Jangan lagi ingat masa lalu, biarkan mereka berlalu dan hanya ada dalam hati kita berdua saja," ujarnya lagi.


Livia mengangguk. "Terima kasih," gumamnya pelan.


Daniel tersenyum mendapati Livia yang menyetujui perkataannya. Perhatiannya kini mulai beralih pada bibir merah muda Livia yang tampak menggoda.


Perlahan laki-laki itu mulai mendekatkan bibir keduanya, seiring dengan mata Livia yang menutup, begitu juga dengah matanya. Jarak bibir keduanya pun semakin terkikis hingga akhirnya menyatu. Pelan dan membuai. Saling menikmati kehangat yang begitu mereka rindukan setelah sekian lama terpisahkan.


Semakin lama, keduanya semakin tehanyut dalam keadaan intensitas itu pun semakin cepat, dengan gelora yang mulai mewarnai semua pergerakan tubuh sepasang pengantin baru itu.


Daniel baru melepaskan tautan bibir mereka setelah keduanya terasa sudah kehabisan napas. Laki-laki itu tampak menyatukan kening mereka dengan mata kembal saling menatap. Sorot mata keduanya tampak sudah dihiasi kilat hasrat. Napas keduanya pun tampak memburu dan menyatu.

__ADS_1


"Bolehkah kita lanjutkan?" tanya Daniel ketika dia merasa napas Livia sudah mulai teratur.


Livia menutup matanya, merasakan debar jantung yang bertalu seolah ada drum yang terus di pukul di dalam dadanya hingga suara terasa mengema. Perlahan wanita itu menganggukkan kepalanya dengan menahan rasa malunya.


Daniel tersenyum saat melihat jawaban Livia. Tanpa aba-aba, laki-laki itu kembali ******* bibir merah muda istrinya. Terasa lembut dan kenyal. Manis, bagaikan sebuah permen jely. Tidak. Ini bahkan lebih manis dan lembut dari sebuah permen. Ini terasa ... memabukkan. Daniel, semakin menikmatinya, dia bahkan hampir lupa diri hingga tanpa sengaja mengigit bibir Livia.


"Emph." Livia menepuk dada Daniel, ketika laki-laki itu berhasil melukai bibinya.


"Maaf, sayang," ujar Daniel setelah dia melepaskan tautan bibir keduanya.


Daniel beranjak berdiri kemudian langsung membawa tubuh Livia ala bridal style. Dia kecup kembali bibir itu yang tampak sudah memerah dan sedikit bengkak karena ulahnya.


Daniel merebahkan Livia di atas ranjang bertabur kelopak bungan mawar merah itu, dengan sangat hati-hati. Dia kembali menuatkan bibir mereka dan menggerakkannya dengan sangat lembut.


Tangan Daniel kini mulai bergerak menarik tali kimono tidur yang Livia gunakan, hingga memudahkannya untuk membuka kain berwarna merah darah yang menutupi tubu Livia dari penglihatannya.


Setelah mendapatkan akses, perlahan jari jemari itu mulai menyelinap masuk dan mencari barang berharga di dalamnya, hingga pencariannya terhenti ketika dia merasakan sesutu yang begitu menarik. Tangan nakal itu tanpa permisi mulai meremas dan memainkan sesuatu yang begitu lembut di sana.


Daniel melakukan semuanya bahkan tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Suasana kamar pun kini mulai berubah semakin panas, seiring semakin naik juga hasrat dari keduanya. Suara Livia ketika terkejut yang diiringi dengan gelanyar aneh yang terasa seolah menyengat seluruh tubuhnya pun harus tertahan oleh bibir Daniel.


Daniel tersenyum, dia lepaskan tautan bibir keduanya kemudian terdiam sebentar demi melihat mata indah itu terbuka kemudian melihatnya yang sudah hampir dikuasai oleh gelora asmara.


"Aku suka suaramu, jangan ditahan ya, sayang," ujarnya sambil tersenyum pelan kemudian kembali mengecup bibir manis wanitanya.


Daniel pun melanjutkan penjelajahannya, mencari barang berharga. Kini dia tak hanya menggunakan tangan, tetapi bibirnya pun ikut andil dalam mencari sesutu yang akan membawa Livia merasakan yang namanya surga dunia.


...❀️‍πŸ”₯❀️‍πŸ”₯❀️‍πŸ”₯...


'Apa yang terjadi selanjutnya? Ah, kalian intip aja sendiri ya, aku takut bintitan ini ngintip Daniel sama Livia malam pertama. Hahaha!πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1



Bonus, biar kalian makin lancar ngintipin Livia dan DanielπŸ€­πŸ™ˆ


__ADS_2