
"Kak, semua rencana kita kacau, sebagian besar investor menarik semua investasinya, kita terancam kehilangan proyek besar," ujar Danis dengan wajah panik dan napas memburu. Dia baru saja berlari dari ruangannya hanya demi melaporkan langsung kekacauan yang terjadi di perusahaan kepada Daniel.
"Apa maksudmu, Danis?" tanya Daniel dengan tangan mengepal, dia mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya dan kini tampak menatap penuh adik sekaligus asisten pribadinya.
"I--itu ini semua karena--" Danis berucap terbata karena terlalu gugup. Sungguh saat ini dirinya takut untuk mengungkapkan apa yang menjadi akar masalah.
"Karena apa, Danis?!" tekan Daniel tak sabaran. Dia sudah mempersiapkan sejak lama untuk mendapatkan proyek besar itu, mulai dari investor dan segala hal yang berkaitan dengan semua itu. Namun, kini semua itu nyaris gagal? Dadanya tiba-tiba terasa panas, hanya dengan membayangkannya, apa lagi jika semuanya benar-benar terjadi.
"Karena Julio--"
Brak!
Perkataan Danis terhenti karena suara gebrakan di meja yang sangat kencang hingga memekakan telinga. Danis refleks langsung menutup mulut dan matanya rapat, dengan jantung yang terasa bertalu. Dia yakin jika sebentar lagi kakaknya itu akan mengamuk karena ulah Julio.
"Aku sudah tau, dia memang memiliki rencana busuk di perusahaanku!" geram Daniel dengan wajah merah dan mata menyorot tajam. Tubuhnya seketika berdiri hingga membuat berkas di mejanya jatuh tak beraturan.
"Pecat semua orang yang bersekongkol dengannya, termasuk anak buahnya!" sambung Daniel lagi dengan wajah penuh amarah.
"Baik, Kak!" angguk Danis kemudian pamit untuk kembali ke ruangannya.
...❤️🔥...
"Sepertinya Julio sudah mulai beraksi di perusahaan," ujar Agra dari sambungan telepon.
Livia terdiam untuk sesaat entah apa yang dia pikirkan hingga kerutan di keningnya terlihat cukup dalam.
"Baguslah, berarti rencana kita berjalan lancar," jawab Livia dengan tatapan yang terlihat rumit hingga sulit untuk diartikan.
"Kamu yakin akan melakukan semua ini?" tanya Agra seolah meragukan niat Livia untuk balas dendam.
__ADS_1
Livia mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya tampak bertaut. "Kamu meragukanku?!"
Agra menghembuskan napas pelan ketika mendengar pertanyaan Livia yang terdengar tidak terlalu bersahabat. "Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan bantu dari sini," ujarnya kemudian dengan nada pasrah. Agra hanya takut jika nanti Livia menyesal setelah rencana balas dendam ini berhasil.
"Thank's, Brother," jawab Livia.
...❤️🔥...
Daniel datang ke rumah dengan wajah memerah, dia langsung menuju ke kamar kakek Banu, bahkan membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Hatinya terasa sangat panas seolah sedang terbakar ketika sudah mengetahui semua ulang yang diperbuat olah Julio. Namun sayang, langkahnya terhenti ketika Karlo lebih dulu mencegahnya dan menutup kembali pintu.
"Kamu puas sekarang? Ini yang kamu mau dengan terus menuruti keinginan tuanmu itu, heh?" tanya Daniel begitu dia berdiri di depan Karlo yang sejak tadi berdiri di depan kamar kakek Banu.
"Tuan muda, sebaiknya Anda jangan menemui tuan besar dalam keadaan seperti ini." Karlo tetap menghalangi Daniel untuk masuk dan bertemu dengan kakek Banu.
"Kenapa? Apa aku bahkan tidak bisa berbicara dengan kakekku sendiri sekarang? Setelah semua yang dia lakukan padaku, hah?! Kamu masih berani menahanku Karlo?!" sentak Daniel dengan mata memerah dan urat leher yang terlihat tegang.
Bugh!
Perkataan Karlo tak bisa lagi dilanjutkan ketika tanpa aba-aba Daniel lebih dulu melayangkan tinjunya pada wajah laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Sungguh, sekarang Daniel bukan dalam mode untuk bisa diajak berbicara. Daniel sedang dikuasi oleh emosi dan amarahnya
Setelah melihat Karlo terhuyung hingga hampir saja jatuh karena pukulannya, Daniel segera berjalan dan membuka pintu kamar kakek Banu tanpa mengetuk lebih dulu.
"Kakek, puas sekarang? Lihat, karena kakek membiarkan Julio bekerja di kantor pusat, dia mengacau dan membuat hampir semua investor menarik kembali investasinya di perusahaan kita!" ujar Daniel dengan nada suara menekan, walau kini suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Dia jelas melihat jika sekarang kakeknya sedang duduk di sebuah kursi goyang menghadap ke jendela dengan tatapan menerawang jauh ke luar.
"Tuan muda!" Karlo kembali menyusul Daniel dan mencoba menenangkannya. Namun, usahanya sia-sia, Daniel ternyata sama sekali tidak melihatnya.
Kakek Banu turun dari kursi goyangnya kemudian berbalik, lalu dia menatap Daniel dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Wajah yang dipenuhi keriput pun tampak menampilkan raut datar. Melihat keributan yang dibuat oleh asisten pribadi dan cucunya, dia pun mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan Karlo, kemudian berkata dengan nada dingin dan menekan. "Biarkan saja. Karlo, kamu ke luar saja, aku mau bicara berdua dengan cucuku.
__ADS_1
Mendengar ucapan kakek Banu, Daniel dan Karlo pun menghentikan perdebatan mereka, keduanya refleks mundur satu langkah dengan mata yang saling memandang penuh kewaspadaan. Sedetik kemudian, Karlo berbalik menatap kakek Banu lalu membungkuk samar sambil berucap. "Saya permisi, Tuan besar."
Setelah mendapatkan anggukan dari kakek Banu, Karlo pun berjalan mundur sambil melirik Daniel sekali lagi. Ada rasa khawatir di dalam dirinya, ketika harus meninggalkan kedua laki-laki yang sama keras kepala itu berdua saat Daniel sedang emosi. Namun, kembali lagi, karena ini adalah perintah dari kakek Banu, maka Karlo tidak bisa lagi membantah.
Setelah melihat Karlo menutup pintu kamar dengan rapat, kakek Banu pun kini beralih menatap wajah cucunya yang tampak memerah karena menahan marah.
"Ada apa?" tanyanya seolah tidak tahu dengan maksud kedatangan Daniel.
"Apa sebenarnya mau kakek? Kenapa sekarang Kakek mau menerima Julio dan memberikan posisi di kantorku?" tanya Daniel, berusaha mengatur emosinya.
Kakek Banu mengangguk samar setelah mendengar pertanyaan Daniel, dia bisa melihat dengan jelas jika kedua tangan Daniel terkepal kuat untuk menyalurkan emosi yang cucunya itu tahan. Ada garis senyum tipis yang terlihat di kedua sudut bibirnya sebelum mulai membuka suara untuk menjawab. "Dia juga cucuku, sama seperti kamu, Daniel."
Daniel tersenyum sinis sambil berdecak lirih dan membuang muka. "Alasan!" geramnya tak percaya.
"Apa Kakek sudah lupa, semua yang wanita itu lakukan pada Papah dan Mami? Apa kakek juga lupa bagaimana perusahaan yang Papah berikan habis karena mereka suka foya-foya? Sekarang kakek malah menerimanya dan memberikan posisi di perusahaanku? Cih!" Daniel menatap kakek Banu penuh kecewa. Dia sama sekali tidak suka dengan Murti dan Julio, mereka itu serakah dan tidak tahu kata terima kasih, sukanya merongrong dan tak pernah merasa puas.
"Tapi sekarang mereka sudah berubah, Daniel!"
"Alah, omong kosong! Mereka hanya pura-pura, Kakek!" Daniel langsung menyela setelah kakek Banu selesai bicara. Mungkin? Dia kemudian mengusap wajahnya dengan gerakan kasar sambil mendengus kesal.
"Kakek tau sekarang apa yang dia lakukan di perusahaanku? Perusahaan yang selama bertahun-tahun ini aku perjuangkan dan kembangkan sendiri!" tanya Daniel lagi dengan penekanan di setiap kata yang ke luar dari mulutnya. Salah satu tangannya menunjuk ke pintu ke luar seolah sedang menunjuk Julio.
"Dia membuat para investor menarik kembali investasinya, Kek! Dia membuat perusahaan tidak bisa mengajukan kerja sama dengan proyek besar yang sudah sejak lama aku persiapkan!" sentak Daniel yang sudah dikuasai oleh emosi, dia mengacak rambutnya dengan rasa panas dan sesak di dalam dada. Sungguh, saat ini Daniel hanya ingin mengadu dan memperlihatkan semua rasa kecewanya pada sang kakek, walau mungkin caranya salah.
Daniel kembali menatap kakeknya, setelah keduanya terdiam cukup lama, tatapan yang penuh dengan luka, hingga membuat tubuh kakek Banu terlihat membeku ketika melihat satu tetes air mata ke luar dari mata Daniel ketika dia hendak berbalik dan melangkah lebar ke luar dari kamar kakeknya.
Setelah semua itu, Daniel tidak mendapatkan apa yang dia harapkan, di sini hanya ada keheningan dan kehampaan yang malah membaut hatinya terasa lebih sesak.
Setidaknya jangan membuatku terus bertanggung jawab atas semua kesalahan yang papah perbuat, Kek. Karena aku bukan Papah.
__ADS_1